Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Greysia Polii dan Api Mimpi yang Tak Pernah Mati

Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Minggu, 12 Jun 2022 19:00 WIB
Greysia Polii pernah mendekap erat mimpinya di dunia badminton namun ia juga nyaris memadamkan mimpi itu sebelum akhirnya memutuskan terus berjuang.
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia --

Menyulut mimpi itu mudah, namun mempertahankan mimpi tetap menyala adalah hal yang paling susah.

Setiap orang di dunia ini punya mimpi masing-masing. Ada mimpi yang bisa terus dipegang oleh keyakinan yang tak mengering, ada mimpi yang bahkan kemudian terasa asing.

Greysia Polii sebagai manusia punya mimpi menjadikan badminton sebagai jalan hidup yang ia pilih. Greysia ingin jadi juara dan menuai sukses di olahraga yang dari generasi ke generasi telah mengharumkan nama Indonesia.

Untuk mereka yang memilih atlet sebagai jalan hidup, kematangan pikiran memang dituntut untuk lahir dan hadir lebih cepat.

Karena itulah, ketika Greysia serius ingin jadi pemain badminton, banyak pengorbanan yang sudah harus dia lakukan. Jauh dari orang tua dan sudah menjalani masa anak-anak dengan vonis 'menang' dan 'kalah' adalah hal-hal yang Greysia harus telan sepanjang perjalanan.

Arena olahraga yang dipilih jadi jalan mimpi Greysia Polii jelas bukan arena yang mudah. Podium juara hanya untuk satu orang atau satu pasang saja, sedangkan pemain-pemain lainnya harus menerima label bernama gagal juara.

Sebagai pemain, Greysia pun tak selalu mendekap erat mimpinya. Ada momen ketika mimpi-mimpinya membuat hidup Greysia menjadi sangat berat.

Mimpi adalah hal yang bisa memotivasi, tetapi mimpi juga bisa jadi penghancur diri.

Indonesia's Apriyani Rahayu (L) and Greysia Polii (R) compete against South Korea's Lee So Hee and Shin Seung Chan during the women's doubles final macth at the French Open Badminton tournament at the Coubertin Stadium in Paris on October 29, 2017. (Photo by THOMAS SAMSON / AFP)Greysia Polii sempat ingin pensiun dari dunia badminton selepas Olimpiade 2012. (AFP/THOMAS SAMSON)

Kartu hitam dan diskualifikasi untuk Greysia Polii di Olimpiade 2012 adalah momen ketika Greysia ingin melupakan mimpinya. Ia ingin pergi jauh-jauh dari badminton dan melupakannya.

Nyala api mimpi Greysia saat itu sudah mengecil, nyaris padam, sampai akhirnya Greysia memutuskan berjuang menjaganya.

Greysia memulai ulang kariernya dari awal, bahkan dari titik minus.

Diskualifikasi dari Olimpiade benar-benar mencoreng namanya. Bulan-bulan hingga tahun awal menjadi momen yang tak mudah untuk dilalui oleh Greysia.

Butuh lebih dari sekadar mental baja untuk bisa berdiri kembali di lapangan dengan kenangan orang-orang masih terpaku pada peristiwa kelam di Olimpiade 2012 silam.

Greysia lalu mencobanya. Masa lalu tidak lagi bisa diubah tetapi masa depan masih bisa dirancang agar jadi indah.

Tahun demi tahun berlalu, Greysia Polii, baik bersama Nitya Krishinda Maheswari dan Apriyani Rahayu, berjuang keras di lapangan demi mengumpulkan kemenangan demi kemenangan.

Sampai akhirnya Greysia Polii bisa berdiri di titik saat ini. Pada titik ketika ia jadi pebulutangkis putri pertama yang punya medali emas lengkap di seluruh multi event.

Sejak masuk pelatnas Cipayung 2003, sembilan tahun awal adalah momen ketika Greysia Polii berjuang mendekap mimpi dan kemudian dibenturkan kenyataan pahit yang lebih sakit dari sekadar kekalahan.

Namun saat Greysia memutuskan tetap bertahan menjaga mimpi, sembilan tahun akhir dalam kariernya justru berisi kenangan-kenangan indah yang tak bakal terlupakan.

Kemenangan-kemenangan usai Olimpiade London 2012 tentu tidak akan hadir bila Greysia memutuskan menganggap mimpinya di dunia badminton telah berakhir.

Satu hal yang tak kalah penting, ketika Greysia memutuskan menjaga api mimpi tetap menyala, bukan hanya mimpi miliknya saja yang menjadi nyata.

Greysia juga sukses menunjukkan jalan terang untuk nomor ganda putri yang selama ini selalu dianggap sebagai nomor kesekian di Indonesia.

Sejak badminton dipertandingkan di Olimpiade 1992, nomor ganda putri sempat jadi satu-satunya nomor yang tak pernah menyumbang medali. Jangankan medali emas, untuk perak dan perunggu pun atlet-atlet ganda putri Indonesia tak kuasa menahan dominasi China, Korea Selatan, lalu menyusul Jepang.

Indonesia's Greysia Polii celebrates winning with Indonesia's Apriyani Rahayu in their women's doubles badminton semi-final match against South Korea's Shin Seung-chan and South Korea's Lee So-hee during the Tokyo 2020 Olympic Games at the Musashino Forest Sports Plaza in Tokyo on July 31, 2021. (Photo by Pedro PARDO / AFP)Greysia Polii mengakhiri kariernya dengan memenangkan medali emas seluruh multi event. (AFP/PEDRO PARDO)

Dengan Greysia, bersama Apriyani memenangkan emas Olimpiade, mereka menunjukkan ganda putri Indonesia juga bisa berdiri di podium kemenangan. Sukses Greysia dalam kariernya juga berarti ganda putri Indonesia bukan sekadar nomor pelengkap yang tak pernah jadi prioritas sekaligus harapan untuk diandalkan.

Tahun-tahun terakhir Greysia Polii di pelatnas Cipayung juga ia habiskan dengan ikut mematangkan pemain-pemain muda. Greysia berusaha keras untuk bisa jadi senior yang bisa dibanggakan, baik di hari-hari latihan maupun pertandingan.

Banner Testimoni

Kini, Greysia Polii telah sampai di ujung perjalanan. Banyak kenangan dan kemenangan yang telah ia persembahkan.

Greysia Polii,

Terima kasih sudah berjuang. Terima kasih sudah menunjukkan jalan.

(ptr/har)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER