Man United melawan Southampton pada akhir pekan ini. (AP/Dave Thompson)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perjalanan Manchester United pada musim ini menarik di simak. Setelah menang atas Liverpool, 2-1, mau buat kejutan apa lagi MU?
Sebagai salah satu klub besar Liga Inggris, terutama berstatus pemegang gelar terbanyak, Man United layak jadi sorotan setiap musim.
Termasuk pada musim dengan hadirnya Erik ten Hag. Ten Hag dan pelatih-pelatih sebelumnya mendapat perhatian yang sama dari banyak pihak. Tuntutannya pun kembali berjaya seperti era Sir Alex Ferguson.
Dengan bursa transfer yang tersisa kurang dari dua pekan ini, kejutan-kejutan lain masih bisa dibuat Man Utd.
Mendatangkan Frenkie de Jong, Antony, dan Cody Gakpo bisa jadi bagian dari kejutan tersebut. Atau kembali tumbang saat melawan Southampton pada laga berikutnya, Sabtu (27/8).
Suka tidak suka, pergerakan transfer Man United dan Erik ten Hag pada musim ini yang sulit ditebak jadi salah satu penyebab kejutan-kejutan sejauh ini.
Ten Hag sangat ingin pemain-pemain yang dianggapnya cocok dengan permainan dia. Karena itu juga pelapis untuk Frenkie de Jong yang dibidik selama lebih dari dua bulan dan juga Antony untuk lini depan tidak kunjung datang.
Ketika dianggap bagus selama pramusim, Setan Merah tiba-tiba limbung dan terpuruk dengan dua kekalahan dari Brighton and Hove Albion (1-2) dan Brentford (0-4).
MU dipermalukan Brentford pada pekan kedua. (REUTERS/DAVID KLEIN)
Di atas kertas, materi pemain MU saat ini semestinya bisa menang atas Brighton dan Brentford dengan margin dua gol atau lebih. Ditambah lagi mereka memiliki rapor penampilan yang memukau selama pramusim di Thailand dan Australia.
Memang hanya pramusim, tetapi dengan sosok baru Erik ten Hag dan buruknya musim lalu sebagai cerminan, hasil uji coba sebelum kompetisi dimulai layak diapresiasi tinggi.
Dua kekalahan itu adalah kejutan yang sesungguhnya dari MU pada awal musim ini. Terutama ketika dibantai Brentford dengan berondongan empat gol hanya dalam 25 menit.
Setelah kalah dari Brighton dan Brentford, sejumlah pihak seperti memvonis MU akan menelan kekalahan ketiga dari Liverpool.
Nyatanya bertolak belakang. Penampilan Man United yang buruk pada dua laga sebelumnya seperti berputar 180 derajat.
Ten Hag tahu cara memaksimalkan kualitas pemainnya dan juga kelemahan Liverpool. Bruno Fernandes dan kawan-kawan juga paham bagaimana mengikuti instruksi Ten Hag.
Build up serangan yang sebelumnya dipaksakan dari belakang, termasuk dari kiper David de Gea diubah dengan long pass guna menaklukkan pertahanan tinggi The Reds.
Umpan-umpan terobosan yang disambut kecepatan pemain-pemain MU seperti Anthony Elanga dan Marcus Rashford bikin bek-bek Liverpool tidak berkutik.
Awan kelabu yang sebelumnya tampak menyelimuti kubu MU dan pendukungnya, tiba-tiba mendadak cerah lewat penampilan apik Raphael Varane, Elanga, Lisandro Martinez, Tyrell Malacia yang mengantongi Mohamed Salah.
Dengan permainan semacam itu melawan Liverpool, Man United semestinya menang melawan Southampton yang kini di papan tengah.
Southampton tidak ubahnya Brighton dan Brentford. Akan tetapi seandainya The Red Devils tiba-tiba kembali 'linglung', bukan tidak mungkin kekalahan ketiga jadi kejutan lain dari skuad Old Trafford.
Baca kelanjutan berita ini pada halaman berikutnya>>>
Banyak sumber di Inggris menyebut Erik ten Hag adalah perubahan sesungguhnya dari permainan Manchester United saat melawan Liverpool.
Dari tim yang dianggap bermain membosankan hingga menjadi skuad dengan serangan bergelombang, yang menyulitkan runner up Liga Inggris musim lalu.
Kalau tidak bisa dibilang hebat, perubahan yang dibawa Ten Hag jelang melawan Liverpool adalah cara yang mudah.
Usai dihajar Brentford, Ten Hag dikabarkan menghukum pemain Man United dengan membatalkan libur. Tidak cukup dengan itu, pelatih asal Belanda tersebut juga meminta pemainnya berlari sejauh 13,8 kilometer atau 8,5 mil.
Jarak itu adalah jumlah kekalahan dalam lari pemain-pemain MU dari para pemain Brentford. Tanpa banyak berlari, strategi Ten Hag tidak berjalan, MU pun dibantai 0-4.
Pemain MU dilaporkan tidak senang dengan keputusan Ten Hag tersebut. Tetapi pelatih 52 tahun itu juga tahu cara agar tetap dihormati dan pemain terus menjalankan instruksi di lapangan.
Ten Hag menilai tanggung jawab dari kekalahan 0-4 dari Brentford harus ditanggung bersama-sama, oleh pemain dan juga staf pelatih.
Karena itu Erik ten Hag ikut berlari sepanjang 13,8 kilometer bersama pemainnya di tengah cuaca panas akhir pekan lalu. Itulah 'cara mudah' Ten Hag mendapat respek dari pemainnya dan mengubah 'sikap' MU saat melawan The Reds.
Dengan sikap tersebut Jadon Sancho cs benar-benar menghormati Ten Hag. Ten Hag keras kepada pemain MU sejak kali pertama datang ke Old Trafford.
Dalam persiapan pramusim di Thailand, mantan pelatih Ajax Amsterdam itu beberapa kali memarahi dan berteriak kepada pemainnya. Marcus Rashford, Bruno Fernandes, dan Charlie Savage adalah korban teriakan Ten Hag.
David de Gea juga pernah dimarahi dari pinggir lapangan saat tidak membangun serangan dari belakang dan memilih melakukan long pass.
Ten Hag nyaris mirip dengan Ralf Rangnick yang kerap bicara terbuka soal permainan MU. Tetapi Ten Hag memiliki faktor lain yang membuatnya tetap dihormati anak asuh.
Keputusan Ten Hag mencadangkan Cristiano Ronaldo dan Harry Maguire pada matchday ketiga lalu juga jadi poin pelatih berkepala plontos itu di mata pemain.
Pemain yang tidak perform layak duduk di bangku cadangan. Sekalipun pemain tersebut berlabel megabintang seperti CR7 yang masih diisukan akan hengkang pada bursa transfer musim ini.
Menurut laporan Express, Ten Hag dan staf pelatihnya seperti dua sisi mata uang, atau polisi baik dan polisi jahat.
Ketika Ten Hag memarahi atau menghukum pemainnya, dia memiliki Steve McLaren sebagai asisten yang merangkul pemain tersebut sebaik mungkin.
Fungsi itu juga yang membuat Ten Hag ngotot ingin memiliki McLaren dalam barisan stafnya setelah sempat dikabarkan ditolak manajemen MU.
Jauh sebelum dikenal Ten Hag, McLaren merupakan asisten pelatih Sir Alex Ferguson di Man United. Karena itu Ten Hag tahu apa yang harus dilakukan pada stafnya dan juga pemain.
Sikap dan etika adalah yang ingin diubah Ten Hag pada musim ini. Dari dua faktor itu Ten Hag berharap bisa mengubah cara bermain dan juga nasib Man United.
Perjalanan Manchester United pada musim ini menarik di simak. Setelah menang atas Liverpool, 2-1, mau buat kejutan apa lagi MU?
Sebagai salah satu klub besar Liga Inggris, terutama berstatus pemegang gelar terbanyak, Man United layak jadi sorotan setiap musim.
Termasuk pada musim dengan hadirnya Erik ten Hag. Ten Hag dan pelatih-pelatih sebelumnya mendapat perhatian yang sama dari banyak pihak. Tuntutannya pun kembali berjaya seperti era Sir Alex Ferguson.
Dengan bursa transfer yang tersisa kurang dari dua pekan ini, kejutan-kejutan lain masih bisa dibuat Man Utd.
Mendatangkan Frenkie de Jong, Antony, dan Cody Gakpo bisa jadi bagian dari kejutan tersebut. Atau kembali tumbang saat melawan Southampton pada laga berikutnya, Sabtu (27/8).
Suka tidak suka, pergerakan transfer Man United dan Erik ten Hag pada musim ini yang sulit ditebak jadi salah satu penyebab kejutan-kejutan sejauh ini.
Ten Hag sangat ingin pemain-pemain yang dianggapnya cocok dengan permainan dia. Karena itu juga pelapis untuk Frenkie de Jong yang dibidik selama lebih dari dua bulan dan juga Antony untuk lini depan tidak kunjung datang.
Ketika dianggap bagus selama pramusim, Setan Merah tiba-tiba limbung dan terpuruk dengan dua kekalahan dari Brighton and Hove Albion (1-2) dan Brentford (0-4).
MU dipermalukan Brentford pada pekan kedua. (REUTERS/DAVID KLEIN)
Di atas kertas, materi pemain MU saat ini semestinya bisa menang atas Brighton dan Brentford dengan margin dua gol atau lebih. Ditambah lagi mereka memiliki rapor penampilan yang memukau selama pramusim di Thailand dan Australia.
Memang hanya pramusim, tetapi dengan sosok baru Erik ten Hag dan buruknya musim lalu sebagai cerminan, hasil uji coba sebelum kompetisi dimulai layak diapresiasi tinggi.
Dua kekalahan itu adalah kejutan yang sesungguhnya dari MU pada awal musim ini. Terutama ketika dibantai Brentford dengan berondongan empat gol hanya dalam 25 menit.
Setelah kalah dari Brighton dan Brentford, sejumlah pihak seperti memvonis MU akan menelan kekalahan ketiga dari Liverpool.
Nyatanya bertolak belakang. Penampilan Man United yang buruk pada dua laga sebelumnya seperti berputar 180 derajat.
Ten Hag tahu cara memaksimalkan kualitas pemainnya dan juga kelemahan Liverpool. Bruno Fernandes dan kawan-kawan juga paham bagaimana mengikuti instruksi Ten Hag.
Build up serangan yang sebelumnya dipaksakan dari belakang, termasuk dari kiper David de Gea diubah dengan long pass guna menaklukkan pertahanan tinggi The Reds.
Umpan-umpan terobosan yang disambut kecepatan pemain-pemain MU seperti Anthony Elanga dan Marcus Rashford bikin bek-bek Liverpool tidak berkutik.
Awan kelabu yang sebelumnya tampak menyelimuti kubu MU dan pendukungnya, tiba-tiba mendadak cerah lewat penampilan apik Raphael Varane, Elanga, Lisandro Martinez, Tyrell Malacia yang mengantongi Mohamed Salah.
Dengan permainan semacam itu melawan Liverpool, Man United semestinya menang melawan Southampton yang kini di papan tengah.
Southampton tidak ubahnya Brighton dan Brentford. Akan tetapi seandainya The Red Devils tiba-tiba kembali 'linglung', bukan tidak mungkin kekalahan ketiga jadi kejutan lain dari skuad Old Trafford.
Baca kelanjutan berita ini pada halaman berikutnya>>>
Dua Sisi Erik ten Hag
Erik ten Hag punya pendekatan berbeda kepada pemain MU. (REUTERS/DAVID KLEIN)
Banyak sumber di Inggris menyebut Erik ten Hag adalah perubahan sesungguhnya dari permainan Manchester United saat melawan Liverpool.
Dari tim yang dianggap bermain membosankan hingga menjadi skuad dengan serangan bergelombang, yang menyulitkan runner up Liga Inggris musim lalu.
Kalau tidak bisa dibilang hebat, perubahan yang dibawa Ten Hag jelang melawan Liverpool adalah cara yang mudah.
Usai dihajar Brentford, Ten Hag dikabarkan menghukum pemain Man United dengan membatalkan libur. Tidak cukup dengan itu, pelatih asal Belanda tersebut juga meminta pemainnya berlari sejauh 13,8 kilometer atau 8,5 mil.
Jarak itu adalah jumlah kekalahan dalam lari pemain-pemain MU dari para pemain Brentford. Tanpa banyak berlari, strategi Ten Hag tidak berjalan, MU pun dibantai 0-4.
Pemain MU dilaporkan tidak senang dengan keputusan Ten Hag tersebut. Tetapi pelatih 52 tahun itu juga tahu cara agar tetap dihormati dan pemain terus menjalankan instruksi di lapangan.
Ten Hag menilai tanggung jawab dari kekalahan 0-4 dari Brentford harus ditanggung bersama-sama, oleh pemain dan juga staf pelatih.
Karena itu Erik ten Hag ikut berlari sepanjang 13,8 kilometer bersama pemainnya di tengah cuaca panas akhir pekan lalu. Itulah 'cara mudah' Ten Hag mendapat respek dari pemainnya dan mengubah 'sikap' MU saat melawan The Reds.
Dengan sikap tersebut Jadon Sancho cs benar-benar menghormati Ten Hag. Ten Hag keras kepada pemain MU sejak kali pertama datang ke Old Trafford.
Dalam persiapan pramusim di Thailand, mantan pelatih Ajax Amsterdam itu beberapa kali memarahi dan berteriak kepada pemainnya. Marcus Rashford, Bruno Fernandes, dan Charlie Savage adalah korban teriakan Ten Hag.
David de Gea juga pernah dimarahi dari pinggir lapangan saat tidak membangun serangan dari belakang dan memilih melakukan long pass.
Ten Hag nyaris mirip dengan Ralf Rangnick yang kerap bicara terbuka soal permainan MU. Tetapi Ten Hag memiliki faktor lain yang membuatnya tetap dihormati anak asuh.
Keputusan Ten Hag mencadangkan Cristiano Ronaldo dan Harry Maguire pada matchday ketiga lalu juga jadi poin pelatih berkepala plontos itu di mata pemain.
Pemain yang tidak perform layak duduk di bangku cadangan. Sekalipun pemain tersebut berlabel megabintang seperti CR7 yang masih diisukan akan hengkang pada bursa transfer musim ini.
Menurut laporan Express, Ten Hag dan staf pelatihnya seperti dua sisi mata uang, atau polisi baik dan polisi jahat.
Ketika Ten Hag memarahi atau menghukum pemainnya, dia memiliki Steve McLaren sebagai asisten yang merangkul pemain tersebut sebaik mungkin.
Fungsi itu juga yang membuat Ten Hag ngotot ingin memiliki McLaren dalam barisan stafnya setelah sempat dikabarkan ditolak manajemen MU.
Jauh sebelum dikenal Ten Hag, McLaren merupakan asisten pelatih Sir Alex Ferguson di Man United. Karena itu Ten Hag tahu apa yang harus dilakukan pada stafnya dan juga pemain.
Sikap dan etika adalah yang ingin diubah Ten Hag pada musim ini. Dari dua faktor itu Ten Hag berharap bisa mengubah cara bermain dan juga nasib Man United.