Indonesia vs Hong Kong: Waspada Tipu Muslihat Pesta Gol
Abdul Susila | CNN Indonesia
Jumat, 16 Sep 2022 08:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Indonesia U-20 memburu kemenangan kedua saat bersua Hong Kong. (Dok.PSSI)
Mengacu pertandingan melawan Timor Leste, sistem pertahanan Timnas Indonesia merisaukan. Trio Muhammad Ferarri, Robi Darwis, dan Kakang Rudianto belum solid.
Hal ini membuat kiper Cahya Supriadi jatuh bangun. Sepanjang 45 menit melawan Timor Leste misalnya, kiper Persija Jakarta itu harus melakukan empat 'penerbangan' untuk menghalau lawan mencetak gol.
Jika mengacu Piala AFF U-19 2022, komposisi pertahanan utama pilihan Shin Tae Yong adalah Kakang, Ferarri, dan Ahmad Rusadi. Namun untuk melawan Timor Leste, Robi yang sejatinya gelandang bertahan ditarik bermain ke belakang.
Penampilan pemain Persib Bandung ini tak mengecewakan. Robi menyumbang dua assist dan akurasi umpannya mencapai 91 persen. Hanya saja kemampuan bertahannya terbilang rendah, dengan satu tekel dan intersep.
Selain ada Rusadi yang siap tempur, ada pula Dia Syayid yang juga berharap dapat kesempatan bermain. Rotasi di sisi pertahanan bisa menjadi solusi bagi STY agar mesin tempur pemain sama panasnya sebelum melawan Vietnam.
Bisa pula Shin Tae Yong kembali menerapkan formasi empat bek sejajar untuk meningkatkan daya eksplosivitas. Barnabas Sobor dan Frengky Missa sangat butuh kesempatan tampil untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Komposisi lini tengah juga perlu sentuhan lanjutan. Kinerja Marselino Ferdinan dan Arkhan Fikri belum optimal. Gaya main keduanya relatif mirip, sehingga variasi permainan di lapangan kurang menambah daya dobrak.
Untuk lini depan, Shin punya opsi menurunkan Arsa Ahmad yang juga belum main. Ronaldo Kwateh yang jadi pemain pengganti dan belum mencetak gol juga layak jadi starter. Ini bisa membuatnya semakin termotivasi.
Namun ada rumus 'jangan ubah komposisi tim pemenang'. Ada semacam petuah klasik yang sejatinya bisa diperdebatkan, biasanya pelatih yang merombak tim pemenang akan mendapat hasil kurang begitu optimal.
Kalau menilik sejarah, ini kurang berlaku bagi STY. Baik bersama Timnas U-20, U-23, maupun bersama senior, Shin Tae Yong kerap melakukan perombakan atau rotasi. Hanya beberapa pemain saja yang menjadi kartu mati Shin Tae Yong.
Yang pasti Hong Kong bukanlah lawan yang perlu terlalu dirisaukan, meski juga tak bisa diremehkan. Rancangan untuk laga melawan Vietnam yang kiranya harus disiapkan Shin Tae Yong agar Timnas Indonesia U-20 tak tertipu ilusi pesta gol semu.
(sry/sry)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hong Kong sangat berpotensi menjadi lumbung gol anak-anak Timnas Indonesia U-20. Namun hasil itu bisa jadi ilusi jika gagal maksimal lawan Vietnam.
Timnas U-20 akan melakoni pertandingan kedua Kualifikasi Piala Asia U-20 2023 dengan menghadapi Hong Kong di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (16/9) malam. Ini akan menjadi duel ketiga sepanjang sejarah.
Kedua tim sudah bertemu dua kali dalam ajang yang sama. Pertama pada 2009 dan kedua pada 2019. Pada pertemuan pertama Timnas U-19 menang 4-1, sedangkan dalam duel kedua di Jakarta berakhir dengan skor 4-0.
Fakta ini memperlihatkan bahwa Garuda Nusantara berpeluang kembali pesta gol. Apalagi dalam pertandingan pertama Hong Kong dilumat Vietnam dengan skor 1-5. Ini menggambarkan peta kekuatan tim asuhan Cheung Kin Fung itu.
Dalam sepak bola apa saja bisa terjadi, termasuk kejutan dari tim lemah. Kekalahan dari Vietnam membuat Hong Kong harus menang lawan Indonesia. Jika tidak kans mereka lolos ke putaran final Piala Asia U-20 2023 pupus.
Kendati demikian Shin Tae Yong kiranya tak perlu habis-habisan. Dalam artian seluruh strategi yang dimiliki dieksplorasi dalam duel tersebut, dan juga memforsir tenaga pemain untuk bisa menang dengan skor besar.
Menang dengan jumlah gol banyak sejatinya bisa menguntungkan. Setidaknya jika hasil melawan Vietnam imbang, produktivitas akan menentukan posisi puncak klasemen Grup F, yang artinya otomatis lolos ke Piala Asia U-20 2023.
Masalahnya pola seperti ini bisa melemahkan. Bermain 'menggila' lawan tim lemah pada akhirnya jadi kemenangan semu jika tak bisa menang menghadapi lawan sesungguhnya. Hal ini tercermin dalam Piala AFF U-19 2022.
Di Piala AFF U-19 2022, Indonesia merupakan tim tersubur pada babak grup dengan 17 gol dan hanya dua kali kebobolan. Namun pada akhirnya hal ini tak berdampak apa-apa karena dijegal Vietnam dan Thailand dengan skor kaca mata.
Kegagalan itu kiranya menjadi pengalaman berharga Shin Tae Yong dan tim asuhannya. Menang besar niscaya akan mendapat sambutan hangat dari suporter, bahkan pujaan, tetapi bisa melemahkan kebugaran.
Disadari atau tidak, Vietnam pasti mempelajari dengan saksama kelebihan dan kekurangan Timnas Indonesia U-20. Satu analisis sudah didapat dari laga melawan Timor Leste, kini mereka mencari antitesis lain dari laga melawan Hong Kong.
Baca kelanjutan berita ini pada halaman berikutnya>>>
Komposisi Pertahanan Berantakan
Timnas Indonesia U-20 memburu kemenangan kedua saat bersua Hong Kong. (Dok.PSSI)
Mengacu pertandingan melawan Timor Leste, sistem pertahanan Timnas Indonesia merisaukan. Trio Muhammad Ferarri, Robi Darwis, dan Kakang Rudianto belum solid.
Hal ini membuat kiper Cahya Supriadi jatuh bangun. Sepanjang 45 menit melawan Timor Leste misalnya, kiper Persija Jakarta itu harus melakukan empat 'penerbangan' untuk menghalau lawan mencetak gol.
Jika mengacu Piala AFF U-19 2022, komposisi pertahanan utama pilihan Shin Tae Yong adalah Kakang, Ferarri, dan Ahmad Rusadi. Namun untuk melawan Timor Leste, Robi yang sejatinya gelandang bertahan ditarik bermain ke belakang.
Penampilan pemain Persib Bandung ini tak mengecewakan. Robi menyumbang dua assist dan akurasi umpannya mencapai 91 persen. Hanya saja kemampuan bertahannya terbilang rendah, dengan satu tekel dan intersep.
Selain ada Rusadi yang siap tempur, ada pula Dia Syayid yang juga berharap dapat kesempatan bermain. Rotasi di sisi pertahanan bisa menjadi solusi bagi STY agar mesin tempur pemain sama panasnya sebelum melawan Vietnam.
Bisa pula Shin Tae Yong kembali menerapkan formasi empat bek sejajar untuk meningkatkan daya eksplosivitas. Barnabas Sobor dan Frengky Missa sangat butuh kesempatan tampil untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Komposisi lini tengah juga perlu sentuhan lanjutan. Kinerja Marselino Ferdinan dan Arkhan Fikri belum optimal. Gaya main keduanya relatif mirip, sehingga variasi permainan di lapangan kurang menambah daya dobrak.
Untuk lini depan, Shin punya opsi menurunkan Arsa Ahmad yang juga belum main. Ronaldo Kwateh yang jadi pemain pengganti dan belum mencetak gol juga layak jadi starter. Ini bisa membuatnya semakin termotivasi.
Namun ada rumus 'jangan ubah komposisi tim pemenang'. Ada semacam petuah klasik yang sejatinya bisa diperdebatkan, biasanya pelatih yang merombak tim pemenang akan mendapat hasil kurang begitu optimal.
Kalau menilik sejarah, ini kurang berlaku bagi STY. Baik bersama Timnas U-20, U-23, maupun bersama senior, Shin Tae Yong kerap melakukan perombakan atau rotasi. Hanya beberapa pemain saja yang menjadi kartu mati Shin Tae Yong.
Yang pasti Hong Kong bukanlah lawan yang perlu terlalu dirisaukan, meski juga tak bisa diremehkan. Rancangan untuk laga melawan Vietnam yang kiranya harus disiapkan Shin Tae Yong agar Timnas Indonesia U-20 tak tertipu ilusi pesta gol semu.