Pelatih Arema Merasa Bersalah: Andai Imbang Lawan Persebaya

CNN Indonesia
Senin, 03 Okt 2022 15:01 WIB
Pelatih Arema FC Javier Roca merasa bersalah insiden Tragedi Kanjuruhan berakhir tragis hingga menimbulkan 125 orang meninggal. Pelatih Arema FC Javier Roca (kanan) menangis saat tabur bunga di Stadion Kanjuruhan. (AP/Achmad Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelatih Arema FC Javier Roca merasa bersalah insiden Tragedi Kanjuruhan terjadi hingga menimbulkan 125 orang meninggal. Roca menyesalkan kekalahan 2-3 Arema saat melawan Persebaya di Liga 1.

Kekalahan dari Persebaya menyulut kerusuhan suporter yang berakhir tragis di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10) malam.

Pelatih tim Singo Edan Javier Roca pun mengaku mentalnya telah hancur lantaran kerusuhan suporter Arema di Kanjuruhan telah menewaskan 125 orang.

"Saya secara mental hancur, saya merasakan beban yang sangat berat, bahkan merasa bertanggung jawab. Hasil pertandingan menentukan apa yang terjadi usai pertandingan. Andai kami imbang, tragedi ini mungkin tidak akan terjadi," kata Roca dikutip dari Media Spanyol, Cadena Ser.

"Penyebab tragedi itu bukan karena satu hal. Menunjukkan stadion juga tidak siap, mereka tidak mengharapkan kekacauan sebesar itu. Insiden ini seperti longsoran salju. Tidak pernah hal seperti ini terjadi di stadion sebelumnya. Ini adalah stadion yang terpencil, dan kami berada di kota yang relatif kecil, tidak ada kapasitas yang cukup," kata Roca menambahkan.

[Gambas:Video CNN]

Roca juga mengaku meminta maaf kepada seluruh keluarga yang kena dampak tragedi ini.

"Soal peristiwa kemarin, sebagai tim kita datang ke sini untuk minta maaf, kepada seluruh keluarga yang kena dampak tragedi ini, yang keluarga meninggal ataupun yang luka-luka di rumah sakit," ucap Roca.

Pelatih asal Chile itu mengungkapkan tragedi Kanjuruhan harus menjadi titik balik persepakbolaan Indonesia.

Banner live streaming MotoGP 2022

"Yang kemarin sudah banyak rekaman di media, apa yang terjadi, kita cuma berharap bahwa ini titik nol, dari era baru di sepak bola Indonesia, di mana stoplah, satu hasil pertandingan itu tak seharga dengan nyawa, apalagi lebih dari 100 orang, ini sudah enggak masuk akal, sudah enggak pantas, kita terasa ada di dalam hukuman yang kasarnya, menang hidup, kalah mati," ucap Roca.

"Cobalah instropeksi diri, semua komponen yang ada di sepak bola Indonesia, termasuk kita juga, untuk mulai merendah, tidak terlalu berambisi memenangi satu laga, semoga mulai hari ini, titik nol untuk kedamaian dimulai dari Malang." ujar Roca menambahkan.

(rhr/har)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER