Jakarta, CNN Indonesia -- Piala Dunia 2022 Qatar bergulir di tengah dengan isu miring. Berikut daftar lima kontroversi Piala Dunia 2022.
Gempita bola dunia sudah memasuki babak penyisihan. Namun Piala Dunia 2022 diterpa berbagai warna-warni persoalan.
Bola salju masalah di Piala Dunia 2022 sudah bergulir setelah Qatar ditunjuk FIFA menjadi tuan rumah pada 2010 silam. Tak tanggung-tanggung, masalah yang menjerat adalah kasus korupsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah semakin menjalar seiring berjalannya waktu. Problematika bahkan melebar ke isu hak asasi manusia terhadap pekerja yang bertugas membangun stadion dan fasilitas pendukung lainnya.
Meski demikian Piala Dunia 2022 tetap bergulir sesuai jadwal. Sebanyak 32 tim akan berusaha menjadi yang terbaik di pentas dunia.
Di satu sisi, kontroversi Piala Dunia 2022 tidak akan lekang dari jejak sejarah. Berikut daftar lima kontroversi Piala Dunia 2022.
1. Pekerja Migran
Isu hak asasi manusia yang berkaitan dengan pekerja migran menjadi salah satu masalah terbesar di Piala Dunia 2022. Qatar menggunakan jasa buruh dari beberapa negara seperti India, Pakistan, Nepal, Bangladesh dan Sri Lanka.
Amnesty International menyatakan Qatar memperlakukan para pekerja dengan buruk. Beberapa masalah antara lain penyitaan paspor hingga larangan pulang saat bencana alam di Nepal pada 2015.
The Guardian melaporkan pembangunan infrastruktur di Qatar menelan korban jiwa yang sangat banyak. Setidaknya ada 6.500 pekerja yang dikabarkan meninggal selama pembangunan.
2. Boikot Kampanye LGBT
Qatar secara terbuka melarang homoseksualitas. Aparat setempat memasukkan homoseksual ke dalam kategori kriminal dengan ancaman penjara hingga tiga tahun.
Otomatis hal-hal bernuansa LGBT dilarang Qatar selama Piala Dunia 2022. Penyelenggara Piala Dunia 2022 juga melarang atribut yang terasosiasi dengan LGBT.
Namun beberapa negara peserta ngotot ingin mengenakan atribut LGBT seperti ban kapten. Beberapa orang yang pro LGBT juga tetap memakai atribut bernuansa pelangi meski diusir aparat keamanan.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Larangan Miras
Penonton Piala Dunia 2022 dilarang minum minuman keras di stadion. (REUTERS/MARKO DJURICA)
3. Gonjang-ganjing Iran
Gelombang penolakan Iran di Piala Dunia bergelora usai negara tersebut mengalami situasi panas usai kematian Mahsa Amini. Kondisi Iran semakin pelik saat 348 demonstran tewas dalam unjuk rasa.
Ini membuat banyak negara di dunia meminta Iran dicoret dari pesta bola dunia 2022. Salah satunya adalah Ukraina yang ngotot ingin menggantikan Iran.
Namun Iran tetap berlaga di Piala Dunia 2022. Sebagai bentuk protes, pemain Iran tidak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan babak penyisihan.
[Gambas:Photo CNN]
4. Larangan Miras
Penyelenggara Piala Dunia 2022 melarang penonton minum minuman keras di dalam stadion. Minuman keras hanya disediakan di beberapa tempat tertentu dengan harga yang mahal.
Satu gelas bir di Qatar mencapai Rp1,4 juta. Itu membuat gelombang protes dari beberapa negara yang ingin minuman beralkohol tetap diizinkan di dalam stadion.
Salah satu protes disampaikan oleh suporter Ekuador saat pertandingan pembuka Piala Dunia 2022. Kumpulan penonton meneriakkan 'Kami mau bir! Kami mau bir!' saat laga berlangsung.
5. Kasus Korupsi FIFA
FIFA resmi memilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 pada Desember 2010 silam. Namun berselang enam bulan kemudian, dugaan suap Qatar terhadap FIFA menyeruak.
Kasus korupsi Piala Dunia 2022 semakin terkuak saat FBI melakukan penggeledahan terhadap mantan Wakil Presiden FIFA Jack Warner pada 2014. Kasus ini juga menyeret nama-nama petinggi UEFA dan AFC.
Pada 2020 sebuah dokumen tentang dugaan suap pihak Qatar terhadap Piala Dunia 2022 menguap ke publik. Qatar ditengarai membayar US$880 juta agar terpilih sebagai tuan rumah.
[Gambas:Video CNN]