TESTIMONI

Halim Haryanto Ho: Kepentingan Indonesia Selalu yang Utama

Halim Haryanto Ho | CNN Indonesia
Rabu, 18 Jan 2023 19:00 WIB
Halim Haryanto Ho: Kepentingan Indonesia Selalu yang Utama
Halim Haryanto Ho dan Tony Gunawan berhasil jadi juara All England dan Juara Dunia di 2001. (AFP/ADRIAN DENNIS)

Awal perkenalan saya dengan badminton lantaran Papa saya memang senang bermain badminton. Papa senang namun sekadar untuk main-main saja. Saya pun begitu, hanya untuk main-main.

Saya berlatih di klub Sangkuriang, saat itu belum ada SGS. Di sana ada lapangan badminton, kolam renang, seperti sports club. Jadi saat saya diantar Papa ke sana, saya bisa main badminton atau berenang. Memang masih main-main.

Setiap tahun, Sangkuriang mengadakan kejuaraan internal. Walaupun saya masih main-main, saya juga ikut kejuaraan itu. Lalu saya kalah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai anak kecil, kalah tentu tidak mengenakkan. Karena saya tentu tidak mau kalah. Saya sampai menangis.

Papa lalu tanya sama saya,"Kamu kenapa menangis?"

"Saya ingin dapat piala," itu jawaban saya.

Papa saya lalu kembali berkata, "Kalau mau piala, beli saja."

"Saya enggak mau beli. Saya mau dapatin piala sendiri."

Itu kata saya. Dari situ, saya mulai ada motivasi untuk menang. Saya masih usia 9-10 tahun saat itu.

Setahun berselang, ada kejuaraan lagi di Sangkuriang dan saya bisa menang.

Indonesia's badminton team sing their country's national anthem as they hold on to the Thomas Cup after beating Malaysia in the Thomas Cup men's team badminton final in the southern Chinese city of Guangzhou 19 May 2002.  Indonesia beat Malaysia 3-2 to defend the title as the world best men's badminton team .                      AFP PHOTO/GOH Chai Hin (Photo by AFP)Halim Haryanto Ho jadi salah satu legenda badminton Indonesia. (AFP/)

Setelah menang, motivasi saya untuk terus menang, mendapatkan lebih banyak piala dan juara semakin lebih. Dalam pertandingan antarkota madya, saya sempat ditanya wartawan.

Beliau tanya tujuan saya di badminton apa. Lalu saya bilang waktu itu bahwa saya mau jadi juara dunia.

Dari situ saya rasa motivasi untuk menang terus bertambah.

Saya masih main di nomor tunggal dan baru pindah ke ganda pada 1992. Waktu itu saya terlalu banyak latihan sehingga cedera dan harus istirahat selama tiga bulan. Setelah sembuh, saya pindah ke ganda.

Saya masuk Pelatnas di tahun 1995 bersama Davis Efraim. Kami mampu jadi juara nasional tingkat Taruna di tahun sebelumnya. Angkatan saya yang masuk bersamaan adalah Eng Hian, Harmono, Sigit Budiarto, dan Ade Lukas. Ketika masuk Pelatnas Cipayung, nomor ganda putra sudah diisi oleh banyak pemain senior yang hebat.

Ricky/Rexy, Gunawan/Bambang, hingga Antonius/Denny Kantono. Mereka sebagai senior memotivasi kami bahwa kami harus latihan yang bagus.

Indonesian badminton player Rexy Mainaky (R) returns a shuttle as his pair Ricky Subagdja (L) looks on 17 December during their men's doubles final match in the 13th Asian Games agaisnt Pramote Teerawiwatana and Siripong Siripool of Thailand at the Thammasat University Sports Complex. Subagdja and Mainaky beat Teerawiwatana and Siripool by 2-0 (15-5, 15-10) to get gold medals.  (ELECTRONIC IMAGE) AFP PHOTO/TOSHIFUMI KITAMURA (Photo by Toshifumi KITAMURA / AFP)Ricky/Rexy jadi salah satu senior yang ada di Pelatnas Cipayung ketika Halim baru menginjakkan kakinya di sana. (Toshifumi KITAMURA / AFP)

Saya pun merasa termotivasi tiap latihan, apalagi kami latihan dengan Ricky/Rexy dan pemain lain yang masuk kategori best in the world.

Kebersamaan di nomor ganda putra itu ada karena kami latihan sama-sama walaupun saat itu nomor ganda putra dipegang oleh tiga pelatih. Di tim utama ada Koh Chris (Christian Hadinata) dan Pak Atik (Djauhari) sedangkan kami di pratama dipegang oleh Herry IP.

Walaupun dibagi tiga grup, tetapi banyak latihan dilakukan bersama-sama, main game sama-sama, drilling sama-sama. Keseharian bareng terus.

Karena kebersamaan itu kami langsung termotivasi. Berlatih dengan ganda terbaik, dalam latihan kami merasa bahwa kami bisa jadi penerus.

Soal rasa minder berlatih bersama senior, pasti terkadang ada. Misal kami mau ajak main senior tentu juga tidak enak. Tetapi senior-senior sering mengajak kami. Saat latihan teknik 2 vs 1.

Banner Testimoni

Kami membantu mereka, dengan begitu kebersamaan terbangun. Memang sungkan karena kami punya respek terhadap para senior. Karena di tahun pertama saya di Pelatnas, nomor ganda putra sedang mempersiapkan diri untuk Olimpiade Atlanta 1996.

Saya berpasangan dengan Davis sampai tahun 1998. Kami juga punya sejumlah prestasi, masuk final di Brunei pada 1995 dan 1996 lalu Indonesia Open. Kami juga pernah juara di Australia.

Kami cukup ada hasil. Saya lupa peringkat berapa tetapi saya yakin kami ada di 20 besar.

Namun pelatih tentu lebih tahu. Dalam latihan, kami sudah biasa berlatih digabung dan dicampur. Karena itu pelatih memutuskan mencoba saya dengan Tony.

Kami tampil di Malaysia dan Brunei lalu bisa juara di pertandingan tersebut dan terus dipasangkan. Saya dan Tony sempat menduduki posisi nomor satu dunia sampai akhirnya dipecah usai Denmark Open.

Karier saya banyak halangan. Sempat nomor satu, lalu tidak lagi, terus kemudian bisa juara lagi, lalu tidak lagi.

Namanya juga hidup, jalannya seperti ini disyukuri saja. Saya bersyukur masih diberi rezeki bisa juara.



(ptr)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saat saya mendengar peristiwa yang menimpa Sigit Budiarto dan kemudian ada keputusan Tony Gunawan bakal dipasangkan dengan Candra Wijaya, saya kaget.

Namun bagaimana lagi, sebagai sesama ganda putra kami semua harus saling mendukung.

Saat itu saya dan Tony sudah duduk di peringkat satu dunia. Tentu saya merasa sedih, namun bagaimanapun saya harus rela.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika itu bukan hanya berbicara soal ganda putra, melainkan juga untuk Indonesia secara keseluruhan. Jadi harus kasih yang terbaik.

Saat insiden itu terjadi, waktu itu juga langsung diputuskan bahwa Tony dipasangkan dengan Candra untuk persiapan Olimpiade 2000 dan saya dengan Sigit.

Saya saat itu juga harus menunggu Sigit selesai menjalani masa skorsing hingga tahun berikutnya baru kami bisa kembali berpasangan. Selama menunggu bisa kembali bermain bersama Sigit di lapangan, saya terus berlatih dan mempersiapkan diri.

Sebagai pemain, tentu semua sama-sama punya tujuan, punya target untuk tampil di Olimpiade. Namun saya sebagai pemain hanya bisa mencoba.

Begitu saya dan Sigit bisa berpasangan, saat itu sudah tinggal tersisa tujuh turnamen lagi untu mengejar poin. Apalagi pasangan-pasangan lain sudah punya ranking. Dalam pandangan saya, tidak ada salahya untuk mencoba, namun bagaimana lagi kalau akhirnya kami tidak lolos.

Namun yang penting secara keseluruhan, tahun 2000 ganda putra bisa memberi emas untuk Indonesia. Tony/Candra bisa jadi juara Olimpiade.

Dalam pandangan saya, kami sama-sama pemain ganda putra, siapa saja yang bisa menang bagus. Saya ikut antusias menonton mereka tampil di Olimpiade karena yang terpenting siapa saja yang main dan dapat emas, itu berasal dari Indonesia.

Pelatih ganda putra, Herry IP tengah memantau latihan ganda putra.Halim Haryanto Ho menerima keputusan Herry IP untuk memecah duet Tony Gunawan/Halim Haryanto Ho dan memasangkan Tony dengan Candra Wijaya. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)

Saat Tony dan Candra dipasangkan, sebenarnya sudah ada pembicaraan bahwa mereka berpasangan demi proyek Olimpiade. Yang berarti setelah Olimpiade bisa kembali ke pasangan masing-masing.

Tetapi tentunya setelah Olimpiade keputusan tetap di tangan pelatih. Apakah dipecah lagi dan kembali ke pasangan sebelumnya atau diteruskan. Akhirnya pelatih memutuskan dikembalikan ke pasangan sebelumnya. Saya kembali dengan Tony, Candra berpasangan lagi dengan Sigit.

Pertama saya dan Tony dikirim ke Korea Open dan hasilnya tidak bagus. Setelah itu kami dikirim ke All England. Kami bisa masuk final dan juara.

Kembali berpasangan dengan Tony di 2001, status dia sudah jadi juara Olimpiade. Tetapi saya tidak punya rasa minder. Saya malah termotivasi ingin juara.

Saya termotivasi, saya lebih percaya diri, apalagi kami juga dulu bersama pernah ranking satu dunia.

Yang saya ingat dari final lawan Candra/Sigit adalah lelah dan capek. Karena pertandingan berlangsung lebih dari satu jam waktu itu.

Setelah menang di All England, kami berhasil jadi juara dunia 2001.

Saat itu Kejuaraan Dunia masih dilangsungkan bersamaan dengan Piala Sudirman. Saya tidak turun di Piala Sudirman karena Tony berpasangan dengan Candra.

Hal itu jadi keuntungan bagi saya, karena saya lebih siap, dan energi saya masih full. Di babak perempat final, kami menghadapi Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung. Saat itu saya merasa begitu fit sehingga kami bisa menang dua set langsung.

Pada Kejuaraan Dunia 2001, saya benar-benar merasa siap. Itu Kejuaraan Dunia pertama saya dan saya tahu pasti bila ingin jadi juara dibutuhkan persiapan yang baik.

Di babak semifinal, ganda Malaysia Chew Choon Eng/Chan Chong Ming memang bagus, namun kami bisa memenangkan pertandingan.

Hal yang sama terjadi di babak final ketika kami berhadapan dengan Ha Tae Kwon/Kim Dong Moon. Di babak final saya coba berpikir untuk bermain simpel. Raih poin demi poin.

Ternyata tiba-tiba kami mampu dapat poin terus menerus karena lawan juga banyak bikin salah. Saya tak menyangka bisa menang 15-0 di set pertama.

Saya bersyukur diberkati Tuhan bisa jadi juara dunia. Terima kasih untuk keluarga, semua orang sekitar saya, tim saya, pelatih, dan rekan setim. Keberhasilan saya jadi juara dunia tentu tak lepas dari dukungan mereka.

Indonesia's Tony Gunawan goes airborne to reach a shot during the men's doubles final against Sigit Budiarto and Candra Wijaya, also from Indonesia 11 March 2001, at the All England Badminton Championships in Birmingham. Gunawan and his partner Haryanto won the match 15-13,  7-15, 15-7. AFP PHOTO/ADRIAN DENNIS (Photo by ADRIAN DENNIS / AFP)Tony Gunawan memutuskan pindah ke Amerika Serikat pada 2001 untuk melanjutkan kuliah. (AFP/ADRIAN DENNIS)

Setelah pisah dengan Tony Gunawan

Di tahun 2001 itu pula Tony Gunawan memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat. Dia punya pilihan hidup, punya rencana sekolah ke Amerika Serikat.

Sebagai teman dan sebagai partner, saya cuma bisa mendukung yang terbaik untuk dia. Keputusan tentu di tangan dia.

Tentu saya tak bisa dong bilang 'jangan', tidak bisa seperti itu. Kami sudah sama-sama dewasa juga. Kalau sedih, ya pasti sedih. Karena Indonesia kehilangan salah satu pemain terbaik.

Setelah berpisah dengan Tony, tim ganda putra harus mencari alternatif karena Piala Thomas 2002 akan segera digelar. Saya lalu dicoba dan dipasangkan dengan Tri Kusharjanto.

Puji Tuhan, Indonesia bisa juara. Karena saat itu kami dalam posisi underdog lawan Malaysia di babak final. Ganda putra mereka sedang dalam posisi peringkat 1 dan 2 dunia.

Piala Thomas 2002 adalah Piala Thomas pertama dalam karier saya. Saya tak masuk skuad di edisi sebelumnya. Saat tampil di final, Indonesia sedang tertinggal 1-2.

Tentu situasi tidak mudah. Puji Tuhan saya bisa melewatinya dengan baik. Saya ingat fokus saya saat itu hanya mencari poin demi poin. Mungkin lawan juga ada beban karena harus menang.

Indonesia's badminton team celebrate with the Thomas Cup after beating Malaysia in the Thomas Cup men's team badminton final in the southern Chinese city of Guangzhou 19 May 2002.  Indonesia beat Malaysia 3-2 to defend the title as the world best men's badminton team .                      AFP PHOTO/GOH Chai Hin (Photo by AFP)Halim Haryanto Ho dan kawan-kawan sukses mengantar Indonesia jadi juara Piala Thomas 2002. (AFP/)

Menuju Olimpiade 2004, saya sempat dipasangkan dengan Candra Wijaya. Sempat juara di beberapa turnamen tetapi memang jalannya tidak mulus. Memang bukan rezeki saya untuk tampil di Olimpiade 2004.

Tahun 2005, saya pindah ke Amerika Serikat. Saya berpikir juga mau sekolah. Saya juga sempat tanya-tanya Tony soal sekolah di Amerika.

Sampai sekarang saya pun masih sekolah. Mungkin kalau di Indonesia, istilahnya saya sudah dapat gelar D3 dan sekarang sedang kejar S1. Saya jurusan medical technician laboratorium. Bila jalannya mulus, saya nanti bisa kerja di laboratorium.

Selain itu, saat ini saya sedikit-sedikit masih melatih, buat menyambung hidup hahaha..

Saya bantu klub di San Diego untuk melatih pemain-pemain junior. Klub tersebut sempat tutup saat pandemi dan kini saya dimita untuk bantu melatih, walau seminggu hanya 2-3 kali.

Tinggal di Amerika Serikat, saya sempat membela Amerika Serikat di Pan American Games. Sempat mencoba untuk lolos ke Olimpiade 2012 namun tidak bisa, mungkin karena sudah faktor umur juga.

Baca lanjutan tulisan ini di halaman berikut >>>

Menangis Ingin Piala

Halim Haryanto Ho dan Tony Gunawan berhasil jadi juara All England dan Juara Dunia di 2001. (AFP/ADRIAN DENNIS)

Awal perkenalan saya dengan badminton lantaran Papa saya memang senang bermain badminton. Papa senang namun sekadar untuk main-main saja. Saya pun begitu, hanya untuk main-main.

Saya berlatih di klub Sangkuriang, saat itu belum ada SGS. Di sana ada lapangan badminton, kolam renang, seperti sports club. Jadi saat saya diantar Papa ke sana, saya bisa main badminton atau berenang. Memang masih main-main.

Setiap tahun, Sangkuriang mengadakan kejuaraan internal. Walaupun saya masih main-main, saya juga ikut kejuaraan itu. Lalu saya kalah.

Sebagai anak kecil, kalah tentu tidak mengenakkan. Karena saya tentu tidak mau kalah. Saya sampai menangis.

Papa lalu tanya sama saya,"Kamu kenapa menangis?"

"Saya ingin dapat piala," itu jawaban saya.

Papa saya lalu kembali berkata, "Kalau mau piala, beli saja."

"Saya enggak mau beli. Saya mau dapatin piala sendiri."

Itu kata saya. Dari situ, saya mulai ada motivasi untuk menang. Saya masih usia 9-10 tahun saat itu.

Setahun berselang, ada kejuaraan lagi di Sangkuriang dan saya bisa menang.

Indonesia's badminton team sing their country's national anthem as they hold on to the Thomas Cup after beating Malaysia in the Thomas Cup men's team badminton final in the southern Chinese city of Guangzhou 19 May 2002.  Indonesia beat Malaysia 3-2 to defend the title as the world best men's badminton team .                      AFP PHOTO/GOH Chai Hin (Photo by AFP)Halim Haryanto Ho jadi salah satu legenda badminton Indonesia. (AFP/)

Setelah menang, motivasi saya untuk terus menang, mendapatkan lebih banyak piala dan juara semakin lebih. Dalam pertandingan antarkota madya, saya sempat ditanya wartawan.

Beliau tanya tujuan saya di badminton apa. Lalu saya bilang waktu itu bahwa saya mau jadi juara dunia.

Dari situ saya rasa motivasi untuk menang terus bertambah.

Saya masih main di nomor tunggal dan baru pindah ke ganda pada 1992. Waktu itu saya terlalu banyak latihan sehingga cedera dan harus istirahat selama tiga bulan. Setelah sembuh, saya pindah ke ganda.

Saya masuk Pelatnas di tahun 1995 bersama Davis Efraim. Kami mampu jadi juara nasional tingkat Taruna di tahun sebelumnya. Angkatan saya yang masuk bersamaan adalah Eng Hian, Harmono, Sigit Budiarto, dan Ade Lukas. Ketika masuk Pelatnas Cipayung, nomor ganda putra sudah diisi oleh banyak pemain senior yang hebat.

Ricky/Rexy, Gunawan/Bambang, hingga Antonius/Denny Kantono. Mereka sebagai senior memotivasi kami bahwa kami harus latihan yang bagus.

Indonesian badminton player Rexy Mainaky (R) returns a shuttle as his pair Ricky Subagdja (L) looks on 17 December during their men's doubles final match in the 13th Asian Games agaisnt Pramote Teerawiwatana and Siripong Siripool of Thailand at the Thammasat University Sports Complex. Subagdja and Mainaky beat Teerawiwatana and Siripool by 2-0 (15-5, 15-10) to get gold medals.  (ELECTRONIC IMAGE) AFP PHOTO/TOSHIFUMI KITAMURA (Photo by Toshifumi KITAMURA / AFP)Ricky/Rexy jadi salah satu senior yang ada di Pelatnas Cipayung ketika Halim baru menginjakkan kakinya di sana. (Toshifumi KITAMURA / AFP)

Saya pun merasa termotivasi tiap latihan, apalagi kami latihan dengan Ricky/Rexy dan pemain lain yang masuk kategori best in the world.

Kebersamaan di nomor ganda putra itu ada karena kami latihan sama-sama walaupun saat itu nomor ganda putra dipegang oleh tiga pelatih. Di tim utama ada Koh Chris (Christian Hadinata) dan Pak Atik (Djauhari) sedangkan kami di pratama dipegang oleh Herry IP.

Walaupun dibagi tiga grup, tetapi banyak latihan dilakukan bersama-sama, main game sama-sama, drilling sama-sama. Keseharian bareng terus.

Karena kebersamaan itu kami langsung termotivasi. Berlatih dengan ganda terbaik, dalam latihan kami merasa bahwa kami bisa jadi penerus.

Soal rasa minder berlatih bersama senior, pasti terkadang ada. Misal kami mau ajak main senior tentu juga tidak enak. Tetapi senior-senior sering mengajak kami. Saat latihan teknik 2 vs 1.

Banner Testimoni

Kami membantu mereka, dengan begitu kebersamaan terbangun. Memang sungkan karena kami punya respek terhadap para senior. Karena di tahun pertama saya di Pelatnas, nomor ganda putra sedang mempersiapkan diri untuk Olimpiade Atlanta 1996.

Saya berpasangan dengan Davis sampai tahun 1998. Kami juga punya sejumlah prestasi, masuk final di Brunei pada 1995 dan 1996 lalu Indonesia Open. Kami juga pernah juara di Australia.

Kami cukup ada hasil. Saya lupa peringkat berapa tetapi saya yakin kami ada di 20 besar.

Namun pelatih tentu lebih tahu. Dalam latihan, kami sudah biasa berlatih digabung dan dicampur. Karena itu pelatih memutuskan mencoba saya dengan Tony.

Kami tampil di Malaysia dan Brunei lalu bisa juara di pertandingan tersebut dan terus dipasangkan. Saya dan Tony sempat menduduki posisi nomor satu dunia sampai akhirnya dipecah usai Denmark Open.

Karier saya banyak halangan. Sempat nomor satu, lalu tidak lagi, terus kemudian bisa juara lagi, lalu tidak lagi.

Namanya juga hidup, jalannya seperti ini disyukuri saja. Saya bersyukur masih diberi rezeki bisa juara.

[Gambas:Video CNN]




HALAMAN:
1 2