Pengamat: Indonesia Tak Bisa Mendikte FIFA untuk Tolak Israel
CNN Indonesia
Sabtu, 25 Mar 2023 03:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Cara Indonesia merespons situasi saat ini disebut bakal berdampak pada upaya Indonesia jadi tuan rumah ajang internasional di masa depan. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jika sampai Indonesia benar-benar menolak Israel tampil di Piala Dunia U-20 2023, Kusnaeni menilai dampaknya akan dirasa Indonesia di masa mendatang. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi Indonesia.
Salah satunya, niat Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2038 setelah Olimpiade 2036 akan terkendala. Penolakan atas Israel bisa dianggap Indonesia tak terbuka dengan negara lain.
"Kalau kita menolak Israel bermain di Indonesia, ini akan menjadi semacam noda bagi partisipasi Indonesia di ajang dunia. Jadi misal mau jadi tuan rumah Piala Dunia senior, ini akan menjadi catatan," katanya.
"Bahkan saat mengajukan menjadi tuan rumah Olimpiade akan menjadi catatan. Jadi harus dipahami juga. Bagi saya ini bukan soal mendukung atau menolak Israel, tetapi soal keterbukaan," ucap Kusnaeni.
Karenanya pula PSSI diimbau untuk segera mungkin menjalin komunikasi. Pertama berkomunikasi dengan Kementerian luar negeri (Kemenlu), kedua ke FIFA membawa kebijakan Kemenlu.
"Indonesia, dalam hal ini PSSI, harus berkomunikasi dengan Kemenlu tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan utusan negara asing, dalam hal ini negara yang tidak punya hubungan diplomatik."
"Lalu hal-hal ini dikomunikasikan PSSI ke FIFA. Nanti FIFA bagaimana responnya. Pasti akan dicarikan jalan tengahnya. Yang penting sekarang PSSI ke Kemenlu, dari Kemenlu ke FIFA lagi," kata Kusnaeni.
Berkaca dari sebelum-sebelumnya, tak menutup kemungkinan Israel bisa datang ke Indonesia asal memenuhi tiga syarat, yakni tak pakai paspor Israel, tak ada bendera, dan tanpa lagu kebangsaan.
Tiga syarat ini membuat atlet Israel bisa tampil di Indonesia. Pertama atlet badminton, kedua atlet balap sepeda. Hal sama dialami Rusia di Olimpiade karena terjerat kasus doping.
"Banyak jalannya. Makanya jangan ribut di jalanan. Percuma. PSSI segera komunikasi ke Kemenlu, setelah itu bersama-sama ke FIFA mengkomunikasikan ini mencari solusi persoalan ini," katanya.
"Kurang dua bulan dari waktu kick off tidak ada masalah. Tinggal dikomunikasikan saja. Masih ada waktu. Pasti ada solusi dari diskusi dengan Kemenlu, PSSI, dan FIFA," ujar Kusnaeni.
Pengamat sepak bola nasional Mohamad Kusnaeni menyebut Indonesia tak bisa mendikte FIFA untuk menolak Israeltampil di Piala Dunia U-20 2023.
Itu diungkapkan Kusnaeni terkait munculnya penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat. Selain sejumlah kelompok masyarakat, Gubernur Bali, Jawa Tengah, dan DPRD Jawa Barat juga ikut menolak Israel.
Israel ditolak bermain di Piala Dunia U-20 2023 karena Indonesia tak punya hubungan diplomatis dengan Israel. Selain itu Israel dianggap sebagai penjajah dengan menginvasi Palestina.
"Bahwa menjadi tuan rumah [Piala Dunia U-20] itu memiliki sejumlah konsekuensi. Salah satunya adalah menerima negara-negara yang lolos putaran final melalui kualifikasi," kata Kusnaeni.
"Harusnya sejak awal ini diperhitungkan, tidak hanya Israel, tetapi negara lain yang mungkin hubungannya dengan Indonesia relatif tidak terlalu baik, seperti negara-negara di pasifik," ucapnya.
Karenanya Indonesia disebut tidak bisa menghindar dari situasi saat ini. Pada saat yang sama menekan FIFA untuk mencoret Israel dari daftar kontestan sama juga dianggap hal yang sulit.
"Kita sebagai tuan rumah tidak bisa memilih peserta, kan prosesnya kualifikasi. Ini risiko harusnya sejak awal disadari karena event yang diikuti hampir semua negara di seluruh dunia," kata Kusnaeni.
"Kalau soal sanksi masih agak jauh. Mungkin yang jadi pertanyaan, apakah FIFA bisa didikte Indonesia untuk menolak Israel? Menurut saya FIFA tidak akan bisa didikte," ujarnya.
Dalam analisis mantan jurnalis sepak bola Indonesia ini, FIFA sudah sering menangani persoalan yang berkaitan dengan Israel. Oleh sebab itu ia yakin FIFA punya solusi persoalan ini.
Kusnaeni mencontohkan, Israel yang awalnya tergabung dengan konfederasi sepak bola Asia [AFC] dipindahkan ke Eropa [UEFA] karena ditolak banyak negara. Ini bentuk perlindungan FIFA ke anggotanya.
"Bagi FIFA persoalan Israel ini kan masalah tahunan. Israel sudah sering seperti ini. Tahun ini sama Indonesia, tahun depan [mungkin] dengan negara lain. Mungkin FIFA sudah punya prosedur," ujarnya.
"FIFA menurut saya tidak sungkan memindahkan status tuan rumah dan memundurkan waktu. Itu sudah sering terjadi. Piala Dunia di Qatar misalnya waktunya dimundurkan ke akhir tahun," kata Kusnaeni.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Berpikir Dampak Jangka Panjang
Cara Indonesia merespons situasi saat ini disebut bakal berdampak pada upaya Indonesia jadi tuan rumah ajang internasional di masa depan. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jika sampai Indonesia benar-benar menolak Israel tampil di Piala Dunia U-20 2023, Kusnaeni menilai dampaknya akan dirasa Indonesia di masa mendatang. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi Indonesia.
Salah satunya, niat Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2038 setelah Olimpiade 2036 akan terkendala. Penolakan atas Israel bisa dianggap Indonesia tak terbuka dengan negara lain.
"Kalau kita menolak Israel bermain di Indonesia, ini akan menjadi semacam noda bagi partisipasi Indonesia di ajang dunia. Jadi misal mau jadi tuan rumah Piala Dunia senior, ini akan menjadi catatan," katanya.
"Bahkan saat mengajukan menjadi tuan rumah Olimpiade akan menjadi catatan. Jadi harus dipahami juga. Bagi saya ini bukan soal mendukung atau menolak Israel, tetapi soal keterbukaan," ucap Kusnaeni.
Karenanya pula PSSI diimbau untuk segera mungkin menjalin komunikasi. Pertama berkomunikasi dengan Kementerian luar negeri (Kemenlu), kedua ke FIFA membawa kebijakan Kemenlu.
"Indonesia, dalam hal ini PSSI, harus berkomunikasi dengan Kemenlu tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan utusan negara asing, dalam hal ini negara yang tidak punya hubungan diplomatik."
"Lalu hal-hal ini dikomunikasikan PSSI ke FIFA. Nanti FIFA bagaimana responnya. Pasti akan dicarikan jalan tengahnya. Yang penting sekarang PSSI ke Kemenlu, dari Kemenlu ke FIFA lagi," kata Kusnaeni.
Berkaca dari sebelum-sebelumnya, tak menutup kemungkinan Israel bisa datang ke Indonesia asal memenuhi tiga syarat, yakni tak pakai paspor Israel, tak ada bendera, dan tanpa lagu kebangsaan.
Tiga syarat ini membuat atlet Israel bisa tampil di Indonesia. Pertama atlet badminton, kedua atlet balap sepeda. Hal sama dialami Rusia di Olimpiade karena terjerat kasus doping.
"Banyak jalannya. Makanya jangan ribut di jalanan. Percuma. PSSI segera komunikasi ke Kemenlu, setelah itu bersama-sama ke FIFA mengkomunikasikan ini mencari solusi persoalan ini," katanya.
"Kurang dua bulan dari waktu kick off tidak ada masalah. Tinggal dikomunikasikan saja. Masih ada waktu. Pasti ada solusi dari diskusi dengan Kemenlu, PSSI, dan FIFA," ujar Kusnaeni.