Bima Sakti diberi tanggung jawab besar memimpin Timnas Indonesia ke Piala Dunia U-17 2023. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia --
Posisi Bima Sakti kini tengah berada di titik dilematis. Kepastian melatih Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia U-17 2023 membuat dirinya bak berada di situasi 'maju kena, mundur kena'.
Persiapan belum dimulai tetapi Bima sudah mendapat kritik deras terutama di media sosial. Netizen menganggap Bima adalah juru taktik 'kemarin sore' yang belum berbekal asam garam untuk menapak di pentas dunia.
Bima memiliki rekam jejak sebagai asisten pelatih Persiba Balikpapan pada 2016, kemudian ditarik ke Timnas Indonesia setahun kemudian sebagai asisten dan pelatih interim. Kini, pria asal Balikpapan menukangi Timnas Indonesia U-16 sejak 2019.
Piala AFF U-16 2022 jadi persembahan perdana dari Bima Sakti untuk Indonesia. Namanya semakin melambung karena dianggap berhasil membina pemain remaja jadi yang terbaik di Asia Tenggara.
Tak heran jika Ketua PSSI Erick Thohir melihat potensi besar pada diri Bima dan menunjuknya sebagai pelatih Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia U-17 2023. Kedekatan emosional Bima dengan para pemain dapat jadi kunci proses dalam merakit tim.
Kerangka skuad racikan Bima Sakti di Piala Dunia U-17 2023 kemungkinan tak begitu jauh dengan tim yang menjuarai Piala AFF U-16 2022 lalu. Bukan hal aneh nantinya nama-nama seperti Muhammad Iqbal Gwijangge, Sulthan Zaky, dan Arkhan Kaka Putra kembali hadir.
Di satu sisi, juara Piala AFF U-16 2022 adalah prestasi yang perlu diakui meski bukan cerminan yang utuh. Namun kegagalan Bima Sakti meloloskan tim ke Piala Asia U-17 2023 adalah penegas bahwa skuad racikan Bima saat itu belum menyentuh level benua.
Terpilih jadi salah satu peserta Piala Dunia U-17 dari jalur tuan rumah adalah kenyataan yang harus dihadapi. Terlebih lagi, turnamen yang digelar 10 November hingga 2 Desember membuat jatah waktu persiapan begitu sempit.
Pertanyaan besar yang wajar muncul di benak publik adalah nama-nama pemain yang bakal dipanggil Bima di pemusatan latihan. Di sini letak dilematis yang bakal dipijak oleh Bima.
Keputusan Bima menyusun skuad yang berdomisili di Indonesia akan memudahkan teknis pemusatan latihan karena sang pemain tidak perlu menempuh jarak jauh. Langkah tersebut juga dapat memaksimalkan potensi yang tersebar di seluruh daerah Indonesia.
Namun, risiko yang mungkin terjadi adalah Timnas U-17 sulit bersaing dengan tim-tim elite dari penjuru dunia jika berkaca dari kualifikasi Piala Asia U-17. Tak adanya kompetisi reguler untuk pemain U-16 juga mempengaruhi kualitas pemain. Karena itu, memanggil pemain diaspora dapat jadi pilihan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Sejauh ini ada delapan nama pemain diaspora yang seliweran di media sosial. Sebagian di antaranya sedang memperkuat klub-klub yang tidak asing di telinga penikmat sepak bola.
Beberapa nama seperti Welber Jardim (Academy Sao Paulo), Irfan Karijowidjojo (ADO Den Haag), Damiane Agustien (West Brom U-16), dan Julian Miles Oerip (AZ Alkmaar U-18) adalah bukti nyata Indonesia punya permata yang tersebar di belahan bumi lain.
Itu dapat jadi pertimbangan jelang pemusatan latihan jelang Piala Dunia. Persoalannya, jiwa besar harus dimiliki Bima jika kembali diterpa kritik apabila mengesampingkan potensi putra daerah dan prinsip bertajuk 'Local Pride'.
Bima punya dua tangan untuk menutup telinga dari ocehan tak berdasar warganet yang protes tanpa henti. Prestasi harus jadi fokusnya saat ini selagi Indonesia ikut Piala Dunia U-17.
Pencapaian Indonesia di Piala Dunia U-17 2023 bakal jadi catatan sejarah terlepas dari hasil yang didapatkan. Keikutsertaan wakil Merah Putih di level global juga sejalan dengan target jadi peserta Olimpiade 2036 dan Piala Dunia 2038.
Bukan tak mungkin, pemain Timnas U-17 yang tampil di Piala Dunia U-17 2023 adalah mereka yang merumput di Olimpiade atau Piala Dunia level senior. Sebab, tak sedikit pesepakbola top saat ini merupakan jebolan dari Piala Dunia U-17.
Timnas Indonesia U-17 harus bergelut dengan waktu persiapan yang singkat menuju Piala Dunia U-17. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)
Beban berat yang dipikul Bima bakal lebih ringan dengan belajar dari barisan senior yang lebih berpengalaman. Ia dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari Shin Tae Yong yang pernah tampil di Piala Dunia U-17 1987. Kala itu, STY adalah pahlawan timnas Korea Selatan dengan jadi top skor untuk negaranya di turnamen tersebut.
Selain itu, Bima juga bisa belajar dari Indra Sjafri yang pernah menangani Timnas Indonesia di berbagai kelompok umur. Kehadiran legenda Chelsea, Dennis Wise yang disebut bakal jadi salah satu mentor juga sangat bermanfaat.
Belum lagi jika nantinya sosok direktur teknik PSSI yang baru mulai bekerja. Pekerjaan Bima akan lebih efisien dalam menyusun program di tengah waktu yang begitu sempit.
Dalam konteks ini, Bima perlu berpikir pragmatis demi prestasi terbaik di Piala Dunia U-17 2023. Mumpung Indonesia sedang ikut Piala Dunia, Bima harus memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
Posisi Bima Sakti kini tengah berada di titik dilematis. Kepastian melatih Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia U-17 2023 membuat dirinya bak berada di situasi 'maju kena, mundur kena'.
Persiapan belum dimulai tetapi Bima sudah mendapat kritik deras terutama di media sosial. Netizen menganggap Bima adalah juru taktik 'kemarin sore' yang belum berbekal asam garam untuk menapak di pentas dunia.
Bima memiliki rekam jejak sebagai asisten pelatih Persiba Balikpapan pada 2016, kemudian ditarik ke Timnas Indonesia setahun kemudian sebagai asisten dan pelatih interim. Kini, pria asal Balikpapan menukangi Timnas Indonesia U-16 sejak 2019.
Piala AFF U-16 2022 jadi persembahan perdana dari Bima Sakti untuk Indonesia. Namanya semakin melambung karena dianggap berhasil membina pemain remaja jadi yang terbaik di Asia Tenggara.
Tak heran jika Ketua PSSI Erick Thohir melihat potensi besar pada diri Bima dan menunjuknya sebagai pelatih Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia U-17 2023. Kedekatan emosional Bima dengan para pemain dapat jadi kunci proses dalam merakit tim.
Kerangka skuad racikan Bima Sakti di Piala Dunia U-17 2023 kemungkinan tak begitu jauh dengan tim yang menjuarai Piala AFF U-16 2022 lalu. Bukan hal aneh nantinya nama-nama seperti Muhammad Iqbal Gwijangge, Sulthan Zaky, dan Arkhan Kaka Putra kembali hadir.
Di satu sisi, juara Piala AFF U-16 2022 adalah prestasi yang perlu diakui meski bukan cerminan yang utuh. Namun kegagalan Bima Sakti meloloskan tim ke Piala Asia U-17 2023 adalah penegas bahwa skuad racikan Bima saat itu belum menyentuh level benua.
Terpilih jadi salah satu peserta Piala Dunia U-17 dari jalur tuan rumah adalah kenyataan yang harus dihadapi. Terlebih lagi, turnamen yang digelar 10 November hingga 2 Desember membuat jatah waktu persiapan begitu sempit.
Pertanyaan besar yang wajar muncul di benak publik adalah nama-nama pemain yang bakal dipanggil Bima di pemusatan latihan. Di sini letak dilematis yang bakal dipijak oleh Bima.
Keputusan Bima menyusun skuad yang berdomisili di Indonesia akan memudahkan teknis pemusatan latihan karena sang pemain tidak perlu menempuh jarak jauh. Langkah tersebut juga dapat memaksimalkan potensi yang tersebar di seluruh daerah Indonesia.
Namun, risiko yang mungkin terjadi adalah Timnas U-17 sulit bersaing dengan tim-tim elite dari penjuru dunia jika berkaca dari kualifikasi Piala Asia U-17. Tak adanya kompetisi reguler untuk pemain U-16 juga mempengaruhi kualitas pemain. Karena itu, memanggil pemain diaspora dapat jadi pilihan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Persimpangan di Antara Prestasi Masa Kini atau Mimpi Masa Depan
Timnas Indonesia U-17 akan menghadapi lawan-lawan berat di Piala Dunia U-17. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)
Sejauh ini ada delapan nama pemain diaspora yang seliweran di media sosial. Sebagian di antaranya sedang memperkuat klub-klub yang tidak asing di telinga penikmat sepak bola.
Beberapa nama seperti Welber Jardim (Academy Sao Paulo), Irfan Karijowidjojo (ADO Den Haag), Damiane Agustien (West Brom U-16), dan Julian Miles Oerip (AZ Alkmaar U-18) adalah bukti nyata Indonesia punya permata yang tersebar di belahan bumi lain.
Itu dapat jadi pertimbangan jelang pemusatan latihan jelang Piala Dunia. Persoalannya, jiwa besar harus dimiliki Bima jika kembali diterpa kritik apabila mengesampingkan potensi putra daerah dan prinsip bertajuk 'Local Pride'.
Bima punya dua tangan untuk menutup telinga dari ocehan tak berdasar warganet yang protes tanpa henti. Prestasi harus jadi fokusnya saat ini selagi Indonesia ikut Piala Dunia U-17.
Pencapaian Indonesia di Piala Dunia U-17 2023 bakal jadi catatan sejarah terlepas dari hasil yang didapatkan. Keikutsertaan wakil Merah Putih di level global juga sejalan dengan target jadi peserta Olimpiade 2036 dan Piala Dunia 2038.
Bukan tak mungkin, pemain Timnas U-17 yang tampil di Piala Dunia U-17 2023 adalah mereka yang merumput di Olimpiade atau Piala Dunia level senior. Sebab, tak sedikit pesepakbola top saat ini merupakan jebolan dari Piala Dunia U-17.
Timnas Indonesia U-17 harus bergelut dengan waktu persiapan yang singkat menuju Piala Dunia U-17. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)
Beban berat yang dipikul Bima bakal lebih ringan dengan belajar dari barisan senior yang lebih berpengalaman. Ia dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari Shin Tae Yong yang pernah tampil di Piala Dunia U-17 1987. Kala itu, STY adalah pahlawan timnas Korea Selatan dengan jadi top skor untuk negaranya di turnamen tersebut.
Selain itu, Bima juga bisa belajar dari Indra Sjafri yang pernah menangani Timnas Indonesia di berbagai kelompok umur. Kehadiran legenda Chelsea, Dennis Wise yang disebut bakal jadi salah satu mentor juga sangat bermanfaat.
Belum lagi jika nantinya sosok direktur teknik PSSI yang baru mulai bekerja. Pekerjaan Bima akan lebih efisien dalam menyusun program di tengah waktu yang begitu sempit.
Dalam konteks ini, Bima perlu berpikir pragmatis demi prestasi terbaik di Piala Dunia U-17 2023. Mumpung Indonesia sedang ikut Piala Dunia, Bima harus memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.