Kenapa Indonesia Jago Banget di Nomor Speed Panjat Tebing?
Surya Sumirat | CNN Indonesia
Rabu, 23 Agu 2023 10:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Veddriq Leonardo (kanan) dan Kiromal Katibin jadi andalan Indonesia di nomor speed putra. (ANTARA FOTO/ Reuters-Jeffrey Swinger-USA TODAY Sports)
Jakarta, CNN Indonesia --
Indonesia merupakan salah satu kekuatan dunia pada nomor speedpanjat tebing. Per Juli 2023, Timnas Panjat Tebing Indonesia masih menempati peringkat pertama untuk gabungan poin kategori speed putra dan putri.
Berdasarkan data terakhir pasca-Piala Dunia Panjat Tebing IFSC 2023 di Chamonix, Prancis, 7-9 Juli, Indonesia mengoleksi 17.595 poin, disusul China (15.820) dan Polandia (9.696) di peringkat tiga besar.
Perolehan poin Indonesia didapat dari nomor speed putra, 9.230 poin, yang menghuni posisi pertama pada kategori tersebut dan sumbangan 8.365 poin dari speed putri yang menempati posisi kedua.
Bakat Indonesia di nomor speed tidak perlu diragukan lagi. Pada 2023, Indonesia menjadi 'juara' pada kategori ini dengan 11.300 poin, unggul jauh atas China (7.638) dan Amerika Serikat (7.403).
Catatan apik Indonesia menjadi nomor satu di nomor speed dunia nyatanya dimulai pada 2021 saat mengumpulkan 503 poin dalam periode tersebut, berdasarkan situs resmi IFSC.
Lantas mengapa Indonesia begitu jago di nomor speed, mengungguli negara-negara Asia lain dan juga Eropa yang lebih dulu memainkan kategori ini?
Pelatih Timnas Panjat Tebing Indonesia Hendra Basir mengatakan Indonesia jago di nomor speed karena tidak memiliki kendala dengan jalur yang berubah-ubah dan hanya fokus dalam meningkatkan kecepatan atau catatan waktu.
"Di speed itu tinggal fokus upgrade atletnya. Kalau di lead dan boulder, upgrade atlet tidak terpisah dengan variabel lain," ujar Hendra Basir.
Nomor lead dan boulder memang bergantung pada point (pijakan) atau jalur memanjat yang selalu berubah di setiap kejuaraan. Dengan begitu pemanjat-pemanjat Indonesia harus terbiasa dengan perkembangan point dan jalur lead atau boulder tersebut.
Hendra menuturkan, baik nomor speed, lead, maupun boulder tidak jauh berbeda jika dilihat dari pola latihan. Hal ini juga terjadi di setiap negara.
"Sebenarnya sama saja, pola latihan sama. Kenapa kita belom jago di lead? Itu perbedaan variabel pendukung, kalau di speed kita tinggal 'gas' saja, faktor eksternal tidak terlalu mempengaruhi lagi," kata Hendra.
Hendra menyebut untuk menang atau berprestasi di nomor speed, setiap atlet perlu meminimalisir atau menghindari sejumlah error, misalnya diskualifikasi karena tidak menekan sensor kaki, atau terlalu cepat bergerak sebelum waktunya.
Ini tentu bukan hal yang mudah karena saat memanjat, seorang atlet juga bukan tanpa kesalahan. Atlet dituntut harus membagi konsentrasi antara terus memacu naik ke atas dengan memantapkan pegangan dan juga gerakan kaki.
Dengan fokus yang meleset sedikit saja, bukan tidak mungkin membuat kaki kehilangan pijakan dan jari kehilangan pegangan. Hasilnya kalah cepat dalam memencet bel di puncak.
Mental yang Terasah
Bukan hanya faktor track wall climbing yang tidak pernah berganti, atlet-atlet Indonesia jago di nomor speed panjat tebing karena faktor mental.
Mantan atlet panjat tebing putri Evi Neliwati mengatakan atlet-atlet Indonesia memiliki daya juang yang lebih bagus ketimbang negara lain di Asia Tenggara.
Saat ditemui di pemusatan latihan panjat tebing Indonesia di Bekasi, Jawa Barat, Evi menyebut atlet-atlet speed Indonesia berani berkorban banyak. Atlet-atlet Indonesia di mata Evi juga punya keinginan kuat untuk juara.
Sebelum IFSC rutin menggelar Piala Dunia nomor speed, atlet-atlet panjat tebing Indonesia banyak bertanding dan berprestasi di event X Games yang diselenggarakan ESPN.
"Di Asia Tenggara masih kurang atletnya [speed], waktu SEA Games 2011 itu kita pakai atlet lapis kedua atau lapis ketiga, menang semua," ucap Evi.
Dari sudut pandang peraih emas Kejuaraan Asia 2004 di Korea Selatan ini, salah satu yang membuat atlet speed Indonesia unggul jauh adalah, atlet negara-negara Asia Tenggara atau beberapa negara Asia lain tidak berani tampil di kejuaraan bergengsi.
Secara postur dan kemampuan, atlet-atlet Indonesia sama dengan negara Asia Tenggara dan negara Asia. Begitu juga dengan kemampuan finansial federasi atau komite olahraga di negara-negara tersebut dalam memfasilitasi atletnya.
"Mereka jarang ikut. Kekompakan tim mereka kurang, di kita kekeluargaan masih tinggi. Kita ini berani survive, berani lapar," tutur Evi yang meraih emas di Piala Dunia UIAA 2006 di Singapura.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Nomor speed, menurut Hendra Basir, berbeda dengan lead atau boulder. Atlet lead dan boulder tidak saja diminta cepat bergerak atau membuat keputusan, tetapi juga harus menguasai pegangan atau point.
Dalam setiap kejuaraan, jalur atau pegangan point di nomor speed tidak pernah berubah, karena itulah kategori speed memiliki rekor dunia.
Sementara di nomor lead serta boulder, baik jalur maupun pegangan (point) selalu mengalami perubahan dalam kejuaraan. Tidak hanya itu, dalam pergantian babak, jalur pada nomor ini juga bisa berubah.
"Kalau di lead, variabel pertama adalah sport industry atau industri olahraganya. Bayangkan, setiap pegangan di federasi internasional saja ada sekitar 20 lebih produsen yang bersertifikasi, dan mereka ini bersaing, dalam tanda petik, produknya untuk dipakai di event resmi," tutur Hendra.
"Kalau produknya sudah dipakai di event resmi, otomatis setiap gym-gym di Eropa akan mencoba belanja itu, biar konsumen datang berlatih di gym itu. Kita kalau mau mengikuti itu, bukan kita gak punya uang, keuangan kita kan terbatas," ucap Hendra melanjutkan.
Ia mengatakan, Indonesia masih sulit mengimbangi perkembangan point pada nomor lead dan boulder yang terus berubah setiap tahun. Sementara Indonesia hanya memiliki kemampuan membeli produk baru seperti saat event-event besar seperti Asian Games atau Piala Dunia.
Sedangkan terbiasa dengan pegangan pada point nomor lead dan boulder jadi salah satu kunci sukses di dua kategori tersebut.
Karena itu, guna mengimbangi kesuksesan nomor speed, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sudah bergerak mempersiapkan atlet-atlet junior yang diharapkan berprestasi pada nomor lead.
Point pegangan dan volume yang berilisensi IFSC masih dianggap kelewat mahal bagi Indonesia. (Cnn Indonesia/Safir Makki)
Para atlet ini dibina usai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2020. Hendra mengatakan pembinaan jangka panjang untuk nomor lead ini berbeda dengan sistem sebelum-sebelumnya yang merekrut atlet-atlet senior berprestasi hasil sebuah event.
Atlet junior yang direkrut pada 2020 lalu berusia sekitar 15 hingga 17 tahun. Penilaiannya mereka memiliki potensi di nomor lead dan lolos dalam sejumlah tes pelatnas.
"Dan semua yang ada di sini itu, semuanya belum pernah juara di level nasional. Tapi sekarang mereka ada di mana? Saya tidak bilang mereka lebih bagus dari seniornya, levelnya bersaing. Mereka ini lebih muda, dan mereka bukan sasaran jangka pendek, jangka panjang [Olimpiade] 2028," ucap Hendra.
Setelah dinilai mantap, FPTI berencana memberangkatkan para atlet ini guna berlatih ke Eropa ketimbang membeli jalur track wall climbing yang dianggap kelewat mahal.
"Daripada kita mendatangkan pegangan yang harganya mahal dan selalu berkembang, mendingan kirim orang berlatih di sana. [Berlatih] tiga bulan [lalu] pulang sebulan, berangkat lagi tiga bulan, begitu atau bisa saja kalau visanya memungkinkan, pakai durasi visa yang lama," ujar Hendra.
"Kenapa di Eropa? Karena di Eropa itu pusatnya industri. Semua gym-gym itu berusaha jadi yang terbaik, jadi kita panjatin, kita bayar," kata Hendra menambahkan.
Selain faktor kualitas atlet dan juga industri, aspek lain yang bisa membuat nomor lead dan boulder di Indonesia berkembang adalah kualitas pelatih. Pelatih yang piawai membuat jalur mirip dengan jalur di ajang internasional bisa meningkatkan kualitas atlet.
Indonesia merupakan salah satu kekuatan dunia pada nomor speedpanjat tebing. Per Juli 2023, Timnas Panjat Tebing Indonesia masih menempati peringkat pertama untuk gabungan poin kategori speed putra dan putri.
Berdasarkan data terakhir pasca-Piala Dunia Panjat Tebing IFSC 2023 di Chamonix, Prancis, 7-9 Juli, Indonesia mengoleksi 17.595 poin, disusul China (15.820) dan Polandia (9.696) di peringkat tiga besar.
Perolehan poin Indonesia didapat dari nomor speed putra, 9.230 poin, yang menghuni posisi pertama pada kategori tersebut dan sumbangan 8.365 poin dari speed putri yang menempati posisi kedua.
Bakat Indonesia di nomor speed tidak perlu diragukan lagi. Pada 2023, Indonesia menjadi 'juara' pada kategori ini dengan 11.300 poin, unggul jauh atas China (7.638) dan Amerika Serikat (7.403).
Catatan apik Indonesia menjadi nomor satu di nomor speed dunia nyatanya dimulai pada 2021 saat mengumpulkan 503 poin dalam periode tersebut, berdasarkan situs resmi IFSC.
Lantas mengapa Indonesia begitu jago di nomor speed, mengungguli negara-negara Asia lain dan juga Eropa yang lebih dulu memainkan kategori ini?
Pelatih Timnas Panjat Tebing Indonesia Hendra Basir mengatakan Indonesia jago di nomor speed karena tidak memiliki kendala dengan jalur yang berubah-ubah dan hanya fokus dalam meningkatkan kecepatan atau catatan waktu.
"Di speed itu tinggal fokus upgrade atletnya. Kalau di lead dan boulder, upgrade atlet tidak terpisah dengan variabel lain," ujar Hendra Basir.
Nomor lead dan boulder memang bergantung pada point (pijakan) atau jalur memanjat yang selalu berubah di setiap kejuaraan. Dengan begitu pemanjat-pemanjat Indonesia harus terbiasa dengan perkembangan point dan jalur lead atau boulder tersebut.
Hendra menuturkan, baik nomor speed, lead, maupun boulder tidak jauh berbeda jika dilihat dari pola latihan. Hal ini juga terjadi di setiap negara.
"Sebenarnya sama saja, pola latihan sama. Kenapa kita belom jago di lead? Itu perbedaan variabel pendukung, kalau di speed kita tinggal 'gas' saja, faktor eksternal tidak terlalu mempengaruhi lagi," kata Hendra.
Hendra menyebut untuk menang atau berprestasi di nomor speed, setiap atlet perlu meminimalisir atau menghindari sejumlah error, misalnya diskualifikasi karena tidak menekan sensor kaki, atau terlalu cepat bergerak sebelum waktunya.
Ini tentu bukan hal yang mudah karena saat memanjat, seorang atlet juga bukan tanpa kesalahan. Atlet dituntut harus membagi konsentrasi antara terus memacu naik ke atas dengan memantapkan pegangan dan juga gerakan kaki.
Dengan fokus yang meleset sedikit saja, bukan tidak mungkin membuat kaki kehilangan pijakan dan jari kehilangan pegangan. Hasilnya kalah cepat dalam memencet bel di puncak.
Mental yang Terasah
Bukan hanya faktor track wall climbing yang tidak pernah berganti, atlet-atlet Indonesia jago di nomor speed panjat tebing karena faktor mental.
Mantan atlet panjat tebing putri Evi Neliwati mengatakan atlet-atlet Indonesia memiliki daya juang yang lebih bagus ketimbang negara lain di Asia Tenggara.
Saat ditemui di pemusatan latihan panjat tebing Indonesia di Bekasi, Jawa Barat, Evi menyebut atlet-atlet speed Indonesia berani berkorban banyak. Atlet-atlet Indonesia di mata Evi juga punya keinginan kuat untuk juara.
Sebelum IFSC rutin menggelar Piala Dunia nomor speed, atlet-atlet panjat tebing Indonesia banyak bertanding dan berprestasi di event X Games yang diselenggarakan ESPN.
"Di Asia Tenggara masih kurang atletnya [speed], waktu SEA Games 2011 itu kita pakai atlet lapis kedua atau lapis ketiga, menang semua," ucap Evi.
Dari sudut pandang peraih emas Kejuaraan Asia 2004 di Korea Selatan ini, salah satu yang membuat atlet speed Indonesia unggul jauh adalah, atlet negara-negara Asia Tenggara atau beberapa negara Asia lain tidak berani tampil di kejuaraan bergengsi.
Secara postur dan kemampuan, atlet-atlet Indonesia sama dengan negara Asia Tenggara dan negara Asia. Begitu juga dengan kemampuan finansial federasi atau komite olahraga di negara-negara tersebut dalam memfasilitasi atletnya.
"Mereka jarang ikut. Kekompakan tim mereka kurang, di kita kekeluargaan masih tinggi. Kita ini berani survive, berani lapar," tutur Evi yang meraih emas di Piala Dunia UIAA 2006 di Singapura.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Alasan Indonesia Tak Begitu Lihai di Boulder dan Lead
Bentuk jalur dan point pegangan yang kerap berubah jadi salah satu kendala bagi nomor lead Indonesia. (Cnn Indonesia/Safir Makki)
Nomor speed, menurut Hendra Basir, berbeda dengan lead atau boulder. Atlet lead dan boulder tidak saja diminta cepat bergerak atau membuat keputusan, tetapi juga harus menguasai pegangan atau point.
Dalam setiap kejuaraan, jalur atau pegangan point di nomor speed tidak pernah berubah, karena itulah kategori speed memiliki rekor dunia.
Sementara di nomor lead serta boulder, baik jalur maupun pegangan (point) selalu mengalami perubahan dalam kejuaraan. Tidak hanya itu, dalam pergantian babak, jalur pada nomor ini juga bisa berubah.
"Kalau di lead, variabel pertama adalah sport industry atau industri olahraganya. Bayangkan, setiap pegangan di federasi internasional saja ada sekitar 20 lebih produsen yang bersertifikasi, dan mereka ini bersaing, dalam tanda petik, produknya untuk dipakai di event resmi," tutur Hendra.
"Kalau produknya sudah dipakai di event resmi, otomatis setiap gym-gym di Eropa akan mencoba belanja itu, biar konsumen datang berlatih di gym itu. Kita kalau mau mengikuti itu, bukan kita gak punya uang, keuangan kita kan terbatas," ucap Hendra melanjutkan.
Ia mengatakan, Indonesia masih sulit mengimbangi perkembangan point pada nomor lead dan boulder yang terus berubah setiap tahun. Sementara Indonesia hanya memiliki kemampuan membeli produk baru seperti saat event-event besar seperti Asian Games atau Piala Dunia.
Sedangkan terbiasa dengan pegangan pada point nomor lead dan boulder jadi salah satu kunci sukses di dua kategori tersebut.
Karena itu, guna mengimbangi kesuksesan nomor speed, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sudah bergerak mempersiapkan atlet-atlet junior yang diharapkan berprestasi pada nomor lead.
Point pegangan dan volume yang berilisensi IFSC masih dianggap kelewat mahal bagi Indonesia. (Cnn Indonesia/Safir Makki)
Para atlet ini dibina usai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2020. Hendra mengatakan pembinaan jangka panjang untuk nomor lead ini berbeda dengan sistem sebelum-sebelumnya yang merekrut atlet-atlet senior berprestasi hasil sebuah event.
Atlet junior yang direkrut pada 2020 lalu berusia sekitar 15 hingga 17 tahun. Penilaiannya mereka memiliki potensi di nomor lead dan lolos dalam sejumlah tes pelatnas.
"Dan semua yang ada di sini itu, semuanya belum pernah juara di level nasional. Tapi sekarang mereka ada di mana? Saya tidak bilang mereka lebih bagus dari seniornya, levelnya bersaing. Mereka ini lebih muda, dan mereka bukan sasaran jangka pendek, jangka panjang [Olimpiade] 2028," ucap Hendra.
Setelah dinilai mantap, FPTI berencana memberangkatkan para atlet ini guna berlatih ke Eropa ketimbang membeli jalur track wall climbing yang dianggap kelewat mahal.
"Daripada kita mendatangkan pegangan yang harganya mahal dan selalu berkembang, mendingan kirim orang berlatih di sana. [Berlatih] tiga bulan [lalu] pulang sebulan, berangkat lagi tiga bulan, begitu atau bisa saja kalau visanya memungkinkan, pakai durasi visa yang lama," ujar Hendra.
"Kenapa di Eropa? Karena di Eropa itu pusatnya industri. Semua gym-gym itu berusaha jadi yang terbaik, jadi kita panjatin, kita bayar," kata Hendra menambahkan.
Selain faktor kualitas atlet dan juga industri, aspek lain yang bisa membuat nomor lead dan boulder di Indonesia berkembang adalah kualitas pelatih. Pelatih yang piawai membuat jalur mirip dengan jalur di ajang internasional bisa meningkatkan kualitas atlet.