Jakarta, CNN Indonesia -- Saya tidak berasal dari keluarga yang menggemari bola basket. Bahkan saya baru benar-benar menekuni olahraga yang akhirnya membesarkan nama saya saat masuk Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sebelum itu tidak ada olahraga yang spesifik saya tekuni. Karena jujur, awalnya saya tidak pernah kepikiran untuk menjadi seorang atlet.
Olahraga yang saya ikuti sebelum masuk SMA itu tidak menentu. Kadang main sepak bola sama teman-teman terkadang juga main bulutangkis. Kebetulan ayah saya menyukai bulutangkis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya pada akhirnya jatuh cinta dengan basket ketika diajak teman SMA untuk ikut bermain saat class meeting. Kebetulan kelas saya ketika itu sedang membutuhkan pemain.
Akhirnya saya memutuskan untuk masuk tim dan ikut bermain. Perasaannya waktu itu ya senang saja, apalagi kan banyak juga yang menonton pertandingannya.
Ketertarikan saya dengan basket lalu diketahui ayah. Ayah saya akhirnya membuatkan ring basket yang beneran di depan rumah dan ada lapangannya juga.
Orang tua benar-benar mendukung penuh. Sebelum dibuatkan ring yang beneran, ring basketnya dibuat dari ember bekas yang dibolongin kemudian ada juga ring ukuran kecil. Enggak memadai awalnya.
Baru semenjak ada ring beneran itu mulai latihan sendiri, nembak-nembak sendiri. Setiap sore bersama teman-teman ketika itu juga sudah berkumpul untuk main bareng.
Saya juga dulu sering nonton pertandingan NBA, zamannya Michael Jordan. Saya belajar cara nembak yang benar, pergerakannya seperti apa. Semua itu terus saya ulang-ulang saat latihan di depan rumah.
 Rony Gunawan baru serius menekuni olahraga basket saat berada di bangku SMA. (Foto: M. Arby Rahmat) |
Saat SMA itu juga saya masuk klub basket di tanah kelahiran, Abadi Samarinda. Setelah masuk klub, permainan saya semakin bagus hingga masuk tim untuk ikut kejuaraan antarklub di sana.
Jenjangnya terus meningkat. Saya ikut kejuaraan antar daerah, Popwil, hingga Pra PON. Dari sekolah saya, sekolah katolik, saya jadi satu-satunya perwakilan dari sana.
Kejuaraan demi kejuaraan itu membuat kemampuan saya berkembang. Ini berkat sering bertanding juga karena awalnya belum ada yang mengasah skill dan potensi saya secara benar sebelum masuk klub.
Selama menimba ilmu di klub, saya nurut saja apa kata pelatih. Istilahnya, "gue ikuti saja semua instruksinya", hehehe.
Saya menempatkan diri sebagai pemain yang mudah untuk dilatih. Saya tidak mau jadi pemain yang sok tahu karena pelatih itu sudah pasti pengetahuannya lebih dari pemain.
Begitu selesai SMA dan memutuskan kuliah saya hijrah ke Surabaya. Dari awal memang sudah ada rencana kuliah di sana dan kebetulan ada Pacific Caesar dan CLS, cuma yang lebih terkenal saat itu dan sering masuk televisi, ya CLS.
Kepindahan saya juga terbilang simpel. Cuma memakai surat pengantar dari Pengcab di Samarinda dan surat itu rupanya nggak pengaruh juga.
 Rony Gunawan (belakang) mulai menancapkan namanya bersama CLS. (CNNIndonesia.com/ Adhi Wicaksono) |
Saat tiba di CLS, surat itu cuma dilihat sebentar dan langsung disuruh ikut latihan. Saya masuk tim junior, Lalu masuk junior CLS, ada Charly Affandi di sana.
Waktu itu saya sudah termasuk jago di Kaltim, tetapi saat masuk CLS, waduh ngejarnya jadi jauh banget. Benar-benar berbeda mulai intensitas latihannya, fisiknya juga. Baru di sana terbuka kalau saya ini belum ada apa-apanya.
Di pentas Kobatama tahun 1999, saya sudah masuk tim senior. Mainnya saat pertandingan tersisa 12 detik atau tim sudah kalah jauh baru saya dimainkan. Di momen itu tidak mengenakan tetapi pada akhirnya saya sadar semua pemain harus dapat momen seperti itu untuk menguatkan mental.
Masih di tahun yang sama ada momen di awal karier saya yang sampai sekarang masih teringat. Kami sudah unggul jauh atas Siliwangi dan semua pemain yang ada di bangku cadangan sudah bermain.
Saya yang waktu itu baru berusia sekitar 19 tahun jadi satu-satunya pemain yang belum dimainkan. Dalam hati bertanya-tanya kenapa saya belum dimainkan juga? Lalu tiba-tiba manajer CLS muncul dari belakang. Dia persis berada di belakang saya, dia menunjuk saya sembari mengatakan kepada pelatih bahwa Rony Gunawan belum main. Akhirnya saya pun main.
Saya tidak merasa senang saat itu karena dimainkan. Saya kesal karena tahu dimainkan bukan karena pelatih ingin melihat saya bermain tetapi manajer yang meminta.
Kalau coach yang suruh main, okelah, karena dia yang tahu. Tapi ini manajer. Emosi juga mainnya dan kacau. Baru main sebentar saya sudah foul trouble. Pikiran enggak fokus karena sudah kesal saya main karena belas kasihan.
Namun momen itu pada akhirnya jadi titik balik karena saya nggak mau lagi terjadi bukan pelatih yang menunjuk saya untuk bermain. Saya termotivasi untuk membuktikan kemampuan yang saya miliki.
Saya rasa mentalitas ini setiap pemain harus punya. Mau diam saja atau berusaha setelah mengetahui kamu nggak dianggap. Itu momen yang saya enggak pernah bisa lupakan.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Juara Paling Berkesan di Satria Muda
Rony Gunawan meraih banyak gelar tim dan individu bersama Satria Muda. (Dok. Satria Muda)
Badan saya waktu itu memang masih kurus banget. Setelah momen pahit itu, saya beli segala kebutuhan sendiri bahkan saya beli sate babi hanya lemaknya saja. Ketika pemain-pemain lain istirahat, saya memilih untuk latihan tambahan.
Saat itu saya masih main di posisi nomor empat atau power forward. Saya pakai duit sendiri, gaji habis untuk beli susu buat saya ketika itu tidak jadi masalah. Saya memilih bodoh amat karena terpenting bagaimana saya bisa memberi pembuktian.
Setahun berselang, CLS berganti pelatih dengan masuknya Eddy Santoso atau Ko Hok Sui. Coach Eddy memutuskan untuk melakukan regenerasi dengan memberikan kepercayaan kepada para pemain muda. Saya mulai jadi starter saat itu.
Dengan skuad yang berisi pemain muda kami pernah menembus final four Kobatama. Skuadnya lengkap ada Hari Suharsono, Charly Affandi, dan Agung Sunarko juga. Saya juga merasa koneksi yang spesial juga dengan Hari Suharsono saat berada di lapangan.
Setelah enam tahun bermain di CLS, saya memutuskan untuk cabut ke Satria Muda. Sebenarnya saya juga ditawari untuk pindah oleh Aspac, tetapi pada akhirnya saya memutuskan menerima pinangan Satria Muda.
Aspac statusnya waktu itu tidak terkalahkan. Dalam benak saya: "Ngapain lagi saya pindah ke sana?", apalagi di sana sudah ada Hari Suharsono, Antonius Joko, Saut Lombok Johnson, Rommy Chandra, para pemain langganan Timnas Basket Indonesia.
Saya ingin mencari tantangan, karena Satria Muda dihuni pemain muda dan pas juga tidak punya bigman.
Pikiran saya pada saat itu, bisa jadi saya adalah kepingan yang hilang itu, dan mungkin saya akan banyak main di sana. Pendekatan personal yang dilakukan petinggi Satria Muda juga berpengaruh besar dalam keputusan yang saya ambil.
Manajer Satria Muda Simon Pasaribu sering datang ke Surabaya untuk bertemu langsung. Di situ saya menaruh respek karena pendekatan personal yang mereka lakukan.
Sebelum saya bergabung, Satria Muda kan citranya dikenal klub yang anak mudanya belagu-belagu, sempat khawatir juga. Tetapi begitu saya masuk tidak terlihat sama sekali pemain-pemainnya belagu. Mereka justru bekerja keras saat latihan.
Di Satria Muda juga saya sebagai bigman mulai bisa nembak tiga poin. Coach Ito [Fictor Roring] bilang saya harus belajar nembak tiga poin karena dia meyakini itu akan bagus buat saya dan tim.
Coach Ito sosok yang detail dan dia punya pengaruh besar dalam karier saya. Dia membuat tim sesuai dengan perannya masing-masing.
Kayak Faisal Julius Achmad tipe agak lambat bisa nembak, Wendha Wijaya yang akselerasi, Wahyu Widayat Jati alias Cacing dan Welly Wellyanson Situmorang yang obrak-abrik di low post, lalu saya yang passing, offense atau eksekusi nembak.
 Rony Gunawan dikenal sebagai bigman dengan kemampuan menembak yang memikat. (Dok. Satria Muda) |
Keputusan saya bergabung dengan Satria Muda pada akhirnya terbukti tidak salah. Total tujuh gelar juara kompetisi basket bisa diraih plus sejumlah penghargaan individu yang masuk lemari prestasi saya.
Dari tujuh gelar juara yang saya raih bersama Satria Muda, juara IBL musim 2014/2015 jadi yang paling berkesan. Saya pernah mau ditrade ke Pelita Jaya setelah Satria Muda kalah dari Aspac di final IBL 2013/2014.
Saya, Faisal Achmad dan Amin Prihantono ingin dilepas manajemen Satria Muda ke Pelita Jaya, yang ingin melakukan regenerasi pemain. Saya sudah sepakat sama Pelita Jaya, termasuk kontrak juga.
Pada akhirnya, saya ditahan untuk tetap di Satria Muda kemudian Faisal dan Amin yang ditrade ke Pelita Jaya. Di menit-menit akhir coach Ito sama Pak Erick memutuskan untuk tidak melepaskan saya karena pengalaman saya dirasa masih dibutuhkan.
Buat saya untuk bertahan tetap di Satria Muda benar-benar berat. Faisal dan Amin itu kan teman seperjuangan saya di Satria Muda. Mereka di sana dan saya tetap di Satria Muda, enggak enak sama mereka.
Menariknya di final IBL, Satria Muda bertemu Pelita Jaya. Waktu itu saya sudah termasuk pemain veteran, sisanya young guns dan berhasil meraih gelar juara. Setahun berselang saya memutuskan pensiun.
Sayangnya saat bersama Timnas Basket Indonesia, saya tidak pernah merasakan meraih medali emas. Medali perak jadi prestasi terbaik, tetapi mungkin akan beda ceritanya kalau ketika itu Timnas Basket Indonesia minimal punya pemain seperti Derrick Michael Xzavierro.
[Gambas:Video CNN]