Jakarta, CNN Indonesia -- Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin bersorak gembira seusai titel juara Indonesia Masters 2024 jatuh ke tangan mereka. Indonesia juga sedikit bersuka cita di tengah lara yang ada.
Leo dan Daniel larut dalam kegembiraan dan juga kelegaan setelah jadi juara Indonesia Masters 2024. Gembira karena titel juara Indonesia Masters 2024 berhasil mereka dapatkan dan lega karena rentetan hasil buruk bisa mereka akhiri di depan banyak pendukung Tim Badminton Indonesia di Istora.
Awal 2024, Tim Badminton Indonesia masih melalui perjalanan terjal yang kelam. Kegagalan seolah jadi alarm jam yang tidak pernah benar-benar dimatikan. Berulang-ulang berbunyi, menuntut kesadaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah Tim Badminton Indonesia gagal di Malaysia Open, mereka justru tampil konsisten dalam konteks negatif di India Open. Tanpa wakil di semifinal saat berlaga di Malaysia, mengulang hal yang sama di India.
Hari-hari buruk di Malaysia dan India itu yang kemudian dibawa Tim Badminton Indonesia ke ajang Indonesia Masters. Tim Badminton Indonesia benar-benar berada dalam situasi berbahaya menuju turnamen ini.
Pertama, beban berat diusung karena sudah dua kali gagal juara di Malaysia dan India. Bukan sekadar gagal juara, Tim Badminton Indonesia bahkan tak punya wakil di semifinal saat masih ada 20 slot tersedia.
Kedua, Indonesia Masters merupakan level Super 500, di bawah Malaysia Open dan India Open. Sejumlah pemain top absen dan di atas kertas kualitas turnamen dan persaingan tentu ada di bawah dua turnamen sebelumnya.
Tantangan pertama, menghadirkan wakil di semifinal bisa dilalui dengan baik. Empat wakil di semifinal dengan garansi satu wakil di final.
Namun nyatanya Lanny Tria Mayasari/Ribka Sugiarto dan Anthony Ginting tumbang di semifinal. Leo/Daniel mengalahkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan maju sendirian sebagai wakil Indonesia di partai puncak.
Beban Leo/Daniel tampil di partai puncak tidak main-main. Mereka menanggung beban Tim Badminton Indonesia yang masih hampa gelar di turnamen elite pada awal 2024 secara keseluruhan, juga beban diri mereka sendiri yang menurun dalam grafik penampilan.
Lawan yang ada di hadapan mereka juga bukan sembarangan, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen. Dalam beberapa bulan terakhir, Astrup/Rasmussen tampil impresif sehingga peringkatnya terus naik. Di Indonesia Masters pun ia duduk sebagai unggulan kedua.
Dalam final yang penuh ketegangan tersebut, Leo/Daniel sempat membuang match point di game kedua. Namun Leo/Daniel bisa dominan dan tak tertahankan untuk menang di game ketiga.
 Anthony Ginting sejatinya punya peluang bagus untuk jadi juara di Indonesia Masters. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT) |
Kemenangan Leo/Daniel di Indonesia Masters adalah sebuah kegembiraan. Namun ini hanya sekadar rintik-rintik kecil kebahagiaan di tengah terik kegagalan yang masih menyengat kuat.
Catatan satu gelar juara dari total 15 gelar juara pada tiga turnamen awal tentu bukan catatan yang superior. Hal ini yang harus disadari oleh PBSI bahwa situasi krisis belum sepenuhnya berlalu.
Masih ada banyak pekerjaan rumah menunggu untuk dibereskan, mulai dari penampilan Jonatan Christie dan Anthony Ginting yang malah jadi korban kejutan hingga deret pasukan ganda campuran yang makin jauh dari ekspektasi dan harapan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Leo/Daniel Mengejar Tiket Olimpiade
Leo/Daniel masih harus berusaha keras untuk bisa memegang tiket menuju Olimpiade. (CNNIndonesia/Andry Novelino)
Sejak memenangkan dua turnamen beruntun di Indonesia Masters dan Thailand Masters tahun lalu, Leo/Daniel jadi salah satu ganda andalan Indonesia untuk tampil di Olimpiade. Namun alih-alih saling sikut dengan ganda putra Indonesia lainnya, pasukan ganda putra Indonesia malah melempem.
Dalam race to Olympics, peringkat tertinggi sebelum Indonesia Masters ditempati oleh Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, itu pun di posisi delapan. Ganda lainnya masih berada di luar zona delapan besar, termasuk Leo/Daniel.
Padahal syarat untuk mengirim dua wakil ganda putra adalah keduanya harus berada di zona delapan besar. Bayangan punya lebih dari dua wakil yang bakal bersaing ketat, seperti yang terjadi di Race to Olympics 2020, kini justru musnah berganti harap bahwa pasukan ganda putra Indonesia masih mampu mengirim dua wakil.
Kemenangan Leo/Daniel di Indonesia Masters bisa jadi sinyal bahwa Leo/Daniel masih punya asa untuk lolos ke Olimpiade. Walaupun selisih poin dengan ganda lain di zona delapan besar masih di kisaran belasan ribu, Leo/Daniel masih punya waktu untuk berjuang.
Masih ada tiga bulan untuk mengejar dan bisa masuk di zona delapan besar. Karena itulah kemenangan Leo/Daniel di Indonesia Masters patut disikapi dengan bijak dan wajar.
Leo/Daniel, juga Fajar/Rian, Bagas/Fikri, dan Ahsan/Hendra belum benar-benar ada dalam posisi aman agar Indonesia punya dua wakil di Paris. Pola pikir yang harus terus ditegaskan adalah bahwa situasi saat ini masih krisis.
 Leo/Daniel berhasil jadi juara Indonesia Masters 2024 dan mendapatkan tambahan poin berharga dalam race to Olympics. (CNNIndonesia/Andry Novelino) |
Sebagai juara dunia junior 2019, Olimpiade Paris yang berlangsung lima tahun kemudian adalah panggung ideal bagi Leo/Daniel untuk unjuk kemampuan. Salah satu rival mereka semasa junior, Wang Chang kini sudah dalam posisi yang terbilang aman bersama Liang Weikeng.
Karena itulah momentum lolos ke Paris 2024 begitu berharga untuk tidak dimasukkan sebagai sebuah keharusan. Bila mereka melewatkan kesempatan di Paris 2024, belum tentu Leo dan Daniel masih berdiri sebagai pasangan saat mengejar tiket Olimpiade Los Angeles 2028.
Kemenangan Leo/Daniel memang menghadirkan bahagia, namun lara yang dialami oleh Leo/Daniel dan Tim Badminton Indonesia belum sepenuhnya reda.
[Gambas:Video CNN]