Awas Timnas Indonesia, Jangan Jadi Vietnam dan Thailand Berikutnya
abs | CNN Indonesia
Kamis, 27 Jun 2024 19:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Shin Tae Yong harus pandai meracik komposisi tim agar bisa tampil kompetitif. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Semua pihak sadar diri. Indonesia belum selevel Jepang, Australia, atau Arab Saudi. Kalau soal jangan kalah sebelum bertanding, sudah pasti mentalitas ini dimiliki pemain Timnas.
Pertanyaan pertama lantas muncul, bisakah Indonesia menjuarai Grup C? Tak ada yang tidak bisa, akan tetapi rasa-rasanya berlebihan menyebut Indonesia akan juara grup.
Kalau lolos otomatis tak bisa, apakah mungkin lolos ke fase keempat kualifikasi? Peringkat ketiga dan keempat Grup C memang paling memungkinan untuk digapai.
Kuncinya tentu bukan di laga pertama atau saat melawan Arab. Kuncinya ada di pertandingan kandang pertama, saat menjamu Australia pada 10 September 2024.
Mengapa pas lawan Australia? Tak bisa dinafikan bahwa laga kandang selalu punya magis lebih. Laga kandang Indonesia di fase kedua kualifikasi misalnya, melawan Vietnam, jadi kunci.
Begitupun saat lawan Australia, akan menjadi kunci. Tentu saja perjalanan pulang dari Arab Saudi ke Indonesia menentukan. Jika transit, fisik pemain bisa terkuras habis.
Laga kandang jadi momentum bagi Timnas Indonesia untuk meraup poin. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Kisah kelam perjalanan dari Irak ke Filipina jadi contoh. Penerbangan panjang dengan transit membuat pemain tidak prima di laga kedua. PSSI kiranya menyiapkan ini dengan matang.
Hal sama berlaku untuk pertandingan periode Oktober melawan Bahrain dan China. Untuk dua laga tandang ini, mau tak mau PSSI harus menyiapkan akomodasi terbaik.
Jika tidak disiapkan dengan bagus, kans meraih poin di kandang lawan akan berat. Apalagi ada potensi Indonesia kalah dari Arab Saudi dan Australia pada September 2024.
Jangan sampai Indonesia seperti Vietnam dan Thailand. Empat laga pertama, melawan Arab Saudi, Australia, Bahrain, dan China, akan membuka tabir seberapa besar kans Indonesia.
PSSI juga perlu bijak menetapkan stadion tempat bertanding. Surabaya sejauh ini jadi pilihan untuk laga melawan Australia, tetapi ada baiknya tetap di GBK, Senayan, Jakarta.
Pada fase akhir Kualifikasi Piala Dunia 2018, Thailand jadi satu-satunya wakil ASEAN. Hasilnya tim Gajah Perang menjadi juru kunci grup dengan dua poin hasil dua kali imbang dari 10 laga.
Setelah itu Vietnam jadi satu-satunya wakil Asia Tenggara saat fase akhir Kualifikasi Piala Dunia 2022. Hasilnya The Golden Star jadi juru kunci klasemen dengan satu kemenangan dan sekali imbang, serta delapan kali kalah.
Kini, di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Indonesia jadi satu-satunya wakil ASEAN. Dan, skuad Garuda diprediksi akan bernasib tak jauh berbeda dengan Thailand dan Vietnam.
Bahkan, lawan-lawan yang akan dihadapi Indonesia nyaris sama dengan Vietnam pada 2021 dan 2022 lalu. Ketika itu lawan Vietnam adalah Jepang, Australia, Arab Saudi, Oman, dan China.
Tim yang sama akan dihadapi Indonesia, kecuali Oman. Kini posisi Oman diisi Bahrain. Namun, peta kekuatan dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022 dan 2026 dinilai tak jauh berbeda.
Apa yang bisa membuat Indonesia tak senasib dengan Vietnam dan Thailand? Kuncinya adalah menang atas China dan Bahrain di kandang dan minimal imbang saat tandang.
Jika ini tercapai, poin yang dikumpulkan Indonesia minimal delapan. Dengan delapan poin, jika berkaca dari kualifikasi edisi 2018 dan 2022, ada potensi berada di posisi keempat.
Berkaca dari fase kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026, kekuatan Bahrain dan China tidak begitu menawan. Keduanya sama-sama lolos sebagai runner grup, sama seperti Indonesia.
Mengacu head to head, Indonesia tak layak pula inferior dari Bahrain dan China. Dengan Bahrain misalnya sudah bentrok tujuh kali. Hasilnya dua kali menang dan imbang serta tiga kali kalah.
Adapun dengan China baru dua kali bertemu. Dari dua perseteruan itu, sekali imbang dan kalah. Kendati belum pernah menang, saat ini kekuatan sepak bola China tak lagi gagah.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut>>>
Laga Kandang dan Manajemen Penerbangan
Shin Tae Yong harus pandai meracik komposisi tim agar bisa tampil kompetitif. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Semua pihak sadar diri. Indonesia belum selevel Jepang, Australia, atau Arab Saudi. Kalau soal jangan kalah sebelum bertanding, sudah pasti mentalitas ini dimiliki pemain Timnas.
Pertanyaan pertama lantas muncul, bisakah Indonesia menjuarai Grup C? Tak ada yang tidak bisa, akan tetapi rasa-rasanya berlebihan menyebut Indonesia akan juara grup.
Kalau lolos otomatis tak bisa, apakah mungkin lolos ke fase keempat kualifikasi? Peringkat ketiga dan keempat Grup C memang paling memungkinan untuk digapai.
Kuncinya tentu bukan di laga pertama atau saat melawan Arab. Kuncinya ada di pertandingan kandang pertama, saat menjamu Australia pada 10 September 2024.
Mengapa pas lawan Australia? Tak bisa dinafikan bahwa laga kandang selalu punya magis lebih. Laga kandang Indonesia di fase kedua kualifikasi misalnya, melawan Vietnam, jadi kunci.
Begitupun saat lawan Australia, akan menjadi kunci. Tentu saja perjalanan pulang dari Arab Saudi ke Indonesia menentukan. Jika transit, fisik pemain bisa terkuras habis.
Laga kandang jadi momentum bagi Timnas Indonesia untuk meraup poin. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Kisah kelam perjalanan dari Irak ke Filipina jadi contoh. Penerbangan panjang dengan transit membuat pemain tidak prima di laga kedua. PSSI kiranya menyiapkan ini dengan matang.
Hal sama berlaku untuk pertandingan periode Oktober melawan Bahrain dan China. Untuk dua laga tandang ini, mau tak mau PSSI harus menyiapkan akomodasi terbaik.
Jika tidak disiapkan dengan bagus, kans meraih poin di kandang lawan akan berat. Apalagi ada potensi Indonesia kalah dari Arab Saudi dan Australia pada September 2024.
Jangan sampai Indonesia seperti Vietnam dan Thailand. Empat laga pertama, melawan Arab Saudi, Australia, Bahrain, dan China, akan membuka tabir seberapa besar kans Indonesia.
PSSI juga perlu bijak menetapkan stadion tempat bertanding. Surabaya sejauh ini jadi pilihan untuk laga melawan Australia, tetapi ada baiknya tetap di GBK, Senayan, Jakarta.