Benarkah Timnas Indonesia U-20 Belum Cukup Kuat di Piala Asia U-20?
Abdul Susila | CNN Indonesia
Senin, 30 Sep 2024 08:31 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jens Raven harus lebih ngotot di Piala Asia U-20 2025. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Indra Sjafri sudah dua kali memimpin anak-anak Timnas Indonesia U-20 tampil di Piala Asia. Pertama di Piala Asia U-19 2014 dan kedua di Piala Asia U-19 2018.
Hasilnya, di Myanmar (2014) hancur lebur dan di Jakarta (2018) lolos hingga babak delapan besar. Akankah di 2025 nanti Indra menembus babak semifinal atau lolos ke Piala Dunia?
Itu harapan dan target PSSI, juga Indra. Tentu saja bukan perkara mudah meraih tiket ke Piala Dunia U-20 2025 di Chile. Jawara-jawara Asia bakal mengadang.
Jepang, Iran, Korea Selatan, Arab Saudi, Irak, Uzbekistan, dan Australia tak akan memberikan tiket ke Piala Dunia U-20 2025 dengan cuma-cuma. Mereka juga memburu tiket itu.
Jika berkaca dari hasil uji coba sebelum tampil di Piala AFF U-19 2024 dan Kualifikasi Piala Asia U-20 2025, performa Indonesia sepertinya masih jauh dari meyakinkan.
Buktinya, Iqbal Gwijangge dan kawan-kawan dua kali takluk dari Thailand dan Korea Selatan, sekali kalah dari Uzbekistan dan Jepang, serta dua kali imbang dengan China.
Dan, waktu sudah tak panjang. Indra hanya punya waktu empat bulan menatap Piala Asia U-20 2025. Mencari pemain tambahan pun bukan perkara yang mudah.
Salah satu opsi, jika tidak dibilang instan, adalah dengan naturalisasi pemain berdarah Indonesia di Eropa atau memanggil pulang diaspora yang terabaikan.
Indra tak keberatan dengan program naturalisasi. Globalisasi sepak bola semakin sulit dibendung. Apalagi kompetisi usia muda milik PSSI belum bertaji.
Bagusnya, Dony sebagai kapten Indonesia U-20, tak gentar dengan globalisasi tim nasional ini. Ia siap bersaing. Kiranya semua pemain bertekad di pikiran, lisan, dan tindakan.
Jalan ke Piala Dunia, baik U-20 maupun senior, tengah dirajut PSSI. Dan, Indra ditantang mengeluarkan seluruh kemahirannya untuk mewujudkan hal tersebut.
(abs/jun)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tim asuhan Indra Sjafri disebut Shin Tae Yong, pelatih Timnas Indonesia, belum cukup kuat untuk bisa bersaing di pentas Asia.
Itu diucapkan Shin seusai laga Indonesia U-20 kontra Yaman U-20 di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, dalam Kualifikasi Piala Asia U-20 2025, Minggu (29/9) malam.
"Kalau kita lolos ke Asia, pastinya dibutuhkan pemain-pemain yang postur tubuhnya tinggi dan baik karena dibutuhkan pemain pemain dengan power bagus," kata Shin.
Indra mengakui bahwa tim asuhannya masih membutuhkan tambahan kualitas. Bukan sebatas tambahan pemain keturunan atau naturalisasi, tetapi juga talenta-talenta kuat.
"Mungkin tepatnya kita butuh pemain yang lebih berkualitas, apakah dia keturunan atau bukan," kata Indra di jumpa pers, menanggapi analisis Shin yang menonton langsung di Madya.
Ini bukan konfrontasi. Ini hanya realitas sudut pandang. Shin sebagai pelatih tim senior memberikan pandangan atas kinerja tim kategori usia yang diasuh Indra.
Pertanyaan muncul, benarkah Garuda Nusantara akan sulit bersaing jika hanya mengandalkan skuad yang ada saat ini? Jika permainan melawan Yaman tolok ukurnya, ada benarnya.
Sisi sayap Indonesia, baik bek sayap maupun winger, seperti kurang bertenaga. Hanya Dony Tri Pamungkas yang punya nilai plus dalam bertahan dan menyerang.
Sisanya, seperti Muhammad Mufli Hidayat, Arlyansyah Abdulmanan, Riski Aprisal, hingga Figo Dennis Saputrananto, agak kepayahan saat berhadapan pemain Yaman.
Begitu pula dengan lini tengah. Tak ada sosok 'cerdik cendikia' yang lihai mengatur irama permainan. Indra belum menemukan seorang dirigen yang berani dan mumpuni.
Lini pertahanan Indonesia juga dianggap kurang berisi. Postur tubuh pemain dinilai belum ideal. Dalam hal kegesitan, hanya Kadek Arel Priyatna yang tampak menonjol.
Baca di halaman berikutnya>>>
Tantangan dan Ambisi ke Piala Dunia U-20
Jens Raven harus lebih ngotot di Piala Asia U-20 2025. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Indra Sjafri sudah dua kali memimpin anak-anak Timnas Indonesia U-20 tampil di Piala Asia. Pertama di Piala Asia U-19 2014 dan kedua di Piala Asia U-19 2018.
Hasilnya, di Myanmar (2014) hancur lebur dan di Jakarta (2018) lolos hingga babak delapan besar. Akankah di 2025 nanti Indra menembus babak semifinal atau lolos ke Piala Dunia?
Itu harapan dan target PSSI, juga Indra. Tentu saja bukan perkara mudah meraih tiket ke Piala Dunia U-20 2025 di Chile. Jawara-jawara Asia bakal mengadang.
Jepang, Iran, Korea Selatan, Arab Saudi, Irak, Uzbekistan, dan Australia tak akan memberikan tiket ke Piala Dunia U-20 2025 dengan cuma-cuma. Mereka juga memburu tiket itu.
Jika berkaca dari hasil uji coba sebelum tampil di Piala AFF U-19 2024 dan Kualifikasi Piala Asia U-20 2025, performa Indonesia sepertinya masih jauh dari meyakinkan.
Buktinya, Iqbal Gwijangge dan kawan-kawan dua kali takluk dari Thailand dan Korea Selatan, sekali kalah dari Uzbekistan dan Jepang, serta dua kali imbang dengan China.
Dan, waktu sudah tak panjang. Indra hanya punya waktu empat bulan menatap Piala Asia U-20 2025. Mencari pemain tambahan pun bukan perkara yang mudah.
Salah satu opsi, jika tidak dibilang instan, adalah dengan naturalisasi pemain berdarah Indonesia di Eropa atau memanggil pulang diaspora yang terabaikan.
Indra tak keberatan dengan program naturalisasi. Globalisasi sepak bola semakin sulit dibendung. Apalagi kompetisi usia muda milik PSSI belum bertaji.
Bagusnya, Dony sebagai kapten Indonesia U-20, tak gentar dengan globalisasi tim nasional ini. Ia siap bersaing. Kiranya semua pemain bertekad di pikiran, lisan, dan tindakan.
Jalan ke Piala Dunia, baik U-20 maupun senior, tengah dirajut PSSI. Dan, Indra ditantang mengeluarkan seluruh kemahirannya untuk mewujudkan hal tersebut.