Ini sama dengan kekalahan 1-2 dari China. Dalam pertandingan itu ball possession Merah Putih mencapai 76 persen berbanding 24 persen. Unggul, tapi kalah.
Adapun ketika menang 2-1 atas Arab Saudi, Indonesia kalah ball possession. waktu itu Indonesia hanya menguasai bola sebanyak 23,3 persen, tetapi menang.
Begitu pula saat imbang 1-1 dengan Arab Saudi dan sama kuat 0-0 dengan Australia pada 2024. Ball possession Indonesia rendah, tetapi hasilnya dapat poin.
Main lebih terbuka, agresif menyerang, dan mendikte lawan, sepertinya belum cocok dengan Indonesia. Menguasai permainan tak selalu berbuah kemenangan.
Namun, kekalahan dari Australia ini belum layak dijadikan air pemadam mimpi dan imajinasi tampil di Piala Dunia 2026. Perjuangan harus dikobarkan.
Seperti minum jamu, kekalahan ini kudu jadi memotivasi untuk laga berikutnya. Seperti juga kekalahan dari Jepang dibayar dengan kemenangan atas Arab.
Berikutnya, lawan yang akan dihadapi adalah Bahrain. Pertandingan ini akan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan pada Selasa (25/3) malam.
Mimpi dan imajinasi tampil di Piala Dunia 2026 harus tetap dihidupkan. Hujatan dan kritik bisa saja mendera, tetapi semangat juang sama sekali tak boleh patah.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Pakem pertahanan Timnas Indonesia pada era Shin Tae Yong adalah tiga bek sejajar. Formasi ini membuahkan enam poin dari enam pertandingan.
Rupanya Patrick Kluivert kurang cocok dengan pola tiga bek tersebut. Pria 48 tahun lantas merekonstruksi sisi pertahanan saat jumpa Australia.
Bukan hanya soal formasi tiga atau empat bek, tetapi juga pemain yang dipilih. Pakem Rizky Ridho dan Jay Idzes sebagai bek utama dirombak Kluivert.
Mantan pemain Barcelona dan AC Milan ini lebih memilih Mees Hilgers sebagai pendamping Idzes. Komposisi ini terlihat sangar, tetapi ternyata rapuh.
Gaya bermain Idzes, Hilgers, plus Kevin Diks sebagai bek tengah juga hampir-hampir mirip. Ketiganya sama-sama bisa berperan seperti libero.
Karena itu koordinasi ketiga pemain ini seperti ada kendala. Ini pula yang membuat gol kedua, ketiga, keempat, dan kelima Australia tercipta.
Patrick Kluivert harus menemukan formula yang ampuh untuk menghadapi Bahrain. (AFP/DAVID GRAY)
Sebaliknya, saat Ridho masuk menggantikan Sandy Walsh, koordinasi jadi lebih solid. Ridho dan Idzes seperti punya intuisi yang sama saat bertahan.
Karenanya pula Kluivert layak menimbang ulang pasangan Ridho-Idzes sebagai duet bek tengah, termasuk formasi tiga bek yang selama ini dipraktikkan.
Ini bukan soal bayang-bayang pelatih sebelumnya. Ini soal mimpi dan imajinasi sebagian besar rakyat Indonesia untuk melihat tim kesayangannya di Piala Dunia.
Sebuah keniscayaan bahwa Kluivert akan ditekan habis-habisan oleh suporter. Sekarang tinggal bagaimana Kluivert menunjukkan kharismanya.
Inilah saat bagi Kluivert untuk unjuk mimpi dan imajinasi yang sama: tampil di Piala Dunia 2026. Jika sama mimpinya, bangkit dan berjuanglah lawan Bahrain.
Ini sama dengan kekalahan 1-2 dari China. Dalam pertandingan itu ball possession Merah Putih mencapai 76 persen berbanding 24 persen. Unggul, tapi kalah.
Adapun ketika menang 2-1 atas Arab Saudi, Indonesia kalah ball possession. waktu itu Indonesia hanya menguasai bola sebanyak 23,3 persen, tetapi menang.
Begitu pula saat imbang 1-1 dengan Arab Saudi dan sama kuat 0-0 dengan Australia pada 2024. Ball possession Indonesia rendah, tetapi hasilnya dapat poin.
Main lebih terbuka, agresif menyerang, dan mendikte lawan, sepertinya belum cocok dengan Indonesia. Menguasai permainan tak selalu berbuah kemenangan.
Namun, kekalahan dari Australia ini belum layak dijadikan air pemadam mimpi dan imajinasi tampil di Piala Dunia 2026. Perjuangan harus dikobarkan.
Seperti minum jamu, kekalahan ini kudu jadi memotivasi untuk laga berikutnya. Seperti juga kekalahan dari Jepang dibayar dengan kemenangan atas Arab.
Berikutnya, lawan yang akan dihadapi adalah Bahrain. Pertandingan ini akan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan pada Selasa (25/3) malam.
Mimpi dan imajinasi tampil di Piala Dunia 2026 harus tetap dihidupkan. Hujatan dan kritik bisa saja mendera, tetapi semangat juang sama sekali tak boleh patah.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Formula Pertahanan Kluivert Berantakan
Racikan taktik Patrick Kluivert tak bertuah saat Indonesia dihajar Australia. (dok. PSSI)
Pakem pertahanan Timnas Indonesia pada era Shin Tae Yong adalah tiga bek sejajar. Formasi ini membuahkan enam poin dari enam pertandingan.
Rupanya Patrick Kluivert kurang cocok dengan pola tiga bek tersebut. Pria 48 tahun lantas merekonstruksi sisi pertahanan saat jumpa Australia.
Bukan hanya soal formasi tiga atau empat bek, tetapi juga pemain yang dipilih. Pakem Rizky Ridho dan Jay Idzes sebagai bek utama dirombak Kluivert.
Mantan pemain Barcelona dan AC Milan ini lebih memilih Mees Hilgers sebagai pendamping Idzes. Komposisi ini terlihat sangar, tetapi ternyata rapuh.
Gaya bermain Idzes, Hilgers, plus Kevin Diks sebagai bek tengah juga hampir-hampir mirip. Ketiganya sama-sama bisa berperan seperti libero.
Karena itu koordinasi ketiga pemain ini seperti ada kendala. Ini pula yang membuat gol kedua, ketiga, keempat, dan kelima Australia tercipta.
Patrick Kluivert harus menemukan formula yang ampuh untuk menghadapi Bahrain. (AFP/DAVID GRAY)
Sebaliknya, saat Ridho masuk menggantikan Sandy Walsh, koordinasi jadi lebih solid. Ridho dan Idzes seperti punya intuisi yang sama saat bertahan.
Karenanya pula Kluivert layak menimbang ulang pasangan Ridho-Idzes sebagai duet bek tengah, termasuk formasi tiga bek yang selama ini dipraktikkan.
Ini bukan soal bayang-bayang pelatih sebelumnya. Ini soal mimpi dan imajinasi sebagian besar rakyat Indonesia untuk melihat tim kesayangannya di Piala Dunia.
Sebuah keniscayaan bahwa Kluivert akan ditekan habis-habisan oleh suporter. Sekarang tinggal bagaimana Kluivert menunjukkan kharismanya.
Inilah saat bagi Kluivert untuk unjuk mimpi dan imajinasi yang sama: tampil di Piala Dunia 2026. Jika sama mimpinya, bangkit dan berjuanglah lawan Bahrain.