Timnas Putri Indonesia Butuh Sentuhan dari Hati ke Hati
Abdul Susila | CNN Indonesia
Jumat, 04 Jul 2025 07:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Taiwan akan menghadirkan tantangan yang berbeda bagi Timnas Putri Indonesia. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Melawan tim seperti Taiwan yang punya teknik individu mumpuni serta kolektivitas permainan yang baik, Timnas Putri Indonesia butuh lebih dari sekadar main bagus.
Jika dalam dua laga sebelumnya Satoru Mochizuki menerapkan skema empat bek, tak ada salahnya bermain pragmatis dengan tiga bek sejajar, seperti yang sering dipakai tim putra.
Komposisi Safira Ika, Vivi Oktavia, dan Emily Julia Frederica Nahon sebagai tiga serangkai rasanya sudah solid. Tinggal bagaimana membangun chemistry yang baik antara ketiganya.
Siapa yang akan jadi bek sayap? Untuk bek kanan mungkin akan diberikan ke Gea Yumanda, tetapi siapa di kiri? Zahra Muzdalifah sempat mengisi pos ini, sayang performanya kurang impresif.
Pilihan lainnya, Remini Chere Rumbewas dan Noa Johanna Leatomu. Remini punya kecepatan. Hanya saja umpan silang dara asal Papua ini kurang bisa memanjakan lini depan.
Untuk menentukan siapa yang paling pas, Mochizuki perlu bicara empat mata dengan pemain. Sejauh ini posisi bek sayap kiri jadi titik lemah yang selalu dieksploitasi lawan.
Pemain seperti Helsya Maeisyaroh, yang suka melepas tembakan jarak jauh, bisa jadi opsi. Sebelumnya, pemain yang berkiprah di Jepang ini dua kali dijadikan pemain pengganti.
Sebagai pengatur serangan, peran Felicia Victoria de Zeeuw mungkin juga bisa dioptimalkan. Umpan terobosan dan penetrasi jarak dekatnya bisa jadi mesin perusak lini tengah lawan.
Tentu pula, taktik dan skema yang dibangun, akan berjalan baik jika memenuhi tiga unsur, yakni disiplin, solid, dan tenang. Tanpa ketiga unsur ini, sistem main bisa buyar.
Disiplin bertahan, utamanya, jadi persoalan. Soliditas di tengah juga perlu ditingkatkan. Adapun lini depan sangat butuh ketenangan untuk menyelesaikan peluang yang dibangun dan diperoleh.
Dan, kembali lagi, ini bisa terwujud jika hati pemain menyatu. Sebelas pemain yang tampil di lapangan dan yang duduk di bangku cadangan, saling memberikan hatinya untuk kemenangan.
Kini tersisa satu laga bagi Indonesia untuk bisa meraih tiket ke putaran final Piala Asia 2026. Lawan yang akan dihadapi paga laga pemungkas adalah tim terkuat Grup D, Taiwan.
Pertandingan ini akan berlangsung di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, Banten, Sabtu (5/7) malam. Sebelum itu, sore harinya, Pakistan akan berhadapan dengan Kirgistan.
Secara teori; catatan di atas kertas, Garuda Pertiwi tak diunggulkan atas Taiwan. Semua aspek menunjukkan bahwa tim penghuni peringkat ke-42 FIFA itu jauh lebih baik.
Namun, hukum sepak bola tak begitu. Pakistan bukti nyatanya. Sebelum duel dengan Indonesia yang berkesudahan 2-0 untuk tim tamu, nyaris tak ada yang mengunggulkan mereka.
Statistik, peringkat FIFA, sejarah, juga situasi sebelum laga, menunjukkan Indonesia akan digdaya. Realitanya, Pakistan berhasil membuat kejutan dengan menaklukkan Indonesia.
Hal sama mungkin saja tercipta saat Indonesia bentrok dengan Taiwan. Sangat pantas Garuda Pertiwi tak diunggulkan, tetapi kinerja di lapangan jangan sampai berantakan.
Saat ini, perasaan hati Safira Ika dan kawan-kawan mungkin patah. Mereka harus menelan kenyataan pahit. Kendati demikian rasa kecewa, bahkan marah, ini tak pantas bertahan lama.
Pilihan hanya dua, jadi katak dalam tempurung atau kura-kura menantang balapan. Dan, dua pilihan ini sedikit banyak bisa tercipta atas pengaruh orang-orang terdekat tim.
Ya, Timnas Putri Indonesia butuh sentuhan hati dari tim pelatih. Dalam hal ini Satoru Mochizuki. Hati pemain butuh dielus, agar psikologis negatif ditendang jauh-jauh dari isi kepala dan dada.
Bicara dari hati ke hati memang terdengar klise. Pendekatan yang klasik. Namun, formula itu terbukti bisa membuat banyak tim bangkit. Tak ada salahnya pula dipakai Indonesia.
Baca lanjutan analisis ini di halaman selanjutnya>>>
Bangun Disiplin, Solid, dan Tenang
Taiwan akan menghadirkan tantangan yang berbeda bagi Timnas Putri Indonesia. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Melawan tim seperti Taiwan yang punya teknik individu mumpuni serta kolektivitas permainan yang baik, Timnas Putri Indonesia butuh lebih dari sekadar main bagus.
Jika dalam dua laga sebelumnya Satoru Mochizuki menerapkan skema empat bek, tak ada salahnya bermain pragmatis dengan tiga bek sejajar, seperti yang sering dipakai tim putra.
Komposisi Safira Ika, Vivi Oktavia, dan Emily Julia Frederica Nahon sebagai tiga serangkai rasanya sudah solid. Tinggal bagaimana membangun chemistry yang baik antara ketiganya.
Siapa yang akan jadi bek sayap? Untuk bek kanan mungkin akan diberikan ke Gea Yumanda, tetapi siapa di kiri? Zahra Muzdalifah sempat mengisi pos ini, sayang performanya kurang impresif.
Pilihan lainnya, Remini Chere Rumbewas dan Noa Johanna Leatomu. Remini punya kecepatan. Hanya saja umpan silang dara asal Papua ini kurang bisa memanjakan lini depan.
Untuk menentukan siapa yang paling pas, Mochizuki perlu bicara empat mata dengan pemain. Sejauh ini posisi bek sayap kiri jadi titik lemah yang selalu dieksploitasi lawan.
Pemain seperti Helsya Maeisyaroh, yang suka melepas tembakan jarak jauh, bisa jadi opsi. Sebelumnya, pemain yang berkiprah di Jepang ini dua kali dijadikan pemain pengganti.
Sebagai pengatur serangan, peran Felicia Victoria de Zeeuw mungkin juga bisa dioptimalkan. Umpan terobosan dan penetrasi jarak dekatnya bisa jadi mesin perusak lini tengah lawan.
Tentu pula, taktik dan skema yang dibangun, akan berjalan baik jika memenuhi tiga unsur, yakni disiplin, solid, dan tenang. Tanpa ketiga unsur ini, sistem main bisa buyar.
Disiplin bertahan, utamanya, jadi persoalan. Soliditas di tengah juga perlu ditingkatkan. Adapun lini depan sangat butuh ketenangan untuk menyelesaikan peluang yang dibangun dan diperoleh.
Dan, kembali lagi, ini bisa terwujud jika hati pemain menyatu. Sebelas pemain yang tampil di lapangan dan yang duduk di bangku cadangan, saling memberikan hatinya untuk kemenangan.