ANALISIS

Bahaya Ketajaman Semu 9 Gol Timnas U-23, Awas Tembakan Ngincar Burung

Nova Arifianto | CNN Indonesia
Rabu, 23 Jul 2025 06:39 WIB
Bahaya Ketajaman Semu 9 Gol Timnas U-23, Awas Tembakan Ngincar Burung
Mencari gol menjadi tugas para pemain, bukan beban penyerang saja. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)

Fokus seperti yang dikatakan Jens adalah hal penting. Bangkit dari kesalahan merupakan sesuatu yang harus dilakukan seorang atlet dalam pertandingan. Jauhkan pikiran negatif tentang hal yang sudah berlalu, dan bersiap menghadapi kesempatan yang ada.

Lawan di semifinal sudah barang tentu bakal mewaspadai Indonesia. Tak akan ada ruang kosong atau celah besar di daerah pertahanan karena mereka tahu tim Merah Putih terdiri dari pemain-pemain berkualitas.

Ada waktu istirahat yang cukup bagi para pemain untuk mendapatkan 'feeling' bertanding yang baik. Evaluasi dan relaksasi bisa berjalan segendang sepenarian menuju laga perebutan tiket final.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bersamaan dengan itu latihan mengasah ketajaman di tiap sesi yang ada tak bisa dianggap enteng.

Jens, Hokky Caraka, Rahmat, Victor, mungkin punya kans lebih dekat dengan gawang, namun pemain lain pun tetap memiliki peluang mendapat bola di kotak penalti atau area-area sepertiga akhir.

Dengan demikian beban mencetak gol tak cuma ada di pundak para penyerang. Kadek Arel atau Kakang Rudianto yang bertugas sebagai palang pintu bisa saja memberi sokongan ke kotak 16 lawan saat situasi bola mati.

Toni Firmansyah atau Robi juga punya peluang dari second line, serta lemparan ke dalam.

Sejatinya kepaduan sebagai tim sudah terjalin dan tercipta. Semua pemain terlibat dalam bertahan dan menyerang, hanya saja memang cakar Garuda masih belum seperti yang diharapkan untuk melukai lawan.

Kegagalan tampil buas pada dua laga terakhir menghadirkan tantangan mencetak gol pada laga semifinal. Tantangan ini memiliki hadiah besar berupa final atau bahkan gelar juara.

Bukan tidak mungkin gol-gol di semifinal, atau final, bisa saja jadi pembuka pintu bagi Jens atau pemain lain untuk masuk ke skuad Timnas Indonesia senior. Seperti yang diucap Erick Thohir, Patrick Kluivert sengaja menonton laga Timnas U-23 untuk memantau pemain guna kebutuhan FIFA Matchday September sebagai persiapan menuju Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Oke setop dulu sampai di sini. Jangan berpikir jauh macam-macam. Fokus hadapi lawan, cetak gol, dan semoga hasil baik jadi hasil akhir pada laga semifinal, Jumat (25/7). Doa kami (para suporter) di nadimu (Timnas Indonesia)!.

(nva)
Jakarta, CNN Indonesia --

Timnas Indonesia U-23 melaju ke semifinal Piala AFF U-23 2025. Kalau ada satu masalah yang masih mengkhawatirkan, tak lain adalah kemampuan finishing.

Satu poin dari laga melawan Malaysia cukup mengantarkan Indonesia ke puncak klasemen Grup A dan mendapat tiket ke semifinal.

Hasil imbang tanpa gol dalam duel menghadapi Harimau Muda tak cukup membuat hati tenang. Selama 90 menit rasa deg-degan dan waswas terus mendera. Lain hal bila Timnas Indonesia U-23 bisa mencetak gol, mungkin helaan napas panjang dan teriak kegirangan 'yes!' tak cuma muncul setelah wasit meniup peluit akhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketidakmampuan mencetak gol bukan lantaran tiada peluang di sepertiga akhir. Victor Dethan, Rahmat Arjuna, Doni Tri Pamungkas, Ahmad Maulana, Rayhan Hannan, Robi Darwis, dan Jens Raven beberapa kali melepas tembakan, sundulan, dan lemparan.

Dilansir dari situs resmi Piala AFF, Timnas Indonesia U-23 melepaskan tujuh upaya mencetak gol, namun hanya tiga yang berstatus on target. Sayang, tak ada satu pun yang masuk gawang.

Problematik penyelesaian akhir sudah mengemuka sejak laga kedua. Indonesia ketika itu cuma mencetak satu gol. Bunuh diri Jaime Rosquillo yang gagal mengantisipasi lemparan ke dalam Robi jadi pembeda dalam laga Indonesia vs Filipina.

Pada laga melawan Azkals Junior, Indonesia tercatat 13 kali berupaya menuntaskan penyelesaian akhir. Hasilnya tujuh on target dan enam melenceng.

Sebenarnya dalam laga melawan Brunei Darussalam yang berakhir dengan kemenangan delapan gol tanpa balas, Indonesia juga cuma punya persentasi akurasi tembakan tak lebih dari 60 persen. Dari 25 tembakan, 14 di antaranya mengarah ke gawang.

Bedanya saat melawan Brunei ada delapan gol tercipta dari 14 tembakan yang mengarah ke gawang tersebut.

Yang jadi masalah adalah kiranya laga lawan Brunei tak bisa dijadikan acuan untuk menghadapi semifinal menghadapi lawan dengan kekuatan 11-12 atau bahkan lebih baik dari Filipina dan Malaysia.

Demi menjadi juara, Timnas Indonesia U-23 wajib tampil 100 persen. Mengusahakan setiap tembakan, harus mengarah ke gawang, dan gol.

Jangan sampai ada tembakan meleset, atau malah melenceng jauh mengangkasa bak sedang 'mengincar burung'.

Tentunya semua pemain dan pelatih Timnas Indonesia U-23 sepakat, namun apa yang terjadi di atas lapangan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Pelatih Gerald Vanenburg dan Jens Raven pun mengakui kekurangan di skuad Garuda Muda setelah pertandingan melawan Negeri Jiran.

"Saya rasa benar, tim kami kurang dalam hal penyelesaian. Biasanya Jens mudah membuat gol, tetapi malam ini [melawan Malaysia] tidak seperti itu," kata Vanenburg.

"Mereka sangat bagus dalam bertahan dan mereka juga mendorong, menendang saya. Itu membuat sulit menciptakan peluang dan saya harus fokus ke laga selanjutnya," ujar Jens.

Baca lanjutan analisis Timnas Indonesia U-23 di halaman selanjutnya>>>

Tak Akan Ada Laga Mudah karena Lawan Tahu Kualitas Indonesia

Mencari gol menjadi tugas para pemain, bukan beban penyerang saja. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)

Fokus seperti yang dikatakan Jens adalah hal penting. Bangkit dari kesalahan merupakan sesuatu yang harus dilakukan seorang atlet dalam pertandingan. Jauhkan pikiran negatif tentang hal yang sudah berlalu, dan bersiap menghadapi kesempatan yang ada.

Lawan di semifinal sudah barang tentu bakal mewaspadai Indonesia. Tak akan ada ruang kosong atau celah besar di daerah pertahanan karena mereka tahu tim Merah Putih terdiri dari pemain-pemain berkualitas.

Ada waktu istirahat yang cukup bagi para pemain untuk mendapatkan 'feeling' bertanding yang baik. Evaluasi dan relaksasi bisa berjalan segendang sepenarian menuju laga perebutan tiket final.

Bersamaan dengan itu latihan mengasah ketajaman di tiap sesi yang ada tak bisa dianggap enteng.

Jens, Hokky Caraka, Rahmat, Victor, mungkin punya kans lebih dekat dengan gawang, namun pemain lain pun tetap memiliki peluang mendapat bola di kotak penalti atau area-area sepertiga akhir.

Dengan demikian beban mencetak gol tak cuma ada di pundak para penyerang. Kadek Arel atau Kakang Rudianto yang bertugas sebagai palang pintu bisa saja memberi sokongan ke kotak 16 lawan saat situasi bola mati.

Toni Firmansyah atau Robi juga punya peluang dari second line, serta lemparan ke dalam.

Sejatinya kepaduan sebagai tim sudah terjalin dan tercipta. Semua pemain terlibat dalam bertahan dan menyerang, hanya saja memang cakar Garuda masih belum seperti yang diharapkan untuk melukai lawan.

Kegagalan tampil buas pada dua laga terakhir menghadirkan tantangan mencetak gol pada laga semifinal. Tantangan ini memiliki hadiah besar berupa final atau bahkan gelar juara.

Bukan tidak mungkin gol-gol di semifinal, atau final, bisa saja jadi pembuka pintu bagi Jens atau pemain lain untuk masuk ke skuad Timnas Indonesia senior. Seperti yang diucap Erick Thohir, Patrick Kluivert sengaja menonton laga Timnas U-23 untuk memantau pemain guna kebutuhan FIFA Matchday September sebagai persiapan menuju Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Oke setop dulu sampai di sini. Jangan berpikir jauh macam-macam. Fokus hadapi lawan, cetak gol, dan semoga hasil baik jadi hasil akhir pada laga semifinal, Jumat (25/7). Doa kami (para suporter) di nadimu (Timnas Indonesia)!.

[Gambas:Video CNN]


HALAMAN:
1 2