Bisa Apa Pemain Indonesia dari Invasi Talenta Asing di Super League?
Abdul Susila | CNN Indonesia
Kamis, 07 Agu 2025 07:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Dewa United didukung pemain asing papan atas jelang Super League 2025/2026. (ANTARA FOTO /MOHAMMAD AYUDHA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Mulai Jumat (8/8), tujuh pemain asing bisa starter dalam setiap pertandingan Super League 2025/2026. Bisa apa pemain Indonesia?
Hingga satu hari menjelang kick off atau sepak mula Liga Super, mayoritas tim telah menyempurnakan perburuan pemain asingnya. Skuad final untuk putaran pertama telah diumumkan.
Ada empat klub yang telah mengontrak 10 pemain asing dari kuota 11 pemain. Keempat tim itu adalah Arema FC, Borneo FC Samarinda, Bhayangkara Presisi Lampung FC, dan Persija Jakarta.
Lantas ada enam tim yang punya sembilan pemain asing atau kesemuanya bisa masuk daftar susunan pemain. Ini skema pemain paling ideal bagi klub, sebab tak ada 'amunisi' yang terbuang.
Sisanya, lima tim punya delapan pemain asing dan dua tim mengontrak tujuh pemain asing. Hanya PSM Makassar yang baru punya enam pemain asing, itu pun karena pintu transfer mereka sedang dibekukan FIFA.
Situasi ini membuat aura persaingan di kompetisi kasta tertinggi Indonesia tampak ketat. Dua jawara dalam empat musim beruntun, Persib Bandung dan Bali United, jadi tak begitu istimewa.
Dewa United, yang musim lalu menjadi runner up liga, mempertontonkan diri jadi salah satu kandidat kuat pemburu gelar liga. Tim ibu kota Persija Jakarta juga terlihat bergairah.
Melihat daftar pemain asing di Super League 2025/2026, 'tentara bayaran' dari Brasil mendominasi. Total ada 60 pemain Brasil yang akan menghiasi Liga Super.
Dari 60 pemain itu, Persija paling bernuansa Samba. Dari 10 pemain, sembilan di antaranya berasal dari negara khatulistiwa di benua Amerika tersebut. Ini sesuai dengan hasrat sang pelatih, Mauricio Souza.
Kembali ke pertanyaan awal, bisa apa pemain nasional dalam kompetisi musim ini? Cara pandang Jan Olde Riekerink, pelatih Dewa United, bisa menjadi sudut pandang menatap kontestasi musim ini.
Pria Belanda ini menilai kualitas pemain Indonesia akan meningkat karena berlatih dengan pemain-pemain berkualitas. Namun, berlatih saja tentu tidak cukup untuk mengasah bakat.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Kekhawatiran Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) bahwa kebijakan 11 pemain asing bisa mendisrupsi cukup beralasan. Hanya saja, ini bukan situasi terburuk yang sesungguhnya.
Yang terburuk adalah pemain terkontaminasi rayuan malas-malasan dari sosok nakal. "Ngapain latihan keras, kayak bakal main saja." "Santai saja, kawan." Begitu suara buruk itu bergema.
Dan, hampir di setiap tim dan generasi ada sosok pemain seperti itu. Eksesnya, mereka mengajak pemain yang lebih muda dan polos untuk menikmati hidup layaknya manusia biasa, bukan manusia atlet.
Dunia malam, makan sembarangan, dan menghisap rokok jadi candu. Nilai-nilai profesionalitas hanya dipakai sebagai lipstik untuk menutupi turunnya kualitas diri.
Peta jalan menjadi atlet sukses, seperti dicontohkan sejumlah bintang dunia, diambil yang enaknya saja. Gaya hidupnya. Adapun nilai juang atau usaha dan prosesnya diabaikan.
Latihan hanya cukup di lapangan bersama tim, setiap pagi atau sore. Sisanya santai. Jangankan merekrut pelatih pribadi untuk menunjang karier, latihan tambahan pun enggan.
Itu realitas sepak bola nasional. Bisa saja diingkari, tetapi faktanya tak bisa disembunyikan. Memang tidak semuanya, tetapi ideologi pemain virus begini sungguh membahayakan.
Siapa yang bisa melawan sosok-sosok perusak begini? Pemain-pemain muda bervisi. Mereka yang menganggap sepak bola sebagai jalan hidup, sehingga harus menghidupinya dengan dedikasi.
Pemain yang rela 'diasingkan' dari pergaulan lingkaran setan. Mereka ada dan eksis, tetapi jumlahnya tidak banyak. Karena itu kehadiran pemain asing diharapkan bisa memberi panduan.
Masalahnya, tak semua pemain asing punya kapasitas memberi suri tauladan. Mereka datang ke Indonesia hanya untuk mencari gaji dan tantangan, sisanya per setan.
Kalau sudah begini, pemain Indonesia bisa apa? Bisa berbuat banyak, asal mau berakit-rakit ke hulu. Rizky Ridho setidaknya bisa menjadi contoh, kendati terlalu dini untuk diglorifikasi.
Mulai Jumat (8/8), tujuh pemain asing bisa starter dalam setiap pertandingan Super League 2025/2026. Bisa apa pemain Indonesia?
Hingga satu hari menjelang kick off atau sepak mula Liga Super, mayoritas tim telah menyempurnakan perburuan pemain asingnya. Skuad final untuk putaran pertama telah diumumkan.
Ada empat klub yang telah mengontrak 10 pemain asing dari kuota 11 pemain. Keempat tim itu adalah Arema FC, Borneo FC Samarinda, Bhayangkara Presisi Lampung FC, dan Persija Jakarta.
Lantas ada enam tim yang punya sembilan pemain asing atau kesemuanya bisa masuk daftar susunan pemain. Ini skema pemain paling ideal bagi klub, sebab tak ada 'amunisi' yang terbuang.
Sisanya, lima tim punya delapan pemain asing dan dua tim mengontrak tujuh pemain asing. Hanya PSM Makassar yang baru punya enam pemain asing, itu pun karena pintu transfer mereka sedang dibekukan FIFA.
Situasi ini membuat aura persaingan di kompetisi kasta tertinggi Indonesia tampak ketat. Dua jawara dalam empat musim beruntun, Persib Bandung dan Bali United, jadi tak begitu istimewa.
Dewa United, yang musim lalu menjadi runner up liga, mempertontonkan diri jadi salah satu kandidat kuat pemburu gelar liga. Tim ibu kota Persija Jakarta juga terlihat bergairah.
Melihat daftar pemain asing di Super League 2025/2026, 'tentara bayaran' dari Brasil mendominasi. Total ada 60 pemain Brasil yang akan menghiasi Liga Super.
Dari 60 pemain itu, Persija paling bernuansa Samba. Dari 10 pemain, sembilan di antaranya berasal dari negara khatulistiwa di benua Amerika tersebut. Ini sesuai dengan hasrat sang pelatih, Mauricio Souza.
Kembali ke pertanyaan awal, bisa apa pemain nasional dalam kompetisi musim ini? Cara pandang Jan Olde Riekerink, pelatih Dewa United, bisa menjadi sudut pandang menatap kontestasi musim ini.
Pria Belanda ini menilai kualitas pemain Indonesia akan meningkat karena berlatih dengan pemain-pemain berkualitas. Namun, berlatih saja tentu tidak cukup untuk mengasah bakat.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Habiskan Waktu di Gym dan Lapangan
Rizky Ridho jadi pemain lokal yang punya kualitas menonjol. (ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA)
Kekhawatiran Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) bahwa kebijakan 11 pemain asing bisa mendisrupsi cukup beralasan. Hanya saja, ini bukan situasi terburuk yang sesungguhnya.
Yang terburuk adalah pemain terkontaminasi rayuan malas-malasan dari sosok nakal. "Ngapain latihan keras, kayak bakal main saja." "Santai saja, kawan." Begitu suara buruk itu bergema.
Dan, hampir di setiap tim dan generasi ada sosok pemain seperti itu. Eksesnya, mereka mengajak pemain yang lebih muda dan polos untuk menikmati hidup layaknya manusia biasa, bukan manusia atlet.
Dunia malam, makan sembarangan, dan menghisap rokok jadi candu. Nilai-nilai profesionalitas hanya dipakai sebagai lipstik untuk menutupi turunnya kualitas diri.
Peta jalan menjadi atlet sukses, seperti dicontohkan sejumlah bintang dunia, diambil yang enaknya saja. Gaya hidupnya. Adapun nilai juang atau usaha dan prosesnya diabaikan.
Latihan hanya cukup di lapangan bersama tim, setiap pagi atau sore. Sisanya santai. Jangankan merekrut pelatih pribadi untuk menunjang karier, latihan tambahan pun enggan.
Itu realitas sepak bola nasional. Bisa saja diingkari, tetapi faktanya tak bisa disembunyikan. Memang tidak semuanya, tetapi ideologi pemain virus begini sungguh membahayakan.
Siapa yang bisa melawan sosok-sosok perusak begini? Pemain-pemain muda bervisi. Mereka yang menganggap sepak bola sebagai jalan hidup, sehingga harus menghidupinya dengan dedikasi.
Pemain yang rela 'diasingkan' dari pergaulan lingkaran setan. Mereka ada dan eksis, tetapi jumlahnya tidak banyak. Karena itu kehadiran pemain asing diharapkan bisa memberi panduan.
Masalahnya, tak semua pemain asing punya kapasitas memberi suri tauladan. Mereka datang ke Indonesia hanya untuk mencari gaji dan tantangan, sisanya per setan.
Kalau sudah begini, pemain Indonesia bisa apa? Bisa berbuat banyak, asal mau berakit-rakit ke hulu. Rizky Ridho setidaknya bisa menjadi contoh, kendati terlalu dini untuk diglorifikasi.