Hantu-hantu itu Memelototi John Herdman di Timnas Indonesia
Tim nasional putri Kanada kerap disebut 'struggling squad' atau tim yang payah sebelum 2011, sebelum John Herdman datang.
Saat itu, pada 2011, usia Herdman baru 36 tahun. Federasi sepak bola Kanada (CSA) menilai Herdman punya potensi. Kiprahnya bersama tim nasional putri Selandia Baru jadi ukuran.
Sebelum Herdman datang, Selandia Baru tidak lolos ke Piala Dunia Putri dalam tiga edisi beruntung. Dan, kurang dari setahun, Selandia Baru lolos kembali ke turnamen tertinggi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selandia Baru dua kali lolos ke Piala Dunia pada era Herdman, 2007 dan 2011. Selepas Piala Dunia, ia menerima tantangan yang diberikan CSA untuk mengangkat sepak bola putri Kanada.
Bersama Herdman, Kanada dua kali meraih medali perunggu Olimpiade. Dari pondasi yang dibangun pula Kanada medali emas Olimpiade untuk pertama kalinya pada 2020.
Saat direposisi menjadi pelatih tim putra pada 2018, cibiran datang. Sepak bola putri tak sama dengan putra. CSA dinilai salah langkah mempercayai pelatih sepak bola putri ke putra.
Namun, sejarah mencatat, Herdman membuat sejarah untuk Kanada. Sejarah positif yang akan abadi dalam ingatan histori sepak bola negeri berpenduduk 41 juta tersebut.
Satu hal yang sama diperangi Herdman dari tim nasional putri Selandia baru, tim nasional putri Kanada, dan tim nasional Kanada, budaya pesimisme pelaku sepak bola.
Sejarah yang berlumur kegagalan menimbulkan imperiorisme; rasa kalah sebelum melangkah; tidak percaya bakat yang ada; memandang lawan lebih hebat; bangsa yang kalah.
Pada titik itulah Herdman masuk. Ia bertarung dengan isi kepala dan pergolakan batin. Ruang pertemuan jadi sarana intensif melakukan indoktrinasi konsepsi kebahagiaan.
Tentu saja ini tak mudah. Bukan, abrakadraba. Herdman butuh proses merangkai dalam program, menjalankan peta jalan yang dirancang federasi lewat sang direktur teknik.
Timnas Indonesia rasa-rasanya sama seperti Selandia Baru atau Kanada: kehilangan percaya diri. Pesimistis. Sejarah kegagalan lebih banyak di negeri ini dibanding kisah sukses.
Bisakah John Herdman, yang kian matang di usia 50, melepas pemikiran senja sepak bola Indonesia? Selalu ada fajar, seperti habis gelap terbitlah terang, yang bisa digoreskan Herdman.
(abs)