Momen Istimewa Pemain Tajikistan Jalani Ramadan Pertama di Indonesia

CNN Indonesia
Minggu, 08 Mar 2026 22:20 WIB
Bintang PSIM Yogyakarta asal Tajikistan, Rahmatsho Rahmatzoda, menceritakan pengalaman pertamanya menjalani aktivitas Ramadan di Indonesia.
Rahmatsho Rahmatzoda jalani Ramadhan pertama di Indonesia dengan menyenangkan meski rindu keluarga. (Dok. iLeague)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bintang PSIM Yogyakarta asal Tajikistan, Rahmatsho Rahmatzoda, menceritakan pengalaman pertamanya menjalani aktivitas Ramadan di Indonesia.

Rahmatzoda menjadi salah satu pemain asing muslim di PSIM. Ia sangat antusias menjalani ibadah puasa di Indonesia meski jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Rahmatzoda tam memungkiri sangat merindukan suasana Ramadan bersama keluarga besar d Tajikistan, namun ternyata tidak kesulitan menjalani ibadah puasa di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lingkungan dan masyarakat di Indonesia disebutnya sangat membantu lebih mudah beradaptasi, sekalipun di bulan Ramadan.

"Saya sangat jatuh cinta dengan negara ini. Saya menyukai semuanya, dan saya ingin tinggal di sini untuk waktu sangat lama. Menurut saya esensi bulan suci Ramadan di mana saja tetaplah sama," kata Rahmatzoda dikutip dari laman resmi ILeague.

Momen istimewa di bulan puasa rupanya perlahan membangkitkan memori sang pemain terhadap kebiasaan manis di kampung halaman.

"Tidak ada persiapan khusus untuk Ramadan kali ini, hanya saja biasanya ada banyak keluarga dan teman. Bisa menghabiskan bulan seperti ini bersama keluarga adalah hal sangat luar biasa," ujarnya.

Meski besar keinginan Rahmatzoda untuk menjalani Ramadan bersama keluarga, tetapi atlet kelahiran 6 April 2004 ini tetap mengutamakan komitmennya sebagai pesepakbola profesional.

"Tentu terasa sulit karena keluarga saya berada sangat jauh. Saya sebenarnya sangat ingin menghabiskan hari-hari seperti ini bersama keluarga. Namun, sepak bola adalah bagian dari hidup saya. Saya harus rela berkorban demi sepak bola," tuturnya.

Rahmatzoda menilai, kewajiban menjalankan ibadah puasa, sama sekali tidak mengganggu ritme latihan maupun jadwal pertandingannya di lapangan hijau.

"Sama sekali tidak sulit, sebaliknya di bulan ini saya justru mendapatkan lebih banyak energi dan kekuatan, Ramadan sangat penting bagi saya," ujarnya.

Intensitas fisik berskala tinggi selama sesi latihan, berhasil diatasi berkat pola makan teratur saat sahur serta berbuka.

"Sama sekali tidak memberatkan. Saya makan di pagi hari saat sahur dan kemudian saat berbuka puasa. Bisa dibilang pada masa-masa seperti ini, saya justru memiliki lebih banyak kekuatan dan energi," kata pemilik nomor punggung 63 di PSIM itu.

Rahmatzoda juga mengaku tidak kesulitan saat memilih hidangan untuk sahur dan berbuka. Menurutnya, makanan di Yogyakarta tidak jauh berbeda cita rasanya dengan makanan di kampung halamannya.

[Gambas:Video CNN]

(jun)