ANALISIS

Kiamat Ketiga Timnas Italia: Revolusi Setengah Mati Gli Azzurri

Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Kamis, 02 Apr 2026 08:51 WIB
Italia gagal ke Piala Dunia 2026 menandai kiamat ketiga sepak bola negeri pizza, hilangnya tradisi, dan revolusi yang setengah mati.
Tifosi Italia harus menggelorakan revolusi agar gagal ke Piala Dunia tidak menjadi tradisi. (AFP/STEFANO RELLANDINI)

Sepak bola Italia jalan di tempat. Begitu narasinya. Saat strategi sepak bola dunia berkembang, Italia masih tradisional; catenaccio; ortodoks; kolot.

Skema tiga bek Gennaro Gattuso jadi contoh nyata. Pelatih yang menjadi salah satu generasi emas Italia saat juara Piala Dunia 2006 ini tak menghasilkan ide-ide sepak bola baru.

Gattuso seperti teks buku pelajaran sejarah yang menulis tanggal-tanggal. Kaku dan tak bisa dibantah. Ini berbeda dengan Spanyol dan Jerman yang terus melahirkan ideologi baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kualitas Gattuso, sebagai pelatih nir-prestasi, kecuali Copa Italia 2019/2020 bersama Napoli, digugat. Pria temperamen ini dianggap belum pantas menangani Italia saat perebutan tiket Piala Dunia 2026.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semua nama bisa disalahkan, termasuk Bastoni yang kena kartu merah. Mengkambinghitamkan nama-nama adalah cara termudah mencari pembenaran.

Narasi yang sama tertulis dan diulas pada 2018 dan 2022. Italia sebagai representasi Romawi yang gagah dan perkara, saat ini tak tercermin dalam diri para pemain dan pelatihnya.

Revolusi yang digaungkan suporter, dari ultras hingga tifosi, setengah mati. Akar rumput sepak bola Italia menuntut revolusi dengan setengah mati, tetapi elitenya malah membuatnya setengah mati.

Lihatlah, klub sepak bola Italia sudah rontok di pentas-pentas kontinental. Tidak ada lagi yang bertahan dalam Liga Champions dan Europa League, kecuali Bologna.

Kritik pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, bahwa sepak bola Italia kolot, dan tidak percaya pemain muda, akhirnya terbukti. Fabregas dikutuk, tetapi pernyataannya kini kian nyata.

Sepak bola modern yang lebih atraktif tak ingin dijadikan simbol oleh klub-klub Italia. Dampaknya, pemain yang ada kurang bisa bersaing dalam level internasional. Di klub maupun tim nasional.

Memang sepak bola Italia mengalami kemunduran, tetapi bukan catennaccio yang salah. Filosofi sistem bertahan gerendel tak perlu dihapus. Hanya perlu dipoles dan disepuh lagi.

Tugas siapakah itu? FIGC. Federasi sepak bola Italia ini harus bisa melahirkan pelatih visioner. Kawah candradimuka Centro Tecnico Federale di Coverciano, Florence perlu direvolusi juga.

Italia sudah kehilangan tradisi ke Piala Dunia. Ini kiamat bagi sepak bola Italia. Dan, kiamat seperti ini tidak bisa diperbaiki kecuali dengan revolusi setengah mati.

(sry) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2