Thomas Cup: Sukses Prancis Tak Berarti Pemakluman Kegagalan Indonesia
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Senin, 04 Mei 2026 19:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Alwi Farhan dan kawan-kawan mendapatkan pelajaran berharga di Thomas Cup 2026. (Arsip PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah membuat kejutan dengan mengalahkan Indonesia, Prancis terus melangkah jauh hingga menembus babak final. Namun hal itu tidaklah berarti ada pemakluman untuk kegagalan Indonesia di Thomas Cup 2026.
Prancis membuktikan bahwa keberhasilan mereka mengalahkan Indonesia di fase grup itu bukan sebuah kebetulan belaka. Begitu lolos ke babak perempat final, Prancis terus menunjukkan kejayaan mereka.
Dua negara yang punya sejarah juara di Thomas Cup, Jepang dan India, juga jadi korban keganasan Prancis. Keduanya dihajar dengan skor 0-3 di hadapan Prancis.
Dalam tiga laga melawan negara kuat tersebut, strategi tiga tunggal main lebih dulu milik Prancis terbukti ampuh. Lawan-lawan mereka mendapat tekanan besar karena harus berturut-turut menghadapi Christo Popov, Alex Lanier, dan Toma Junior Popov.
Padahal bila menilik skuad yang ada, Jepang dan India punya lapisan tunggal yang bisa meredam tunggal Prancis. Tentu saja demikian juga dengan Indonesia.
Lawan demi lawan yang dikalahkan Prancis bahkan membuat Tim Badminton Prancis jadi buah bibir di Thomas Cup 2026. Dalam obrolan di media sosial, yang juga diikuti oleh penggemar bulu tangkis yang tidak intens mengikuti secara detail, bahkan sistem order of play yang dirancang oleh Prancis dianggap sebagai sebuah kecurangan.
Padahal kemenangan Prancis didasarkan perhitungan strategi yang matang dan pemain-pemain yang tak merasakan demam panggung berlebihan. Bahkan ketika Prancis menapak babak final, mereka pun tidak merasakan kekhawatiran harus berdiri di lapangan yang sama dengan sang juara bertahan, China.
Dalam duel lawan China, Prancis benar-benar membuat China tidak bisa memandang remeh mereka. China memang menang dengan skor 3-1, tetapi dua laga yang dimenangkan Shi Yuqi dan Weng Hong Yang atas Popov bersaudara sejatinya benar-benar berjalan dengan peluang 50-50 di atas lapangan.
Terlebih duel Toma Junior Popov vs Weng Hong Yang. Skor 22-20, 20-22, 21-19 untuk Weng Hong Yang menggambarkan betapa tipisnya perbedaan menang dan kalah di laga tersebut.
Christo Popov dan Toma Junior Popov mampu membawa Prancis lolos ke final Thomas Cup. (AFP/CRISTINA QUICLER)
Namun pada akhirnya, kemenangan di laga ketiga itulah yang turut mempercepat tamatnya perlawanan Prancis. China kemudian memenangkan laga ganda putra di partai keempat sekaligus memastikan trofi Thomas Cup jadi milik mereka, bersamaan dengan terkuburnya mimpi Prancis untuk jadi juara.
Prancis memang gagal juara namun banyak yang mengakui kehebatan mereka. Thomas Cup 2026 jadi penegasan bahwa mereka sudah berhasil masuk level elite dalam persaingan di beregu putra.
Namun bukan berarti, hal itu sebagai pemakluman atas langkah Indonesia mencatat sejarah buruk.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Prancis sejatinya melakukan kesalahan fatal di awal Thomas Cup. Mereka kalah telak 1-4 dari Thailand pada laga pertama. Kekalahan itu membuat peluang mereka lolos ke perempat final menjadi tipis.
Pada laga kedua, Indonesia yang 'hanya' menang 3-2 atas Thailand membuat posisi Indonesia tetap di atas angin dalam duel lawan Prancis. Indonesia hanya 'butuh' kalah 2-3 untuk sekadar lolos ke perempat final.
Sebagai catatan, andai Indonesia bisa menang 5-0 atas Thailand di laga kedua, Indonesia bahkan bisa lolos sebagai runner up jika kalah 0-5 dari Prancis. Sedangkan bila Indonesia menang 4-1 atas Thailand, Indonesia bisa melaju ke perempat final dengan kalah 1-4, tentunya kemudian lewat perhitungan selisih game.
Dengan syarat kalah 2-3 dari Prancis untuk lolos ke perempat final sekaligus menamatkan perjalanan Prancis, nyatanya yang terjadi adalah Indonesia tak mampu melakukannya.
Indonesia yang seharusnya membuat Prancis gemetaran dan demam panggung malah kemudian jadi sosok yang menderita dan tak berdaya. Indonesia tak kuasa menahan kekhawatiran berlebihan dan lebih dikuasai ketakutan akan kekalahan sebelum kekalahan itu benar-benar datang.
Kekalahan ini sendiri datang ketika Indonesia sedang menjalani masa transisi. Tim tahun ini adalah tim transisi yang mungkin akan benar-benar menjelma jadi tim yang seutuhnya dimotori generasi Alwi Farhan dan kawan-kawan dua tahun mendatang.
Ubed dan kawan-kawan mendapatkan pengalaman langsung merasakan kekalahan yang diharapkan bisa jadi bekal berharga di masa depan. (Arsip PBSI)
Alwi Farhan seharusnya sudah mendapat pelajaran berharga karena dirinya yang selama ini dikenal penuh percaya diri di lapangan justru kehilangan dirinya sendiri saat membela Indonesia di Thomas Cup 2026. Sosok Alwi ini kemungkinan besar bakal jadi pemimpin Tim Indonesia pada kesempatan berikutnya, meski tak menutup kemungkinan masih ada pemain senior yang ikut serta.
Moh Zaki Ubaidillah dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin belum banyak mendapat kesempatan untuk unjuk gigi kali ini. Namun mereka telah merasakan dari dekat arti pahitnya kegagalan dan terciptanya sejarah buruk untuk Indonesia.
Karena itu pada akhirnya, kegagalan Indonesia sekaligus sejarah buruk di Thomas Cup 2026 tak layak untuk ditutupi dengan pemakluman lewat pujian pada Prancis yang tampil menawan, melainkan harus diakui sebagai sebuah kegagalan.
Kekalahan ini harus dicap sebagai sebuah hal yang memalukan sehingga nantinya para pemain dan tentunya pengurus PBSI sadar, bahwa peristiwa macam ini tak layak untuk diulang.
Setelah membuat kejutan dengan mengalahkan Indonesia, Prancis terus melangkah jauh hingga menembus babak final. Namun hal itu tidaklah berarti ada pemakluman untuk kegagalan Indonesia di Thomas Cup 2026.
Prancis membuktikan bahwa keberhasilan mereka mengalahkan Indonesia di fase grup itu bukan sebuah kebetulan belaka. Begitu lolos ke babak perempat final, Prancis terus menunjukkan kejayaan mereka.
Dua negara yang punya sejarah juara di Thomas Cup, Jepang dan India, juga jadi korban keganasan Prancis. Keduanya dihajar dengan skor 0-3 di hadapan Prancis.
Dalam tiga laga melawan negara kuat tersebut, strategi tiga tunggal main lebih dulu milik Prancis terbukti ampuh. Lawan-lawan mereka mendapat tekanan besar karena harus berturut-turut menghadapi Christo Popov, Alex Lanier, dan Toma Junior Popov.
Padahal bila menilik skuad yang ada, Jepang dan India punya lapisan tunggal yang bisa meredam tunggal Prancis. Tentu saja demikian juga dengan Indonesia.
Lawan demi lawan yang dikalahkan Prancis bahkan membuat Tim Badminton Prancis jadi buah bibir di Thomas Cup 2026. Dalam obrolan di media sosial, yang juga diikuti oleh penggemar bulu tangkis yang tidak intens mengikuti secara detail, bahkan sistem order of play yang dirancang oleh Prancis dianggap sebagai sebuah kecurangan.
Padahal kemenangan Prancis didasarkan perhitungan strategi yang matang dan pemain-pemain yang tak merasakan demam panggung berlebihan. Bahkan ketika Prancis menapak babak final, mereka pun tidak merasakan kekhawatiran harus berdiri di lapangan yang sama dengan sang juara bertahan, China.
Dalam duel lawan China, Prancis benar-benar membuat China tidak bisa memandang remeh mereka. China memang menang dengan skor 3-1, tetapi dua laga yang dimenangkan Shi Yuqi dan Weng Hong Yang atas Popov bersaudara sejatinya benar-benar berjalan dengan peluang 50-50 di atas lapangan.
Terlebih duel Toma Junior Popov vs Weng Hong Yang. Skor 22-20, 20-22, 21-19 untuk Weng Hong Yang menggambarkan betapa tipisnya perbedaan menang dan kalah di laga tersebut.
Christo Popov dan Toma Junior Popov mampu membawa Prancis lolos ke final Thomas Cup. (AFP/CRISTINA QUICLER)
Namun pada akhirnya, kemenangan di laga ketiga itulah yang turut mempercepat tamatnya perlawanan Prancis. China kemudian memenangkan laga ganda putra di partai keempat sekaligus memastikan trofi Thomas Cup jadi milik mereka, bersamaan dengan terkuburnya mimpi Prancis untuk jadi juara.
Prancis memang gagal juara namun banyak yang mengakui kehebatan mereka. Thomas Cup 2026 jadi penegasan bahwa mereka sudah berhasil masuk level elite dalam persaingan di beregu putra.
Namun bukan berarti, hal itu sebagai pemakluman atas langkah Indonesia mencatat sejarah buruk.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Pelajaran Mahal di Masa Transisi
Raymond/Joaquin diproyeksikan jadi salah satu andalan Indonesia pada gelaran Thomas Cup dua tahun mendatang. (Dok. PBSI)
Prancis sejatinya melakukan kesalahan fatal di awal Thomas Cup. Mereka kalah telak 1-4 dari Thailand pada laga pertama. Kekalahan itu membuat peluang mereka lolos ke perempat final menjadi tipis.
Pada laga kedua, Indonesia yang 'hanya' menang 3-2 atas Thailand membuat posisi Indonesia tetap di atas angin dalam duel lawan Prancis. Indonesia hanya 'butuh' kalah 2-3 untuk sekadar lolos ke perempat final.
Sebagai catatan, andai Indonesia bisa menang 5-0 atas Thailand di laga kedua, Indonesia bahkan bisa lolos sebagai runner up jika kalah 0-5 dari Prancis. Sedangkan bila Indonesia menang 4-1 atas Thailand, Indonesia bisa melaju ke perempat final dengan kalah 1-4, tentunya kemudian lewat perhitungan selisih game.
Dengan syarat kalah 2-3 dari Prancis untuk lolos ke perempat final sekaligus menamatkan perjalanan Prancis, nyatanya yang terjadi adalah Indonesia tak mampu melakukannya.
Indonesia yang seharusnya membuat Prancis gemetaran dan demam panggung malah kemudian jadi sosok yang menderita dan tak berdaya. Indonesia tak kuasa menahan kekhawatiran berlebihan dan lebih dikuasai ketakutan akan kekalahan sebelum kekalahan itu benar-benar datang.
Kekalahan ini sendiri datang ketika Indonesia sedang menjalani masa transisi. Tim tahun ini adalah tim transisi yang mungkin akan benar-benar menjelma jadi tim yang seutuhnya dimotori generasi Alwi Farhan dan kawan-kawan dua tahun mendatang.
Ubed dan kawan-kawan mendapatkan pengalaman langsung merasakan kekalahan yang diharapkan bisa jadi bekal berharga di masa depan. (Arsip PBSI)
Alwi Farhan seharusnya sudah mendapat pelajaran berharga karena dirinya yang selama ini dikenal penuh percaya diri di lapangan justru kehilangan dirinya sendiri saat membela Indonesia di Thomas Cup 2026. Sosok Alwi ini kemungkinan besar bakal jadi pemimpin Tim Indonesia pada kesempatan berikutnya, meski tak menutup kemungkinan masih ada pemain senior yang ikut serta.
Moh Zaki Ubaidillah dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin belum banyak mendapat kesempatan untuk unjuk gigi kali ini. Namun mereka telah merasakan dari dekat arti pahitnya kegagalan dan terciptanya sejarah buruk untuk Indonesia.
Karena itu pada akhirnya, kegagalan Indonesia sekaligus sejarah buruk di Thomas Cup 2026 tak layak untuk ditutupi dengan pemakluman lewat pujian pada Prancis yang tampil menawan, melainkan harus diakui sebagai sebuah kegagalan.
Kekalahan ini harus dicap sebagai sebuah hal yang memalukan sehingga nantinya para pemain dan tentunya pengurus PBSI sadar, bahwa peristiwa macam ini tak layak untuk diulang.