Thomas Cup: Sukses Prancis Tak Berarti Pemakluman Kegagalan Indonesia
Prancis sejatinya melakukan kesalahan fatal di awal Thomas Cup. Mereka kalah telak 1-4 dari Thailand pada laga pertama. Kekalahan itu membuat peluang mereka lolos ke perempat final menjadi tipis.
Pada laga kedua, Indonesia yang 'hanya' menang 3-2 atas Thailand membuat posisi Indonesia tetap di atas angin dalam duel lawan Prancis. Indonesia hanya 'butuh' kalah 2-3 untuk sekadar lolos ke perempat final.
Sebagai catatan, andai Indonesia bisa menang 5-0 atas Thailand di laga kedua, Indonesia bahkan bisa lolos sebagai runner up jika kalah 0-5 dari Prancis. Sedangkan bila Indonesia menang 4-1 atas Thailand, Indonesia bisa melaju ke perempat final dengan kalah 1-4, tentunya kemudian lewat perhitungan selisih game.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan syarat kalah 2-3 dari Prancis untuk lolos ke perempat final sekaligus menamatkan perjalanan Prancis, nyatanya yang terjadi adalah Indonesia tak mampu melakukannya.
Indonesia yang seharusnya membuat Prancis gemetaran dan demam panggung malah kemudian jadi sosok yang menderita dan tak berdaya. Indonesia tak kuasa menahan kekhawatiran berlebihan dan lebih dikuasai ketakutan akan kekalahan sebelum kekalahan itu benar-benar datang.
Kekalahan ini sendiri datang ketika Indonesia sedang menjalani masa transisi. Tim tahun ini adalah tim transisi yang mungkin akan benar-benar menjelma jadi tim yang seutuhnya dimotori generasi Alwi Farhan dan kawan-kawan dua tahun mendatang.
Ubed dan kawan-kawan mendapatkan pengalaman langsung merasakan kekalahan yang diharapkan bisa jadi bekal berharga di masa depan. (Arsip PBSI) |
Alwi Farhan seharusnya sudah mendapat pelajaran berharga karena dirinya yang selama ini dikenal penuh percaya diri di lapangan justru kehilangan dirinya sendiri saat membela Indonesia di Thomas Cup 2026. Sosok Alwi ini kemungkinan besar bakal jadi pemimpin Tim Indonesia pada kesempatan berikutnya, meski tak menutup kemungkinan masih ada pemain senior yang ikut serta.
Moh Zaki Ubaidillah dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin belum banyak mendapat kesempatan untuk unjuk gigi kali ini. Namun mereka telah merasakan dari dekat arti pahitnya kegagalan dan terciptanya sejarah buruk untuk Indonesia.
Karena itu pada akhirnya, kegagalan Indonesia sekaligus sejarah buruk di Thomas Cup 2026 tak layak untuk ditutupi dengan pemakluman lewat pujian pada Prancis yang tampil menawan, melainkan harus diakui sebagai sebuah kegagalan.
Kekalahan ini harus dicap sebagai sebuah hal yang memalukan sehingga nantinya para pemain dan tentunya pengurus PBSI sadar, bahwa peristiwa macam ini tak layak untuk diulang.
(abs) Add
as a preferred source on Google
Ubed dan kawan-kawan mendapatkan pengalaman langsung merasakan kekalahan yang diharapkan bisa jadi bekal berharga di masa depan. (Arsip PBSI)