Jangan Berlebihan Meromantisasi Regenerasi Tunggal Putri
Semestinya, dengan banyaknya pemain muda yang bermunculan dan membuat kejutan di beberapa edisi terakhir Uber Cup, Indonesia sudah punya lapisan yang cukup dalam di tunggal putri. Nyatanya, hal tersebut tidak terwujud nyata dan hanya Putri Kusuma Wardani yang bisa menyusul ke zona 10 besar, tempat Gregoria Mariska Tunjung pernah berada.
Bilqis dan Komang Ayu sudah keluar dari Pelatnas Cipayung. Ester sempat mengalami cedera parah dan kini peringkatnya masih ada di luar 200 besar.
Hal itu bisa jadi gambaran jelas bahwa regenerasi yang diharapkan tidak sepenuhnya berjalan. Situasi terkini juga jadi gambaran bahwa regenerasi ideal yang diinginkan belum sepenuhnya terpenuhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari peringkat BWF saat ini, Putri Kusuma Wardani jadi satu-satunya tunggal putri Indonesia yang ada di 10 besar. Lebih ekstrem lagi, Putri KW saat ini jadi satu-satunya tunggal putri yang ada di zona 50 besar.
Sejak Gregoria Mariska Tunjung mengalami vertigo dan kini sedang dalam masa vakum, Putri KW jadi satu-satunya tunggal putri Indonesia yang sudah masuk level elite dunia.
Di luar itu, belum ada tunggal putri Indonesia yang bisa untuk sekadar masuk ke turnamen level atas. Karena itu, Putri KW sering jadi satu-satunya wakil Indonesia di turnamen level tinggi.
Sejak Gregoria Mariska Tunjung vakum, Indonesia hanya tinggal memiliki Putri Kusuma Wardani di zona 10 besar. (Arsip PBSI) |
Thalita saat ini masih ada di posisi 60 dunia sedangkan Ni Kadek Dhinda ada di peringkat 71.
Selain itu, Indonesia sebenarnya masih punya Mutiara Ayu Puspitasari yang pernah juara Asia Junior dan Chiara Marvella Handoyo yang pernah jadi runner up Kejuaraan Dunia Junior. Keduanya saat ini masih ada di posisi 73 dan 97 dunia.
Jangan sampai situasi ini terus bertahan hingga Olimpiade 2028 mendatang. PBSI harus berani pasang target bisa mengirim dua tunggal putri ke Los Angeles 2028.
Situasi ini yang harus pelan-pelan diubah. Caranya, dengan pemetaan turnamen yang lebih bagus. Frekuensi pengiriman atlet tunggal putri harus ditingkatkan.
Mereka butuh poin tambahan lewat keikutsertaan turnamen yang lebih rutin sebagai pijakan awal untuk meniti mimpi jadi andalan. Jika pengiriman tidak rutin dan pemetaan turnamen tidak tepat, harapan untuk punya lebih banyak andalan tunggal putri di masa depan akan cepat kandas di tempat.
(jun) Add
as a preferred source on Google
Sejak Gregoria Mariska Tunjung vakum, Indonesia hanya tinggal memiliki Putri Kusuma Wardani di zona 10 besar. (Arsip PBSI)