Piala Dunia 1994: Baggio 'Mati' Berdiri di Saat Brasil Kembali Menari

CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 10:21 WIB
Romario (tengah) mencium trofi Piala Dunia pada 1994 sembari dilihat Branco (kiri) dan Dunga. (AFP/TIMOTHY A. CLARY)
Romario (tengah) mencium trofi Piala Dunia pada 1994 sembari dilihat Branco (kiri) dan Dunga. (AFP/TIMOTHY A. CLARY)

Final berlangsung pada 17 Juli 1994 di hadapan hampir 95.000 penonton. Franco Baresi tampil sebagai tembok kokoh di lini belakang Italia dan Baggio bermain dalam kondisi cedera yang membatasi kemampuan terbaiknya.

Laga 90 menit berlalu tanpa gol. Babak tambahan waktu pun tak mengubah skor, meski Brasil sesekali menciptakan ancaman lewat penampilan pemain pengganti Viola. Final Piala Dunia 1994 pun menjadi yang pertama dalam sejarah diselesaikan melalui adu penalti.

Drama adu penalti dimulai dengan dua kegagalan dari kedua tim. Franco Baresi menendang bola terlalu tinggi, sementara Marcio Santos juga gagal menembus gawang Gianluca Pagliuca.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah empat penendang berikutnya sukses, Daniele Massaro menjadi penentu keseimbangan pihak Italia. Namun tendangannya berhasil ditepis kiper Brasil, Claudio Taffarel.

Dunga melangkah maju dan menjebol gawang Italia untuk memberi Brasil keunggulan sebelum giliran Baggio tiba. Pria berjuluk Il Divin Codino itu tampil sebagai penyelamat Italia berulang kali sepanjang turnamen, dan kini ia berdiri di titik putih dengan seluruh beban di pundaknya.

Namun tendangan kaki kanan Baggio melayang jauh di atas mistar gawang. Brasil pun berpesta. Baggio kemudian mengungkapkan apa yang berkecamuk di benaknya dalam otobiografinya, Una Porta Nel Cielo.

"Saya tahu Taffarel selalu menjatuhkan diri, jadi saya memutuskan menembak ke tengah setinggi pinggang agar ia tidak bisa menggapainya dengan kaki. Sayangnya, entah bagaimana, bola melambung tiga meter dan terbang melewati mistar."

"Saya merasa mati di dalam. Saya juga memikirkan reaksi para pendukung tanah air saya," ujar Baggio dilansir dari laman resmi FIFA.

Momen itu menjadi luka yang tak pernah sembuh bagi Baggio. Hingga pensiun, ia mengaku masih sering bermimpi tentangnya.

Sementara Italia larut dalam duka, Brasil merayakan gelar juara dunia keempat mereka. Gelar itu sekaligus menjadi yang pertama bagi Brasil sejak 1970, atau 24 tahun penantian panjang. Simbol bintang keempat pun resmi disematkan di jersey tim Selecao.

(afr/nva) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2