Tuchel dan Misi Hapus '60 Tahun Penderitaan' Inggris di Piala Dunia
Askar Fatih Robbani | CNN Indonesia
Selasa, 02 Jun 2026 08:25 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Inggris punya mimpi besar untuk bisa kembali jadi juara Piala Dunia 2026. (AFP/ADRIAN DENNIS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Enam puluh tahun, lintas generasi, dan satu penderitaan diPiala Dunia yang tak kunjung menemui akhir. Sejak Bobby Moore mengangkat trofi Jules Rimet di Wembley pada 30 Juli 1966, Inggris tak pernah lagi menyentuh puncak dunia.
Kala itu, Geoff Hurst mencetak hattrick bersejarah untuk menggulung Jerman Barat 4-2. Di hadapan 97 ribu pasang mata, Inggris berdiri sebagai raja.
Tapi bahkan momen itu pun tak bersih dari kontroversi. Gol ketiga Hurst di babak tambahan waktu belum melewati garis gawang. Namun wasit tetap mengesahkannya setelah berkonsultasi dengan hakim garis.
Lebih lucu lagi, trofi pada edisi itu sempat dicuri sebelum turnamen dimulai. Piala Jules Rimet baru kembali setelah ditemukan seekor anjing bernama Pickles di semak-semak London Selatan.
Setelah 1966, Inggris tak punya lagi cerita serupa. Inggris datang ke 14 edisi Piala Dunia berikutnya, dan 14 kali pula pulang dengan tangan kosong. Bahkan The Three Lions selalu gagal menggapai partai puncak.
'It's Coming Home' perlahan berubah makna. Bukan lagi lagu kemenangan, melainkan nyanyian yang getir di setiap turnamen.
Setelah menaruh kepercayaan pada Gareth Southgate di dua edisi terakhir Piala Dunia, FA akhirnya menyerah pada satu kenyataan. Pendekatan Southgate yang santun dan sabar tidak cukup untuk menerobos tembok final.
Maka untuk pertama kali di era modern, Inggris menyerahkan nasib tim berjuluk Tiga Singa kepada pria Jerman. Thomas Tuchel resmi memegang kendali.
Pilihan itu bukan tanpa dasar. Tuchel pernah mengambil alih Chelsea di tengah musim dan langsung membawa pulang trofi Liga Champions 2021. Bisa dibilang, FA ingin magis Tuchel menukangi tim di 'turnamen singkat' terjadi untuk Inggris di Piala Dunia 2026.
Di kualifikasi Zona Eropa menuju Piala Dunia 2026, Inggris tampil tak tertandingi. Mereka lolos tanpa kebobolan satu gol pun sepanjang fase grup.
Namun ada yang mengganjal. Di sela kualifikasi mulus itu, Inggris justru menelan kekalahan dari Jepang di laga persahabatan.
Kekalahan dari Jepang memunculkan pertanyaan yang belum terjawab. Seberapa solid Inggris ketika lawan benar-benar menguji mereka?
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Di tengah tanda tanya itu, Tuchel justru membuat kejutan lain lewat eksperimen merombak skuad Piala Dunia dengan mencoret sejumlah pemain berpengalaman.
Phil Foden dan Cole Palmer tidak masuk dalam daftar panggilan ke Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko. Keduanya dianggap kurang cocok dengan tuntutan disiplin taktis dalam skema Tuchel.
Trent Alexander-Arnold juga ditinggal. Umpan visioner Trent dirasa kurang untuk menutupi kelemahan cara bertahan yang kerap jadi sasaran eksploitasi lawan.
Harry Maguire dan Luke Shaw juga tak masuk dalam skuad pilihan Tuchel. Cedera berulang dan penurunan performa akibat usia yang tak lagi muda membuat keduanya dianggap tidak layak di level Piala Dunia.
Di barisan pertahanan, nama John Stones dipercaya lebih baik ketimbang Maguire meski pemain berusia 32 tahun itu hanya memainkan 18 pertandingan sepanjang musim 2025/2026
Tuchel juga memilih memanggil sejumlah 'muka baru' seperti Jarell Quansah, Tino Livramento, Marc Guehi, Anthony Gordon dan Noni Madueke. Penampilan mereka menggoda Tuchel dalam beberapa waktu terakhir.
Tuchel juga memanggil pemain veteran seperti Marcus Rashford yang lama terasing dari timnas. Kecepatan dan naluri serangan penyerang Barcelona itu dinilai sebagai kartu yang sulit dibaca lawan.
Lantas semua itu tetap bertumpu pada Harry Kane. Kedekatan sang bomber dengan Tuchel yang sempat terjalin di Bayern Munchen membuat Kane menjadi jenderal kepercayaan sang pelatih di dalam lapangan.
Noni Madueke (kanan) mendapat kesempatan tampil di Piala Dunia 2026. (AFP/ADRIAN DENNIS)
Di lini tengah, Jude Bellingham dan Declan Rice akan menjadi motor penggerak. Bellingham berpeluang memecahkan rekor Wayne Rooney sebagai pemain Inggris termuda yang mencapai 50 caps di turnamen mayor.
Di ambang rekor bersejarah, bintang Real Madrid itu diyakini dapat tampil memukau di Piala Dunia keduanya usai melakoni debut di Qatar 2022.
Soal taktik, mungkin bukan ujian terberat Tuchel. Selalu ada tekanan dari publik. Di Inggris, batas antara pahlawan dan musuh publik hanya berjarak satu kegagalan penalti. Artinya, mengelola tekanan psikologis dari media patut jadi perhatian.
Kutukan 60 tahun bukan cuma soal statistik. Ada beban psikologis yang turun-temurun, dan itu tidak bisa diperbaiki lewat sesi latihan.
Peta turnamen pun tidak ramah. Prancis, Argentina, dan Brasil bukan lawan yang bisa dikalahkan hanya dengan disiplin taktis, tanpa kedalaman materi skuad. Karena itu, tak peduli bagaimana pun pendekatan Tuchel, hasil akhir adalah satu-satunya vonis yang akan menjadi nilai sah untuk dirinya.
Tuchel datang ke London bukan untuk dicintai. Ia datang untuk menyelesaikan satu pekerjaan yang belum tuntas lebih dari setengah abad terakhir.
Enam puluh tahun adalah waktu yang lama untuk sebuah penantian. Di Amerika Utara nanti, Tuchel dan 26 pemain pilihannya akan membuktikan, apakah penantian itu akhirnya usai, atau kembali lagi jadi fatamorgana?