Tuchel dan Misi Hapus '60 Tahun Penderitaan' Inggris di Piala Dunia
Di tengah tanda tanya itu, Tuchel justru membuat kejutan lain lewat eksperimen merombak skuad Piala Dunia dengan mencoret sejumlah pemain berpengalaman.
Phil Foden dan Cole Palmer tidak masuk dalam daftar panggilan ke Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko. Keduanya dianggap kurang cocok dengan tuntutan disiplin taktis dalam skema Tuchel.
Trent Alexander-Arnold juga ditinggal. Umpan visioner Trent dirasa kurang untuk menutupi kelemahan cara bertahan yang kerap jadi sasaran eksploitasi lawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harry Maguire dan Luke Shaw juga tak masuk dalam skuad pilihan Tuchel. Cedera berulang dan penurunan performa akibat usia yang tak lagi muda membuat keduanya dianggap tidak layak di level Piala Dunia.
Di barisan pertahanan, nama John Stones dipercaya lebih baik ketimbang Maguire meski pemain berusia 32 tahun itu hanya memainkan 18 pertandingan sepanjang musim 2025/2026
Tuchel juga memilih memanggil sejumlah 'muka baru' seperti Jarell Quansah, Tino Livramento, Marc Guehi, Anthony Gordon dan Noni Madueke. Penampilan mereka menggoda Tuchel dalam beberapa waktu terakhir.
Tuchel juga memanggil pemain veteran seperti Marcus Rashford yang lama terasing dari timnas. Kecepatan dan naluri serangan penyerang Barcelona itu dinilai sebagai kartu yang sulit dibaca lawan.
Lantas semua itu tetap bertumpu pada Harry Kane. Kedekatan sang bomber dengan Tuchel yang sempat terjalin di Bayern Munchen membuat Kane menjadi jenderal kepercayaan sang pelatih di dalam lapangan.
Noni Madueke (kanan) mendapat kesempatan tampil di Piala Dunia 2026. (AFP/ADRIAN DENNIS) |
Di lini tengah, Jude Bellingham dan Declan Rice akan menjadi motor penggerak. Bellingham berpeluang memecahkan rekor Wayne Rooney sebagai pemain Inggris termuda yang mencapai 50 caps di turnamen mayor.
Di ambang rekor bersejarah, bintang Real Madrid itu diyakini dapat tampil memukau di Piala Dunia keduanya usai melakoni debut di Qatar 2022.
Soal taktik, mungkin bukan ujian terberat Tuchel. Selalu ada tekanan dari publik. Di Inggris, batas antara pahlawan dan musuh publik hanya berjarak satu kegagalan penalti. Artinya, mengelola tekanan psikologis dari media patut jadi perhatian.
Kutukan 60 tahun bukan cuma soal statistik. Ada beban psikologis yang turun-temurun, dan itu tidak bisa diperbaiki lewat sesi latihan.
Peta turnamen pun tidak ramah. Prancis, Argentina, dan Brasil bukan lawan yang bisa dikalahkan hanya dengan disiplin taktis, tanpa kedalaman materi skuad. Karena itu, tak peduli bagaimana pun pendekatan Tuchel, hasil akhir adalah satu-satunya vonis yang akan menjadi nilai sah untuk dirinya.
Tuchel datang ke London bukan untuk dicintai. Ia datang untuk menyelesaikan satu pekerjaan yang belum tuntas lebih dari setengah abad terakhir.
Enam puluh tahun adalah waktu yang lama untuk sebuah penantian. Di Amerika Utara nanti, Tuchel dan 26 pemain pilihannya akan membuktikan, apakah penantian itu akhirnya usai, atau kembali lagi jadi fatamorgana?
(ptr) Add
as a preferred source on Google
