Piala Dunia 2006: Italia, Calciopoli, dan Akhiri Kutukan Adu Penalti
CNN Indonesia
Sabtu, 06 Jun 2026 10:32 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Italia meraih gelar Piala Dunia untuk kali keempat pada 2006. (AFP PHOTO DANIEL GARCIA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Italia meraih gelar Piala Dunia keempat di Jerman 2006 dengan mengalahkan Prancis lewat adu penalti. Gli Azzurri mengakhiri kutukan selalu kalah di babak "tos-tosan" dan jadi juara di tengah bayang-bayang skandal Calciopoli.
Tepat sebelum turnamen dimulai, sepak bola Italia diguncang skandal besar yang dikenal sebagai Calciopoli. Luciano Moggi, petinggi Juventus, teridentifikasi sebagai sosok sentral dalam skandal pengaturan wasit yang melibatkan beberapa klub besar Serie A.
Juventus yang menampung banyak pemain timnas Italia termasuk kiper Gianluigi Buffon, akhirnya didegradasi ke Serie B sebagai hukuman atas keterlibatan dalam skandal itu. Di tengah krisis tersebut, kepercayaan publik Italia terhadap tim nasional mereka berada di titik terendah.
Italia memulai Piala Dunia 2006 di bawah pelatih Marcello Lippi dengan beban ganda: membuktikan diri di lapangan sekaligus menanggung malu skandal dalam negeri.
Di laga fase grup, Francesco Totti dan kawan-kawan menang atas Ghana dan Republik Ceko. Sementara laga melawan Amerika Serikat berakhir imbang. Tujuh poin mengantarkan Italia sebagai pemimpin Grup E dan melaju ke babak 16 besar.
Italia kesulitan mengalahkan Australia pada babak 16 besar. Gol penalti Totti pada menit akhir jadi pembeda.
Pada babak perempat final Italia tampil lebih baik dan menyingkirkan Ukraina. Italia semakin bertenaga hingga lolos ke babak 4 besar.
Italia bertemu dengan tuan rumah Jerman di Dortmund dalam laga yang nyaris berakhir dengan adu penalti, namun Gli Azzurri mengubah segalanya pada menit ke-119 dan 120. Fabio Grosso mencetak gol kemenangan sebelum Alessandro Del Piero menambah gol kedua di detik-detik akhir babak extra time.
Di sisi lain, Prancis melaju ke final berkat penampilan luar biasa Zinedine Zidane yang tampil seolah kembali ke masa kejayaannya. Zidane yang merencanakan pensiun di akhir turnamen itu mencetak gol penalti ke gawang Portugal di semifinal dan mengantarkan Les Bleus ke Berlin.
Sebelum final, sorotan besar tertuju pada Brasil yang terjungkal di perempat final saat bertemu Les Bleus. Thierry Henry mencetak satu-satunya gol dari assist Zidane untuk menyingkirkan juara bertahan. Meski Ronaldo Nazario mencetak rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 15 gol, Brasil pulang lebih cepat dari yang diharapkan.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Final Piala Dunia 2006 digelar di Berlin pada 9 Juli, mempertemukan kembali Italia dan Prancis layaknya final Euro 2000. Zidane langsung membuka keunggulan lewat penalti panenka setelah Florent Malouda dilanggar Marco Materazzi.
Italia membalas ketika Materazzi menyundul bola dari sepak pojok Andrea Pirlo untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Kedua tim tidak mampu menambah gol hingga 90 menit berakhir. Terpaksa laga berlanjut ke babak tambahan waktu.
Di babak Extra Time, Zidane sempat memaksa Buffon melakukan penyelamatan gemilang dari sundulan kerasnya. Namun momen yang kemudian membekukan waktu terjadi di menit ke-110. Sang Maestro Zidane, setelah terlibat percakapan dengan Materazzi, secara tiba-tiba menanduk dada bek Italia itu hingga tersungkur ke lapangan.
Wasit Horacio Elizondo yang tidak menyaksikan langsung insiden itu menerima konfirmasi asisten wasit keempat berdasarkan tayangan ulang. Zidane pun diusir dari lapangan dan meninggalkan panggung terakhir kariernya tanpa sepatah kata, melewati trofi Piala Dunia dengan sekilas pandang.
Adu penalti pun tak terhindarkan. Bagi Italia, inilah kesempatan menebus tiga kegagalan menyakitkan di babak yang sama: di semifinal 1990 kalah dari Argentina, di final 1994 kalah dari Brasil, dan di semifinal 1998 kalah dari Prancis.
Italia mengeksekusi kelima penalti mereka dengan sempurna. Satu-satunya kegagalan datang dari sisi Prancis, ketika David Trezeguet malah membenturkan bola ke mistar gawang.
Italia pun berpesta sebagai juara dunia keempat kalinya. Gelar itu datang bersama kepuasan tersendiri karena diraih justru saat nama baik sepak bola Negeri Pizza sedang tercoreng oleh Calciopoli.
Di sisi lain, Piala Dunia 2006 juga mencatat beberapa rekor: 326 kartu kuning dan 28 kartu merah yang menjadikannya edisi paling keras dalam sejarah. Wasit Rusia Valentin Ivanov sendiri mengeluarkan 16 kartu kuning dan 4 kartu merah hanya dalam satu laga antara Portugal dan Belanda.
Italia meraih gelar Piala Dunia keempat di Jerman 2006 dengan mengalahkan Prancis lewat adu penalti. Gli Azzurri mengakhiri kutukan selalu kalah di babak "tos-tosan" dan jadi juara di tengah bayang-bayang skandal Calciopoli.
Tepat sebelum turnamen dimulai, sepak bola Italia diguncang skandal besar yang dikenal sebagai Calciopoli. Luciano Moggi, petinggi Juventus, teridentifikasi sebagai sosok sentral dalam skandal pengaturan wasit yang melibatkan beberapa klub besar Serie A.
Juventus yang menampung banyak pemain timnas Italia termasuk kiper Gianluigi Buffon, akhirnya didegradasi ke Serie B sebagai hukuman atas keterlibatan dalam skandal itu. Di tengah krisis tersebut, kepercayaan publik Italia terhadap tim nasional mereka berada di titik terendah.
Italia memulai Piala Dunia 2006 di bawah pelatih Marcello Lippi dengan beban ganda: membuktikan diri di lapangan sekaligus menanggung malu skandal dalam negeri.
Di laga fase grup, Francesco Totti dan kawan-kawan menang atas Ghana dan Republik Ceko. Sementara laga melawan Amerika Serikat berakhir imbang. Tujuh poin mengantarkan Italia sebagai pemimpin Grup E dan melaju ke babak 16 besar.
Italia kesulitan mengalahkan Australia pada babak 16 besar. Gol penalti Totti pada menit akhir jadi pembeda.
Pada babak perempat final Italia tampil lebih baik dan menyingkirkan Ukraina. Italia semakin bertenaga hingga lolos ke babak 4 besar.
Italia bertemu dengan tuan rumah Jerman di Dortmund dalam laga yang nyaris berakhir dengan adu penalti, namun Gli Azzurri mengubah segalanya pada menit ke-119 dan 120. Fabio Grosso mencetak gol kemenangan sebelum Alessandro Del Piero menambah gol kedua di detik-detik akhir babak extra time.
Di sisi lain, Prancis melaju ke final berkat penampilan luar biasa Zinedine Zidane yang tampil seolah kembali ke masa kejayaannya. Zidane yang merencanakan pensiun di akhir turnamen itu mencetak gol penalti ke gawang Portugal di semifinal dan mengantarkan Les Bleus ke Berlin.
Sebelum final, sorotan besar tertuju pada Brasil yang terjungkal di perempat final saat bertemu Les Bleus. Thierry Henry mencetak satu-satunya gol dari assist Zidane untuk menyingkirkan juara bertahan. Meski Ronaldo Nazario mencetak rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 15 gol, Brasil pulang lebih cepat dari yang diharapkan.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Final Sengit dengan Bumbu Legit Italia dan Rasa Pahit untuk Prancis
Momen tandukan Zinedine Zidane kepada Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006. (AFP/JOHN MACDOUGALL)
Final Piala Dunia 2006 digelar di Berlin pada 9 Juli, mempertemukan kembali Italia dan Prancis layaknya final Euro 2000. Zidane langsung membuka keunggulan lewat penalti panenka setelah Florent Malouda dilanggar Marco Materazzi.
Italia membalas ketika Materazzi menyundul bola dari sepak pojok Andrea Pirlo untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Kedua tim tidak mampu menambah gol hingga 90 menit berakhir. Terpaksa laga berlanjut ke babak tambahan waktu.
Di babak Extra Time, Zidane sempat memaksa Buffon melakukan penyelamatan gemilang dari sundulan kerasnya. Namun momen yang kemudian membekukan waktu terjadi di menit ke-110. Sang Maestro Zidane, setelah terlibat percakapan dengan Materazzi, secara tiba-tiba menanduk dada bek Italia itu hingga tersungkur ke lapangan.
Wasit Horacio Elizondo yang tidak menyaksikan langsung insiden itu menerima konfirmasi asisten wasit keempat berdasarkan tayangan ulang. Zidane pun diusir dari lapangan dan meninggalkan panggung terakhir kariernya tanpa sepatah kata, melewati trofi Piala Dunia dengan sekilas pandang.
Adu penalti pun tak terhindarkan. Bagi Italia, inilah kesempatan menebus tiga kegagalan menyakitkan di babak yang sama: di semifinal 1990 kalah dari Argentina, di final 1994 kalah dari Brasil, dan di semifinal 1998 kalah dari Prancis.
Italia mengeksekusi kelima penalti mereka dengan sempurna. Satu-satunya kegagalan datang dari sisi Prancis, ketika David Trezeguet malah membenturkan bola ke mistar gawang.
Italia pun berpesta sebagai juara dunia keempat kalinya. Gelar itu datang bersama kepuasan tersendiri karena diraih justru saat nama baik sepak bola Negeri Pizza sedang tercoreng oleh Calciopoli.
Di sisi lain, Piala Dunia 2006 juga mencatat beberapa rekor: 326 kartu kuning dan 28 kartu merah yang menjadikannya edisi paling keras dalam sejarah. Wasit Rusia Valentin Ivanov sendiri mengeluarkan 16 kartu kuning dan 4 kartu merah hanya dalam satu laga antara Portugal dan Belanda.