AS vs Paraguay: Ujian Sepak Bola Vertikal Pochettino Lawan Tembok Baja
Askar Fatih Robbani | CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 15:15 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Aksi pemain Amerika Serikat dalam sebuah pertandingan. (USA TODAY Sports via Reuters Con/Dale Zanine)
Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat (AS) bakal menjamu Paraguay dalam laga perdana Grup D Piala Dunia 2026. Duel ini tersaji di Stadion Los Angeles, Sabtu (13/6) pukul 08.00 WIB.
Di atas rumput sendiri, pasukan Mauricio Pochettino diuji sejauh mana gaya 'sepak bola vertikal' mereka mampu menembus tembok baja pertahanan Paraguay yang dipimpin bintang Sunderland, Omar Alderete.
Pertandingan ini bukan sekadar pembuka bagi Stars and Stripes dan La Albirroja. Ini adalah ujian identitas antara determinasi menyerang Amerika dan kesabaran bertahan Paraguay.
AS di bawah arahan Pochettino dikenal mengandalkan pressing intensif juga transisi vertikal yang cepat, memaksa lawan terpojok secara tiba-tiba.
Gaya main The Yanks ini bertumpu pada kecepatan di sisi kanan-kiri. Pemain sayap mereka punya akselerasi jempolan yang sulit diimbangi lawan.
Di ujung tombak, ada Christian Pulisic, bintang AC Milan yang menjadi andalan utama. Kecepatan dan naluri golnya melampaui rata-rata rekannya.
Pulisic bakal bahu-membahu dengan Giovanni Reyna di sisi kiri. Kreativitas Reyna diharapkan menjadi kunci membongkar kunci pertahanan La Albirroja.
Masih ada pula Folarin Balogun yang tampil impresif bersama AS Monaco sepanjang musim 2025/2026 dengan koleksi 13 gol.
Ricardo Pepi pun tak kalah mentereng. Striker PSV Eindhoven itu menyumbang 16 gol di Liga Belanda.
Formasi 3-4-3 atau 4-3-3 Pochettino juga mengandalkan dua full back dinamis: Sergino Dest di kanan dan Antonee Robinson di kiri.
Keduanya tak hanya bertugas menjaga, tetapi juga turut menopang pola bermain eksplosif Stars and Stripes dengan rajin naik ke depan.
Semua opsi itu kini berhadapan dengan satu kenyataan bahwa benteng Paraguay yang dibangun Gustavo Alfaro tidaklah mudah diruntuhkan.
La Albirroja memang bukan tim unggulan. Namun di situlah letak kekuatan terselubung mereka. Bermain tanpa beban, mengunci rapat, lalu menyergap balik.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Di bawah komando Gustavo Alfaro, Paraguay meraih hasil meyakinkan dalam tiga laga terakhir jelang Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko.
Dari tiga laga itu, Paraguay menang dua kali. Menggilas Nikaragua 4-0 dan menaklukkan Yunani 1-0, keduanya tanpa kebobolan.
Meski kalah tipis 1-2 dari Maroko, La Albirroja mampu membuat laga berlangsung sengit. Itu juga jadi cerminan ketangguhan mereka meski berhadapan dengan lawan lebih kuat.
Pilar pertahanan itu berpusat pada Omar Alderete. Bek Sunderland ini adalah 'jangkar' lini belakang Paraguay. Alderete terbukti keras, disiplin, dan sulit ditembus.
Ketika Pulisic meluncur dari sisi kanan, Alderete dan kawan-kawan sudah bersiap. Filosofi bertahan rapat lebih dari hanya sebuah instruksi. Ini jadi identitas otentik Paraguay.
Menelusuri rekam jejak pertemuan keduanya, catatan head to head bermula di Piala Dunia 1930 yang berlangsung di Uruguay.
Pada pertemuan perdana itu, AS menang meyakinkan 3-0. Namun kemenangan-kemenangan selanjutnya jauh lebih dramatis. Semua hanya berjarak satu gol.
Dari lima pertemuan total, AS meraih empat kemenangan, sementara Paraguay hanya diberi kesempatan sekali unggul.
Selisih tipis di tiap kemenangan AS itu justru kembali menegaskan filosofi bertahan Paraguay sudah mengakar jauh sebelum Alfaro melatih mereka.
Meminjam petuah Sun Tzu dalam 'The Art of War': menyerang adalah rahasia pertahanan, dan bertahan adalah perencanaan sebuah serangan.
Maknanya, jika diejawantahkan dalam konteks sepakbola, AS yang menyerang sejatinya sedang melindungi diri. Sementara Paraguay yang bertahan sedang menyiapkan satu tikaman mematikan.
Namun bagi The Yanks, Pochettino pun punya PR di lini belakang. Empat laga terakhir AS selalu kebobolan lebih dari satu gol. Statistik tersebut jelas tak boleh terabaikan di panggung Gempita Bola Dunia 2026.
Sedangkan Paraguay juga masih punya lubang yang perlu ditambal. La Albirroja, meski kukuh soal bertahan, mereka cukup 'melempem' saat menyerang. Terbukti kala jumpa tim setara maupun lebih kuat, Los Guaranies kerap kesulitan membuat bola bersarang di gawang lawan.
Lantas dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, Stadion Los Angeles akan jadi saksi bisu. Apakah 'sepak bola vertikal' Pochettino cukup tajam menembus tembok Alderete, atau justru Paraguay yang mencuri kejutan perdana pesta akbar dunia?