AS vs Paraguay: Ujian Sepak Bola Vertikal Pochettino Lawan Tembok Baja
Di bawah komando Gustavo Alfaro, Paraguay meraih hasil meyakinkan dalam tiga laga terakhir jelang Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko.
Dari tiga laga itu, Paraguay menang dua kali. Menggilas Nikaragua 4-0 dan menaklukkan Yunani 1-0, keduanya tanpa kebobolan.
Meski kalah tipis 1-2 dari Maroko, La Albirroja mampu membuat laga berlangsung sengit. Itu juga jadi cerminan ketangguhan mereka meski berhadapan dengan lawan lebih kuat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilar pertahanan itu berpusat pada Omar Alderete. Bek Sunderland ini adalah 'jangkar' lini belakang Paraguay. Alderete terbukti keras, disiplin, dan sulit ditembus.
Ketika Pulisic meluncur dari sisi kanan, Alderete dan kawan-kawan sudah bersiap. Filosofi bertahan rapat lebih dari hanya sebuah instruksi. Ini jadi identitas otentik Paraguay.
Menelusuri rekam jejak pertemuan keduanya, catatan head to head bermula di Piala Dunia 1930 yang berlangsung di Uruguay.
Pada pertemuan perdana itu, AS menang meyakinkan 3-0. Namun kemenangan-kemenangan selanjutnya jauh lebih dramatis. Semua hanya berjarak satu gol.
Dari lima pertemuan total, AS meraih empat kemenangan, sementara Paraguay hanya diberi kesempatan sekali unggul.
Selisih tipis di tiap kemenangan AS itu justru kembali menegaskan filosofi bertahan Paraguay sudah mengakar jauh sebelum Alfaro melatih mereka.
Meminjam petuah Sun Tzu dalam 'The Art of War': menyerang adalah rahasia pertahanan, dan bertahan adalah perencanaan sebuah serangan.
Maknanya, jika diejawantahkan dalam konteks sepakbola, AS yang menyerang sejatinya sedang melindungi diri. Sementara Paraguay yang bertahan sedang menyiapkan satu tikaman mematikan.
Namun bagi The Yanks, Pochettino pun punya PR di lini belakang. Empat laga terakhir AS selalu kebobolan lebih dari satu gol. Statistik tersebut jelas tak boleh terabaikan di panggung Gempita Bola Dunia 2026.
Sedangkan Paraguay juga masih punya lubang yang perlu ditambal. La Albirroja, meski kukuh soal bertahan, mereka cukup 'melempem' saat menyerang. Terbukti kala jumpa tim setara maupun lebih kuat, Los Guaranies kerap kesulitan membuat bola bersarang di gawang lawan.
Lantas dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, Stadion Los Angeles akan jadi saksi bisu. Apakah 'sepak bola vertikal' Pochettino cukup tajam menembus tembok Alderete, atau justru Paraguay yang mencuri kejutan perdana pesta akbar dunia?
(rhr) Add
as a preferred source on Google