Argentina vs Swiss: Siapa Mampu Redam 'Sihir' Messi?
Sayangnya, catatan positif Swiss itu harus dibayar mahal. Johan Manzambi, pemain muda sekaligus jadi top skor tim sementara dengan tiga gol dan dua assist, dipastikan absen di laga ini.
Manzambi mengalami cedera lutut non-kontak saat sesi latihan jelang laga melawan Kolombia. Yakin sendiri mengakui kecil kemungkinan pemain 20 tahun itu pulih tepat waktu untuk perempat final.
Bukan cuma Manzambi, Swiss juga harus rela kehilangan Michel Aebischer dan Luca Jaquez. Keduanya diragukan tampil akibat masalah otot. Kehilangan beruntun ini memaksa sang juru latih merombak skema yang sebelumnya berjalan efektif sejak fase grup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ardon Jashari disiapkan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Manzambi di lini tengah. Sementara itu, Fabian Rieder turut diproyeksikan mempertahankan posisinya untuk menambal celah taktikal yang muncul.
Beruntung bagi Swiss, kapten Granit Xhaka dan kiper Gregor Kobel tetap fit sebagai jangkar emosional skuad. Keduanya jadi figur senior dan diharapkan mampu menjaga stabilitas tim di tengah badai cedera.
Secara historis, Argentina di atas angin jika bicara rekor pertemuan. Kedua negara sudah dua kali bertemu di Piala Dunia, dan Argentina menang di keduanya.
Pertemuan pertama terjadi di fase grup Piala Dunia 1966 Inggris, di mana Argentina menang telak 2-0. Pertemuan kedua tersaji di 16 besar Piala Dunia 2014 Brasil, dengan Argentina kembali unggul 1-0 lewat perpanjangan waktu.
Faktor Messi jelas jadi pembeda utama yang membuat sejarah berpihak pada Argentina. Kini, di usia 39 tahun, ia masih mampu mengubah hasil akhir hanya dalam hitungan menit.
Swiss lolos ke perempat final Piala Dunia 2026 usai singkirkan Kolombia. (REUTERS/Agustin Marcarian) |
Momen kontra Mesir jadi bukti. Assist dan gol La Pulga hanya berjarak 4 menit 19 detik ketika membalikkan keadaan dari tertinggal menjadi imbang.
Namun, Swiss juga punya senjata tak bisa dianggap remeh, yakni Kobel. Kiper Borussia Dortmund itu menjadi salah satu penjaga gawang terbaik sepanjang gelaran.
Di sisi lain, Emiliano Martinez juga tampil konsisten menjaga gawang tim Tango di saat-saat kritis. Duel dua kiper terbaik juga berpotensi jadi penentu jalannya laga.
Ancaman Swiss tak bisa dipandang sebelah mata meski kehilangan Manzambi. Kecepatan Dan Ndoye dan Ruben Vargas di sisi sayap tetap jadi opsi transisi cepat yang bisa merepotkan lini belakang Argentina.
Pertanyaannya saat ini, mampukah disiplin serta soliditas Swiss meredam individu-individu kelas dunia milik Argentina. Atau justru kembali terulang cerita lama, di mana sihir Messi jadi penentu nasib La Albiceleste di pentas dunia?
(afr/jun) Add
as a preferred source on Google
