Film Argentina Berakhir Duka karena Messi dkk Kehabisan Ide Cerita
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Senin, 20 Jul 2026 12:33 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Argentina tampil minim kreasi dan kesulitan membongkar pertahanan Spanyol. (IMAGN IMAGES via Reuters/VINCENT CARCHIETTA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Timnas Argentina menjalani Piala Dunia 2026 bak sebuah film. Namun di babak final, Argentina tak berdaya karena Lionel Messi dan kawan-kawan seolah kehabisan ide cerita untuk membuat film mereka berakhir bahagia.
Argentina benar-benar seperti sebuah tokoh jagoan di film aksi pada Piala Dunia 2026. Mereka kuat, tetapi selalu menghadapi musuh-musuh tak terduga.
Cape Verde, Mesir, dan Swiss adalah musuh-musuh tak terduga yang hadir di hadapan mereka di fase knockout. Dan layaknya sebuah film, jagoan tak langsung menang dengan mudah.
Banyak kesulitan-kesulitan yang dialami oleh Argentina. Alhasil, jantung penonton yang menyaksikan perjalanan Argentina dibuat berdegup kencang.
Cape Verde bisa dua kali menyamakan kedudukan. Mesir bisa memimpin 2-0 hingga 15 menit akhir laga. Swiss bisa mendominasi permainan saat kedudukan 1-1. Dan Inggris berhasil mencetak gol lebih dulu di pertengahan babak kedua.
Situasi-situasi itu yang membuat Argentina sebagai tokoh utama sempat berada dalam posisi terjepit dan tak berdaya. Ketika penonton sudah cemas terhadap nasib Argentina, di situlah sang tokoh utama menunjukkan kekuatan yang masih tersisa dalam diri mereka.
Dalam laga lawan Cape Verde, sundulan Cristian Romero bisa memaksa bek Cape Verde, Diney Borges mencetak gol bunuh diri. Argentina menang 3-2.
Di laga lawan Mesir, Argentina mencetak tiga gol balasan di 11 menit terakhir. Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez bergantian membobol gawang Mesir.
Pada laga lawan Swiss, ketika mereka terus tertekan dalam kondisi skor imbang, datanglah sebuah keberuntungan. Seperti sebuah cerita, kadang keberuntungan mewarnai sebuah pertarungan.
Breel Embolo tanpa alasan yang jelas melakukan diving yang berujung kartu kuning kedua. Swiss kalah jumlah pemain dan Argentina bisa mulai mendominasi. Argentina akhirnya menang 3-1 lewat babak extra time.
Momen Enzo Fernandez terkena kartu kuning kedua jadi momen penting di laga ini. (REUTERS/Lee Smith)
Di semifinal, Argentina terdesak hingga laga hampir memasuki lima menit terakhir. Namun berawal dari assist Messi, Enzo Fernandez menyamakan kedudukan dan Lautaro Martinez memastikan kemenangan.
Cerita perjalanan Argentina ke final itu sangat menarik. Meski skemanya mirip-mirip, terdesak kemudian menang, namun caranya berbeda-beda. Meski tak sempurna, Argentina jadi tim dengan pertandingan paling menarik untuk ditonton selama fase knockout.
Tapi semua cerita indah dalam perjalanan ke final itu akhirnya tidak berakhir bahagia. Argentina kehabisan ide cerita di final hingga cerita yang mereka buat berakhir duka.
Argentina datang ke final Piala Dunia dengan ambisi tinggi. Mereka ingin memenangkan Piala Dunia untuk kali kedua secara beruntun. Sejak Brasil melakukannya pada 1962, tak ada lagi juara bertahan yang bisa mewujudkannya.
Dari segi skuad, Argentina punya banyak pemain yang berpengalaman tampil di final Piala Dunia. Pasalnya, Argentina tidak melakukan perombakan besar-besar dari skuad empat tahun sebelumnya.
Namun hal itu tidak tergambar di lapangan. Yang terjadi, justru Spanyol yang bermain dengan nyaman, dari awal hingga akhir pertandingan.
Di bawah komando Rodri, lini tengah Spanyol mengungguli lini tengah Argentina secara telak. Keunggulan di lini tengah membuat perbedaan penampilan kedua tim dalam pertandingan terlihat sangat mutlak.
Spanyol terus menguasai bola, menciptakan peluang, dan menghadirkan ancaman-ancaman. Argentina hanya sibuk mencari bola untuk coba melakukan serangan yang akhirnya sulit mereka lakukan.
Kejutan strategi dari Scaloni dengan memasang Nico Gonzalez lebih dulu juga tak mujarab. Spanyol tak terpengaruh oleh strategi tersebut.
Argentina benar-benar terdesak. Bahkan saat kedudukan masih 0-0.
Bila tak ada Emiliano Martinez yang tampil brilian, Spanyol sudah lebih cepat mencetak gol ke gawang Argentina. Sementara Argentina bahkan kesulitan untuk sekadar mencatat tembakan tepat sasaran.
Situasi terdesak yang ada ini benar-benar membuat penonton yang memihak Argentina tegang. Belum lagi fakta bahwa Scaloni sudah memakai dua kesempatan pergantian untuk menarik keluar Lisandro Martinez dan Cristian Romero yang cedera.
Dua pergantian itu adalah keterpaksaan dan karenanya, Scaloni tak punya kesempatan untuk mengeluarkan senjata rahasia bernama Lautaro Martinez yang punya peran besar di fase knock out Piala Dunia.
Argentina tak punya solusi untuk memutarbalikkan keadaan usai Ferran Torres mencetak gol. (REUTERS/Dylan Martinez)
Selain itu, kartu kuning kedua yang berarti kartu merah untuk Enzo Fernandez di pengujung waktu normal makin menyulitkan Argentina. Dalam kondisi 11 vs 11 saja, Argentina tidak banyak menguasai bola, apalagi bila kalah jumlah orang di hadapan Spanyol.
Namun masih ada harapan bahwa sang jagoan bisa bangkit dan menang. Toh selama skor masih 0-0, Argentina hanya butuh satu kesalahan lawan untuk bisa berbalik keluar sebagai pemenang. Bila itu tak terwujud, masih ada harapan jadi juara lewat adu penalti.
Di adu penalti, mereka punya Emiliano Martinez yang jadi pahlawan empat tahun silam. Dari alur pertandingan yang sudah berjalan, Martinez pun seolah sudah 'panas' untuk menghadapi adu penalti. Situasi sudah mendorong ke arah tersebut hingga babak pertama extra time berakhir masih dengan skor imbang 0-0.
Pada akhirnya, dua ide cerita yang diharapkan bisa jadi jalan keluar kesulitan Argentina tidak benar-benar terwujud di lapangan. Spanyol terus tampil disiplin, rapi, dan konsisten meredam Argentina sepanjang laga.
Satu-satunya kelemahan mereka, tidak bisa mencetak gol saat menguasai pertandingan dari awal, akhirnya bisa dituntaskan oleh Ferran Torres. Ferran Torres melepaskan tembakan keras dari dalam kotak penalti yang tidak bisa diselamatkan Emiliano Martinez.
Setelah kebobolan, Argentina masih punya waktu sekitar 14 menit untuk bisa mengulang cerita seperti babak-babak sebelumnya. Namun tak ada perubahan dalam jalannya laga.
Spanyol menutup semua peluang dan ide Argentina yang diharapkan bisa mengubah jalan cerita. Argentina mengakhiri laga dengan kekalahan, bahkan tanpa satu pun tembakan tepat sasaran.
Perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026 yang bak film aksi ini pun berakhir dengan tangis kecewa untuk mereka.