Indonesia vs Vietnam: Ujian Mental Garuda
Vietnam kembali diperkuat Doan Van Hau, bek kiri berusia 27 tahun yang comeback usai sekitar dua tahun absen akibat cedera tendon Achilles.
Bagi publik sepak bola Tanah Air, nama Van Hau sudah tak asing. Ia dikenal sebagai salah satu pemain Vietnam paling keras dan kerap jadi momok bagi Garuda dalam berbagai pertemuan sebelumnya.
Cerita paling mengerikan soal Van Hau adalah saat dirinya menghajar kaki Evan Dimas di final SEA Games 2019. Sampai-sampai, Evan harus menaiki kursi roda saat prosesi penyerahan medali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, juru latih Vietnam Kim Sang Sik turut mewaspadai kekuatan duel udara Indonesia jelang laga ini. Sinyal itu menunjukkan Vietnam pun tengah menyiapkan pendekatan fisik untuk meredam ancaman dari lini serang Garuda.
Itu tak lepas dari kehadiran penyerang jangkung Indonesia, Mitchell Baker yang mencatat penampilan sensasional dalam dua laga perdana bagi tim Merah Putih. Pemain berpostur 196 sentimeter itu telah menggelontorkan empat gol.
Jelang bentrokan penuh tensi, PSSI bahkan sudah mengingatkan pemain agar tak terpancing provokasi mental ala Vietnam. Peringatan itu relevan mengingat gaya bermain keras jadi ciri khas The Golden Star Warriors.
Herdman punya jawabannya sendiri. Usai kemenangan 3-0 atas Timor Leste, ia menilai mentalitas timnya naik level, ditandai kesabaran skuad Garuda yang baru memecah kebuntuan pada 25 menit terakhir tanpa kehilangan fokus dan ketenangan.
Filosofi yang ia tanamkan pun jelas: disiplin saat bertahan, agresif saat menguasai bola, dan yang terpenting, mental yang tak gentar saat menghadapi tekanan.
Ancaman Vietnam tak berhenti di Van Hau semata. Ada juga Nguyen Xuan Son, striker naturalisasi asal Brasil. Belum lagi gelandang senior Nguyen Quang Hai dan Nguyen Hoang Duc sang pengatur tempo permainan.
Di sisi lain, Indonesia juga tak kekurangan senjata. Mitchell Baker mencetak hattrick saat menaklukkan Kamboja, plus satu gol tambahan ke gawang Timor Leste. Selain Mitch, Thom Haye juga jempolan. Tiga assist dan satu gol telah dibukukan eks Heerenveen itu.
Namun sejarah tetap jadi beban tersendiri bagi Garuda. Indonesia sudah enam kali menjadi runner-up Piala AFF, tetapi belum sekali pun keluar sebagai juara.
Lantas kemenangan atas Vietnam jadi ajang pembuktian bahwa tim Merah Putih layak disebut kandidat kuat juara Grup A, untuk kemudian merebut trofi perdana.
Pertanyaannya sekarang, mampukah nyali Garuda benar-benar teruji saat berhadapan langsung dengan agresivitas gaya main Van Hau dan kolega.
Tekanan itu nyata. Namun modal rekor, sejarah manis di Pakansari, dan mental yang diklaim naik level jadi bekal Indonesia untuk tak ciut nyali kontra Vietnam.
(nva)