Kunci Sukses Piala Presiden 2026: Transparan dan Tepat Sasaran
Prinsip tepat sasaran kemudian terlihat jelas dari kebijakan tiket di fase grup. Seluruh laga di Bandung dan Surabaya dibanderol seragam, Rp50 ribu untuk semua kategori tribun.
Harga rata itu membuat turnamen ini tetap terjangkau bagi kantong rakyat kebanyakan. Bukan cuma hiburan segelintir orang berduit, melainkan tontonan yang bisa dinikmati siapa saja.
Manfaatnya pun merembet ke pelaku usaha kecil. Panitia menggandeng puluhan UMKM di setiap kota penyelenggara, mulai dari 80 tenant di Surabaya hingga 50-60 tenant di Bandung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan saat semifinal dan final digelar tanpa penonton di Bali, panitia tetap menghadirkan 25 UMKM. Kebutuhan konsumsi panitia, personel keamanan, sampai tamu undangan tetap dibelanjakan dari sana.
Ketua Organizing Committee Piala Presiden 2026, Tsamara Amany, menyebut nilai itu memang dipegang sejak turnamen pertama kali digelar.
"Value-nya sejak awal adalah memiliki perputaran ekonomi, dan UMKM itu salah satu yang paling penting," ucap Tsamara.
Hasilnya tak main-main. Total transaksi UMKM selama turnamen tembus Rp1,5 miliar, melonjak 27 persen dibanding edisi sebelumnya.
Panitia juga menggandeng komunitas lokal lewat program bertajuk "Datang Bersih Pulang Bersih" di tiga kota penyelenggara. Sampah dari area stadion dipilah dan didaur ulang, hasilnya dikembalikan lagi untuk masyarakat sekitar.
Sebagai penutup gelaran, panitia menggelontorkan total hadiah Rp18,5 miliar untuk empat besar. Persebaya sebagai juara membawa pulang Rp8 miliar, disusul Persib selaku runner-up dengan Rp3,5 miliar.
Persija di peringkat ketiga mengantongi Rp2,5 miliar, sementara Arema di posisi keempat menerima Rp1,5 miliar. Angka ini mencerminkan Piala Presiden terus tumbuh dari tahun ke tahun, sejalan dengan kepercayaan yang dibangun lewat keterbukaan.
Delapan tahun perjalanan Piala Presiden menunjukkan pola konsisten. Tata kelola dijaga lewat audit independen, sementara manfaatnya disalurkan langsung ke akar rumput, dari suporter berkantong pas-pasan hingga pedagang kaki lima di sekitar stadion.
Di tengah sorotan tajam terhadap tata kelola olahraga nasional yang kerap dipertanyakan, formula transparan dan tepat sasaran ala Piala Presiden pantas jadi rujukan. Bukan sekadar buat turnamen sepak bola serupa, namun juga untuk ajang nasional secara lebih luas.
(afr/askar fatih robbani/jun)