TIPS OTOMOTIF
Untung Rugi Jika Motor Ganti Knalpot Racing
Rayhand Purnama | CNN Indonesia
Sabtu, 06 Jan 2018 12:48 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa pemilik kendaraan roda dua ada yang senang melakukan modifikasi pada knalpot sepeda motor mereka. Modifikasi biasanya dilakukan salah satunya dengan mengubah knalpot standar menjadi knalpot racing.
Modifikasi knalpot racing disukai karena selain membuat suara lebih gahar, disamping juga bisa menghasilkan tenaga lebih besar.
Tapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pemilik sepeda motor yang sudah mengganti knalpot standar mereka menjadi knalpot racing.
Sebab, pengguna juga harus melakukan penyesuaian antara mesin dengan knalpot. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta kepada mekanik melakukan setting CO (karbon monoksida) melalui ECU (engine control unit) bagi pemilik motor injeksi.
ECU berfungsi sebagai pusat kendali agar performa mesin optimal pada motor berjenis ignition dan injection. Jika tidak disesuaikan, alih-alih mendapat tenaga besar, motor malah bisa kehilangan tenaga.
Kepala Bengkel Yamaha Victory Ferdiansyah, menerangkan bahwa hal itu harus dilakukan dengan tujuan membuat kinerja mesin lebih maksimal pasca mengubah knalpot.
"Kalau dulu motor karbu setting-an dinaikin, sekarang itu (pengaturan dilakukan pada) CO," kata Ferdi kepada CNNIndonesia.com.
Sesuai karakter mesin
Tetapi, menurutnya, penyesuaian CO ini harus menyesuaikan kepada karakter mesin. Tidak bisa menuruti keinginan mekanik, maupun pemilik motor itu sendiri.
"Biar menyesuaikan mesin, itu bukan kemauan mekanik, tapi mesin itu sendiri, biar maksimal," lanjutnya.
"Tergantung maunya si mesin. Misalnya setting-an dapat lima trip, kemauan mekanik dapat 10 trip. Kalau mesin tidak terima malah jadi keborosan, ya sama aja boong dong," lanjutnya.
Untuk melakukan penyesuaian CO, mekanik biasanya menggunakan alat FI diagnostic tool. Biasanya, CO standar pabrikan sama dengan 0. Penyesuaian bisa dilakukan hingga batasan maksimal 30.
Boros bensin
Boros bahan bakar menjadi resiko lain yang harus ditanggung pemilik sepeda motor yang memodifikasi knalpot. Hal ini juga diamini oleh Ferdi. Bahkan menurutnya, bahan bakar bakal lebih terkuras dari sebelumnya karena settingan mesin sudah berubah.
Namun, menurut Ferdi sulit untuk memperkirakan tingkat keborosan bahan bakar. Hal itu menurutnya tergantung dari karakter mesin.
"Memang harus diborosin, karena menyesuaikan kemauan mesin. Bisa aja sih langsung pasang tidak di setting, cuma mesin tidak maksimal," ujarnya. (eks)
Modifikasi knalpot racing disukai karena selain membuat suara lebih gahar, disamping juga bisa menghasilkan tenaga lebih besar.
Tapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pemilik sepeda motor yang sudah mengganti knalpot standar mereka menjadi knalpot racing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dulu motor karbu setting-an dinaikin, sekarang itu (pengaturan dilakukan pada) CO," kata Ferdi kepada CNNIndonesia.com.
Sesuai karakter mesin
Tetapi, menurutnya, penyesuaian CO ini harus menyesuaikan kepada karakter mesin. Tidak bisa menuruti keinginan mekanik, maupun pemilik motor itu sendiri.
"Biar menyesuaikan mesin, itu bukan kemauan mekanik, tapi mesin itu sendiri, biar maksimal," lanjutnya.
Untuk melakukan penyesuaian CO, mekanik biasanya menggunakan alat FI diagnostic tool. Biasanya, CO standar pabrikan sama dengan 0. Penyesuaian bisa dilakukan hingga batasan maksimal 30.
Boros bensin
Boros bahan bakar menjadi resiko lain yang harus ditanggung pemilik sepeda motor yang memodifikasi knalpot. Hal ini juga diamini oleh Ferdi. Bahkan menurutnya, bahan bakar bakal lebih terkuras dari sebelumnya karena settingan mesin sudah berubah.
Namun, menurut Ferdi sulit untuk memperkirakan tingkat keborosan bahan bakar. Hal itu menurutnya tergantung dari karakter mesin.
"Memang harus diborosin, karena menyesuaikan kemauan mesin. Bisa aja sih langsung pasang tidak di setting, cuma mesin tidak maksimal," ujarnya. (eks)