Menurut Darmaningtyas para mitra cenderung dieksploitasi. Selama ini, perusahaan aplikasi merekrut pengemudi dengan sistem kemitraan di mana perusahaan yang tidak memiliki aset kendaraan bekerja sama dengan para pengemudi yang memiliki aset.
Kendati demikian, Tyas menyebut banyak keputusan sepihak yang dibuat perusahaan sehingga menjadikannya selayaknya majikan. Para pengemudi yang tidak memiliki kekuatan pun hanya punya pilihan untuk menjalaninya atau mundur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Buktinya kan komisi 20 persen itu eksploitasi. Jaketnya beli. Helmnya beli? Motornya punya sendiri?," ujarnya kemudian menerangkan bahwa seluruh atribut tersebut masih harus dikembalikan ketika pengemudi undur diri dari aplikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pernah pesan sekali kemudian yang telepon saya lima orang. Itu nanti kalo saya cancel kan yang kena hukuman driver juga. Itu muncul tulisan jaringan sedang padat, penuh akal-akalan," ujarnya.
Masalahnya, hingga kini pihak Gojek dan pengemudi tak pernah bertemu langsung. Demonstrasi yang dilakukan di depan pemerintah pun masih tak mampu mempertemukan dua pihak itu.
Sebelumnya, Perkumpulan Prakarsa juga menemukan bahwa pengemudi ojek online memiliki waktu kerja berlebihan, hingga mencapai 19 jam per hari. Mereka tak memiliki asuransi perlindungan dan kesejahteraan, dan pendapatan yang mereka terima tak sepadan dengan jam kerjanya yang tinggi. (mik)