Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menilai, munculnya kasus tersebut diduga karena pemilik lalai mengecek fungsi rem. Selain itu, Ia menjelaskan penyebab rem blong lainnya adalah muatan kendaraan melebihi kapasitas.
Menurut Jusri, barang yang diangkut melebihi kapasitas yang ditentukan akan membuat kinerja rem tidak maksimal dan kendaraan akan sulit dikendalikan.
Lihat juga:Tetap Bugar Berkendara Selama Bulan Puasa |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang harusnya bisa memberhentikan kendaraan pada jarak tertentu, tapi ini dia (sopir) tidak bisa melakukannya," ucap Jusri.
Lihat juga:Tiga Cara Mudah Cegah Pelek Peang |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya karena seperti itu tentu efek paling parah adalah kecelakaan, selain dari rusak komponen atau jalan yang menjadi rusak," ujarnya.
Oleh sebab itu Jusri menyarankan agar pengemudi dapat mengubah perilaku berkendara kendati kendaraan harus mengangkut beban banyak. Tujuannya agar kendaraan mudah dikendalikan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan.
"Pertama saya akan bergerak pelan. Misal yang semula itu bisa 60-70 km per jam. Ini paling tinggi 40 km per jam. Sehingga beban kerja rem tidak terlalu berat karena laju kendaraan tidak maksimal," tutup Jusri. (mik)