Pada Februari 2015 lalu ayah Diaz, Abdullah Makhmud Hendropriyono, mewakili perusahaannya Adiperkasa Citra Lestari, menandatangani nota kesepemahaman dengan Proton Holdings Bhd.
Penandatangananan disaksikan oleh Presiden Joko Widodo, Perdana Menteri Malaysia saat itu Najib Razak, dan Mahatir sebagai bos Proton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nota kesepemahaman meliputi pengembangan industri mobil yang kemudian memunculkan isu tujuannya untuk melahirkan mobil nasional baru Indonesia. Kabar pengembangan mobil nasional Indonesia sempat disangkal banyak pihak, termasuk kubu Jokowi yang mengatakan nota kesepemahaman itu murni bisnis.
Nama Esemka jadi sorotan lantaran Adiperkasa Citra Lestari melebur dengan pemegang lisensi mobil Esemka, Solo Kreasi Manufaktur, menjadi perusahaan baru bernama Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH) pada 2015. Hendropriyono merupakan Presiden Direktur ACEH.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seteru Mahatir dan Najib
Diaz menyebut pihak Esemka memandang situasi politik di Malaysia tidak kondusif, terutama menjelang pemilihan perdana menteri yang dilakukan pada Mei 2018. Situasi semakin memanas pada masa kampanye antara dua calon perdana menteri, yaitu Najib dan Mahatir yang hadir saat penandatanganan nota kesepemahaman antara Adiperkasa Citra Lestari dengan Proton.
"Pas masih kampanye, jadi ya tidak kondusif untuk kerjasama dengan mereka," kata Diaz saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan pada akhir pekan lalu.
Selain dinamika politik yang tidak baik, Diaz mengatakan bahwa kondisi pada internal Proton banyak berubah. Kala itu ia menyebut Proton masih dikendalikan penuh oleh Mahatir.
"Karena di internalnya (Proton) berubah dan situasi politik berubah. Saat itu Proton masih dipegang Mahatir, sementara PM (Perdana Menteri) Najib," ucapnya.
"Kami berkeinginan menghidupkan kembali proyek ini," ucap Mahathir kala itu. (ryh/fea)