Keinginan Nissan memproduksi mobil listrik di dalam negeri sudah terendus sejak direksi Nissan Motor Indonesia (NMI), pemegang merek dan produsen di Tanah Air, mendatangi kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada Selasa (6/8).
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kemenperin Harjanto menyampaikan NMI ingin memanfaatkan fasilitas pabrik Mitsubishi untuk memproduksi mobil listrik murni Leaf dan hybrid Note e-Power.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buat tahap awal, sebut Irwan, Mitsubishi Indonesia bakal mengikuti arahan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan, yaitu mengimpor mobil listrik dulu sebelum dipikirkan diproduksi lokal.
Pada Pasal 12 peraturan itu menyebutkan produsen boleh menjual mobil listrik Completely Built Up (CBU) dalam waktu tertentu. Namun mereka harus terlebih dahulu berkomitmen bakal berinvestasi pabrik mobil listrik di Indonesia.
"Karena pemerintah step pertama untuk mengakomodasi CBU impor, setelah beberapa waktu baru didorong untuk lokalisasi. Jadi satu-satu lah," kata Irwan.
Irwan mengatakan belum dapat bicara banyak tentang rencana kerja sama prinsipal Mitsubishi dan Nissan. Dia bilang jika sudah sepakat antara kedua belah pihak pasti hal tersebut diumumkan.
Menurut Irwan lagi mobil listrik jenis hibrida Mitsubishi lebih tepat dikembangkan di Indonesia daripada model berpenggerak murni listrik.
"Kalau ini pendapat pribadi saya, Mitsubishi untuk mengembangkan hybrid harusnya bisa. Pendapat saya. Cuma saat ini belom ada rencana apa-apa ke arah situ," ungkap dia. (fea/ryh/fea)