7 Destinasi Wisata yang Bisa Punah Akibat Bumi Kian Gerah
CNN Indonesia
Jumat, 05 Nov 2021 15:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Chacaltaya, resor ski tertinggi di dunia yang berada di Bolivia sudah mengalami kepunahan salju pada tahun 2021. (AFP/AIZAR RALDES)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pejabat pemerintahan dan pebisnis di dunia telah sering berbicara mengenai dampak buruk perubahan iklim ekstrem yang menyebabkan pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang disebabkan industri.
Namun, pernyataan-pernyataan mereka seakan hanya terdengar mantap dalam pidato, karena eksekusi nyata pelestarian lingkungan masih saja minim dan belum terbukti bisa menyelamatkan Bumi dari kehancuran alam.
Wisata alam menjadi salah satu yang terancam dari perubahan iklim. Resor ski atau pulau surgawi yang sering didatangi keluarga pejabat atau bos perusahaan besar nyatanya terancam punah jika alam terus rusak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Bumi terus rusak, kemungkinan besar generasi muda hanya bisa melihat menikmati wisata alam dari foto atau video. Dan ketiadaan alam tentu saja memperburuk kondisi kesehatan, seperti nihilnya udara bersih sampai sumber makanan yang bergizi.
Berikut tujuh destinasi wisata yang terancam punah akibat ekstremnya perubahan iklim di Bumi:
1. Hutan Amazon
Hujan Amazon adalah hutan tropis yang rimbun dengan luas lebih dari 3,2 juta kilometer persegi di Amerika Selatan.
Menjadi rumah bagi 10 persen spesies di dunia, keanekaragaman hayatinya menarik wisatawan mendatangi Hutan Amazon yang melintang di sembilan negara.
Namun kenaikan suhu telah mengancam hewan-hewan itu. Tahun 2018, World Wide Fund (WWF) memperingatkan bahwa setengah dari satwa liar di Amazon bisa hilang dalam 50 tahun ke depan.
"Di saat anak-anak kita tumbuh besar, tempat-tempat seperti Amazon dan Kepulauan Galapagos kemungkinan tidak dapat dikenali lagi," kata CEO WWF Tanya Steele, seperti yang dikutip dari Stacker.
Sementara itu, spesies pohon di Hutan Amazon diketahui mengubah komposisinya untuk beradaptasi dengan lingkungan, tetapi tidak dapat melakukannya dengan cukup cepat untuk mengimbangi perubahan iklim, menurut sebuah studi yang dipimpin University of Leeds, yang berkolaborasi dengan 100 ilmuwan dari lebih dari 30 organisasi di seluruh dunia.
Kerusakan alam demi industri juga mengusir suku asli penghuni Hutan Amazon dari pemukimannya.
Ancaman kepunahan yang sama juga terjadi di Hutan Borneo, yang melintang di antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei.
Habitat orangutan di sini diketahui dirusak oleh kegiatan eksploitasi hutan untuk industri, berupa pembakaran lahan untuk pembukaan lahan baru, sehingga kebakaran hutan sering terjadi.
"Botaknya" Hutan Borneo juga membuat bencana alam berupa banjir dan tanah longsor lebih sering terjadi.
Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memadamkan kebakaran di kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Selasa (2/3/2021). (ANTARA FOTO/BBKSDA Riau)
Puncak Alaska yang terjal, sungai yang deras, dan medan yang indah menjadikannya destinasi wisata yang menakjubkan yang dipenuhi dengan beruang, ikan, rusa, bison, dan satwa liar lainnya.
Melalui kapal pesiar atau trekking, hampir 2 juta orang mengunjungi negara bagian utara pada tahun 2016.
Namun, saat ini Alaska menjadi destinasi wisata yang terancam punah, menurut Fourth National Climate Assessment.
Ancaman termasuk garis pantai yang memburuk, lapisan es yang mencair, jalan yang runtuh, dan pohon yang tumbuh di daerah yang dulunya adalah tundra.
Tidak hanya itu, satwa liar juga menderita, beberapa terancam punah.
"Alaska berada di garis depan perubahan iklim dan merupakan salah satu kawasan dengan pemanasan tercepat di Bumi," kata laporan itu.
"Pemanasan di sana lebih cepat daripada negara bagian lain, dan menghadapi segudang masalah yang terkait dengan perubahan iklim."
Selain Alaska, destinasi wisata bersalju lainnya seperti Antartika, Islandia, Patagonia, Glacier National Park, Chamonix, dan Aspen juga mengalami masalah yang sama.
Jika perubahan iklim semakin ekstrem, pemandangan gunung bersalju kemungkinan hanya tinggal kenangan.
Pemandangan pemukiman yang diselimuti salju di Toksok Bay, Alaska. (Matt Hage/AP Images for U.S. Census Bureau)
3. Napa Valley, California
Dengan produksi wine terbaik di dunia dan garis pantai yang indah, Napa Valley, California, adalah destinasi wisata yang komplit.
Sebelum perubahan iklim terjadi seekstrem sekarang, petani anggur di sana bisa mendapat hasil panen yang subur dan tepat waktu.
Akibat pemanasan global, musim panen jadi tak menentu. Rasa wine-nya yang dikenal enak juga mulai mengalami perubahan.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
4. Air Terjun Victoria, Zimbabwe
Terletak di barat Zimbabwe dekat Taman Nasional Hwange, Air Terjun Victoria ialah air terjun terbesar di dunia.
Terbentang lebih dari setengah kilometer, air mengucur deras dari ketinggian sekitar 108 meter. Saking derasnya, air terjun ini hanya terlihat seperti kabut saat ditatap dari kejauhan.
Namun sayangnya, Global Climate Risk Index menempatkan Zimbabwe di peringkat dua pada tahun 2018.
Perubahan iklim yang menyebabkan pemanasan global mulai membuat kucuran air di sini berkurang. Dikhawatirkan, Air Terjun Victoria akan kering selamanya.
Jika Air Terjun Victoria yang sebegitu derasnya bisa terancam kekeringan, bagaimana dengan nasib air terjun di Indonesia seperti Tumpak Sewu atau Sigura-gura?
Terletak di Pegunungan Andes Peru, Machu Picchu menarik 1,5 juta wisatawan sepanjang tahun 2018.
Namun, para konservasionis khawatir bahwa situs tersebut dapat rusak jika perubahan iklim terus mempengaruhi cuaca.
Secara historis, areanya cukup kering. Namun sejak cuaca semakin ekstrem, kompleks peninggalan Suku Inca ini sering mengalami hujan lebat.
Hujan yang terlalu lebat bisa berdampak pada kerentanan area dan bangunan bersejarah itu, mulai dari ancaman longsor sampai erosi.
Cuaca ekstrem seperti di Machu Picchu kemungkinan juga bakal berbahaya bagi eksistensi bangunan bersejarah lain di dunia, seperti Piramida Giza, Kanal Venesia, sampai Candi Borobudur.
Kerusakan terumbu karang di Taman Nasional Karimun Jawa. (Dok. Greenpeace Indonesia)
6. Great Barrier Reef, Australia
Perubahan iklim yang menyebabkan pemanasan global membuat suhu air laut menghangat. Laut sudah seharusnya dingin, sehingga ikan dan terumbu karang bisa hidup dengan tenang.
Air laut yang menghangat membuat terumbu karang memutih hingga mati, sehingga kawanan ikan kabur dari rumahnya, untuk mencari terumbu karang yang masih hidup.
Jadi jika tak ada lagi terumbu karang, maka tidak ada lagi ikan.
Selain suhu yang menghangat, kerusakan lingkungan di dasar laut juga disebabkan oleh limbah rumah tangga (termasuk aktivitas resor atau kapal pesiar yang tak bertanggungjawab) serta penangkapan ikan yang menggunakan teknik jaring, racun, atau bom.
Berkurangnya jumlah ikan di Bumi juga dapat disebabkan oleh musim yang tak menentu selama perubahan iklim, sehingga mereka gagal bermigrasi dan bereproduksi.
Kekhawatiran yang sama juga bisa saja terjadi di spot-spot menyelam populer di Indonesia, seperti Raja Ampat atau Bunaken.
Vila-vila di atas air seperti ini bisa saja musnah saat level air laut naik atau gelombang tinggi yang disebabkan perubahan iklim ekstrem. (iStock/Konstik)
7. Maladewa
Terletak di perairan pirus Laut Arab, Kepulauan Republik Maladewa adalah salah satu destinasi wisata kepulauan yang paling populer di dunia.
Namun, sebagian besar pulau akan kehilangan air tanah yang dapat diminum pada tahun 2100, jika tidak lebih cepat, menurut penulis laporan April 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances.
Selain krisis air bersih, Maladewa juga diramalkan bakal tenggelam karena level air laut semakin tinggi, akibat hilangnya kawasan yang ditumbuhi pepohonan di Bumi, sehingga air dari langit tidak diresap dengan baik oleh tanah.
Berbicara pada konferensi iklim PBB tahun lalu, mantan Presiden Maladewa, Mohamed Nasheed, mengatakan negaranya akan melakukan segala daya untuk mencegahnya dan "menjaga kepala kita tetap di atas air. Kami tidak siap mati," katanya.
"Kami tidak akan menjadi korban pertama dari krisis iklim."
Pejabat pemerintahan dan pebisnis di dunia telah sering berbicara mengenai dampak buruk perubahan iklim ekstrem yang menyebabkan pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang disebabkan industri.
Namun, pernyataan-pernyataan mereka seakan hanya terdengar mantap dalam pidato, karena eksekusi nyata pelestarian lingkungan masih saja minim dan belum terbukti bisa menyelamatkan Bumi dari kehancuran alam.
Wisata alam menjadi salah satu yang terancam dari perubahan iklim. Resor ski atau pulau surgawi yang sering didatangi keluarga pejabat atau bos perusahaan besar nyatanya terancam punah jika alam terus rusak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Bumi terus rusak, kemungkinan besar generasi muda hanya bisa melihat menikmati wisata alam dari foto atau video. Dan ketiadaan alam tentu saja memperburuk kondisi kesehatan, seperti nihilnya udara bersih sampai sumber makanan yang bergizi.
Berikut tujuh destinasi wisata yang terancam punah akibat ekstremnya perubahan iklim di Bumi:
1. Hutan Amazon
Hujan Amazon adalah hutan tropis yang rimbun dengan luas lebih dari 3,2 juta kilometer persegi di Amerika Selatan.
Menjadi rumah bagi 10 persen spesies di dunia, keanekaragaman hayatinya menarik wisatawan mendatangi Hutan Amazon yang melintang di sembilan negara.
Namun kenaikan suhu telah mengancam hewan-hewan itu. Tahun 2018, World Wide Fund (WWF) memperingatkan bahwa setengah dari satwa liar di Amazon bisa hilang dalam 50 tahun ke depan.
"Di saat anak-anak kita tumbuh besar, tempat-tempat seperti Amazon dan Kepulauan Galapagos kemungkinan tidak dapat dikenali lagi," kata CEO WWF Tanya Steele, seperti yang dikutip dari Stacker.
Sementara itu, spesies pohon di Hutan Amazon diketahui mengubah komposisinya untuk beradaptasi dengan lingkungan, tetapi tidak dapat melakukannya dengan cukup cepat untuk mengimbangi perubahan iklim, menurut sebuah studi yang dipimpin University of Leeds, yang berkolaborasi dengan 100 ilmuwan dari lebih dari 30 organisasi di seluruh dunia.
Kerusakan alam demi industri juga mengusir suku asli penghuni Hutan Amazon dari pemukimannya.
Ancaman kepunahan yang sama juga terjadi di Hutan Borneo, yang melintang di antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei.
Habitat orangutan di sini diketahui dirusak oleh kegiatan eksploitasi hutan untuk industri, berupa pembakaran lahan untuk pembukaan lahan baru, sehingga kebakaran hutan sering terjadi.
"Botaknya" Hutan Borneo juga membuat bencana alam berupa banjir dan tanah longsor lebih sering terjadi.
Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memadamkan kebakaran di kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Selasa (2/3/2021). (ANTARA FOTO/BBKSDA Riau)
Puncak Alaska yang terjal, sungai yang deras, dan medan yang indah menjadikannya destinasi wisata yang menakjubkan yang dipenuhi dengan beruang, ikan, rusa, bison, dan satwa liar lainnya.
Melalui kapal pesiar atau trekking, hampir 2 juta orang mengunjungi negara bagian utara pada tahun 2016.
Namun, saat ini Alaska menjadi destinasi wisata yang terancam punah, menurut Fourth National Climate Assessment.
Ancaman termasuk garis pantai yang memburuk, lapisan es yang mencair, jalan yang runtuh, dan pohon yang tumbuh di daerah yang dulunya adalah tundra.
Tidak hanya itu, satwa liar juga menderita, beberapa terancam punah.
"Alaska berada di garis depan perubahan iklim dan merupakan salah satu kawasan dengan pemanasan tercepat di Bumi," kata laporan itu.
"Pemanasan di sana lebih cepat daripada negara bagian lain, dan menghadapi segudang masalah yang terkait dengan perubahan iklim."
Selain Alaska, destinasi wisata bersalju lainnya seperti Antartika, Islandia, Patagonia, Glacier National Park, Chamonix, dan Aspen juga mengalami masalah yang sama.
Jika perubahan iklim semakin ekstrem, pemandangan gunung bersalju kemungkinan hanya tinggal kenangan.
Pemandangan pemukiman yang diselimuti salju di Toksok Bay, Alaska. (Matt Hage/AP Images for U.S. Census Bureau)
3. Napa Valley, California
Dengan produksi wine terbaik di dunia dan garis pantai yang indah, Napa Valley, California, adalah destinasi wisata yang komplit.
Sebelum perubahan iklim terjadi seekstrem sekarang, petani anggur di sana bisa mendapat hasil panen yang subur dan tepat waktu.
Akibat pemanasan global, musim panen jadi tak menentu. Rasa wine-nya yang dikenal enak juga mulai mengalami perubahan.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
7 Destinasi Wisata yang Bisa Punah Akibat Bumi Kian Gerah
Chacaltaya, resor ski tertinggi di dunia yang berada di Bolivia sudah mengalami kepunahan salju pada tahun 2021. (AFP/AIZAR RALDES)
4. Air Terjun Victoria, Zimbabwe
Terletak di barat Zimbabwe dekat Taman Nasional Hwange, Air Terjun Victoria ialah air terjun terbesar di dunia.
Terbentang lebih dari setengah kilometer, air mengucur deras dari ketinggian sekitar 108 meter. Saking derasnya, air terjun ini hanya terlihat seperti kabut saat ditatap dari kejauhan.
Namun sayangnya, Global Climate Risk Index menempatkan Zimbabwe di peringkat dua pada tahun 2018.
Perubahan iklim yang menyebabkan pemanasan global mulai membuat kucuran air di sini berkurang. Dikhawatirkan, Air Terjun Victoria akan kering selamanya.
Jika Air Terjun Victoria yang sebegitu derasnya bisa terancam kekeringan, bagaimana dengan nasib air terjun di Indonesia seperti Tumpak Sewu atau Sigura-gura?
Terletak di Pegunungan Andes Peru, Machu Picchu menarik 1,5 juta wisatawan sepanjang tahun 2018.
Namun, para konservasionis khawatir bahwa situs tersebut dapat rusak jika perubahan iklim terus mempengaruhi cuaca.
Secara historis, areanya cukup kering. Namun sejak cuaca semakin ekstrem, kompleks peninggalan Suku Inca ini sering mengalami hujan lebat.
Hujan yang terlalu lebat bisa berdampak pada kerentanan area dan bangunan bersejarah itu, mulai dari ancaman longsor sampai erosi.
Cuaca ekstrem seperti di Machu Picchu kemungkinan juga bakal berbahaya bagi eksistensi bangunan bersejarah lain di dunia, seperti Piramida Giza, Kanal Venesia, sampai Candi Borobudur.
Kerusakan terumbu karang di Taman Nasional Karimun Jawa. (Dok. Greenpeace Indonesia)
6. Great Barrier Reef, Australia
Perubahan iklim yang menyebabkan pemanasan global membuat suhu air laut menghangat. Laut sudah seharusnya dingin, sehingga ikan dan terumbu karang bisa hidup dengan tenang.
Air laut yang menghangat membuat terumbu karang memutih hingga mati, sehingga kawanan ikan kabur dari rumahnya, untuk mencari terumbu karang yang masih hidup.
Jadi jika tak ada lagi terumbu karang, maka tidak ada lagi ikan.
Selain suhu yang menghangat, kerusakan lingkungan di dasar laut juga disebabkan oleh limbah rumah tangga (termasuk aktivitas resor atau kapal pesiar yang tak bertanggungjawab) serta penangkapan ikan yang menggunakan teknik jaring, racun, atau bom.
Berkurangnya jumlah ikan di Bumi juga dapat disebabkan oleh musim yang tak menentu selama perubahan iklim, sehingga mereka gagal bermigrasi dan bereproduksi.
Kekhawatiran yang sama juga bisa saja terjadi di spot-spot menyelam populer di Indonesia, seperti Raja Ampat atau Bunaken.
Vila-vila di atas air seperti ini bisa saja musnah saat level air laut naik atau gelombang tinggi yang disebabkan perubahan iklim ekstrem. (iStock/Konstik)
7. Maladewa
Terletak di perairan pirus Laut Arab, Kepulauan Republik Maladewa adalah salah satu destinasi wisata kepulauan yang paling populer di dunia.
Namun, sebagian besar pulau akan kehilangan air tanah yang dapat diminum pada tahun 2100, jika tidak lebih cepat, menurut penulis laporan April 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances.
Selain krisis air bersih, Maladewa juga diramalkan bakal tenggelam karena level air laut semakin tinggi, akibat hilangnya kawasan yang ditumbuhi pepohonan di Bumi, sehingga air dari langit tidak diresap dengan baik oleh tanah.
Berbicara pada konferensi iklim PBB tahun lalu, mantan Presiden Maladewa, Mohamed Nasheed, mengatakan negaranya akan melakukan segala daya untuk mencegahnya dan "menjaga kepala kita tetap di atas air. Kami tidak siap mati," katanya.
"Kami tidak akan menjadi korban pertama dari krisis iklim."