Alasan Hutan Sumatera Masuk 'Daftar Neraka' UNESCO

CNN Indonesia | Sabtu, 24/07/2021 11:24 WIB
Sama halnya dengan 'Bali Baru' atau Sirkuit Mandalika, Hutan Hujan Sumatera juga butuh perhatian karena telah masuk Hutan Hujan Tropis Sumatera, salah satu Situs UNESCO yang ada di Indonesia. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tahun 2019 menjadi tahun yang membanggakan bagi Indonesia, setelah Pertambangan Batu Bara Ombilin di Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatra Barat, masuk ke dalam Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sebelumnya, ada delapan situs di Indonesia yang telah masuk daftar bergengsi tersebut, yakni; Candi Borobudur, Taman Nasional Komodo, Candi Prambanan, Taman Nasional Ujung Kulon, Situs Sangiran, Taman Nasional Lorentz, Hutan Hujan Tropis Sumatera, dan Persawahan Subak Bali.

Sayangnya, pada tahun 2011 salah satu situs masuk dalam Danger List (Daftar Bahaya): Hutan Hujan Tropis Sumatera.


Masuk Daftar Situs Warisan UNESCO pada tahun 2004, Hutan Hujan Tropis Sumatra yang seluas 2,5 juta hektare terdiri dari tiga taman nasional, yakni; Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Situs ini memiliki potensi besar untuk konservasi jangka panjang dari biota khas dan beragam Sumatera, termasuk banyak spesies yang terancam punah.

Kawasan lindungnya adalah rumah bagi sekitar 10 ribu spesies tanaman, termasuk 17 genus endemik; lebih dari 200 spesies mamalia; dan sekitar 580 jenis burung, 21 di antaranya adalah endemik.

Dari spesies mamalia, 22 di antaranya asli Asia, tidak ditemukan di tempat lain dan 15 di antaranya hanya ditemukan di Indonesia, termasuk Orangutan Sumatera.

Hutan yang melintasi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung ini juga menyediakan bukti biogeografis dari evolusi pulau-pulau tersebut.

Hutan Hujan Tropis Sumatera akhirnya menghuni "daftar neraka" karena dianggap kehilangan unsur keaslian alamnya, baik dari faktor flora sampai fauna.

Kasus yang paling sering diberitakan ialah soal kebakaran hutan di sana, yang hampir terjadi setiap tahunnya.

Petugas gabungan dari TNI dan Manggala Agni Daops Banyuasin  berusaha memadamkan kebakaran lahan di Desa Pemulutan, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (23/8/2019). Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan periode Januari-Agustus sebanyak 1.675,80 hektare lahan yang terbakar di Kab/Kota yang ada di Provinsi Sumsel. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nzPetugas gabungan dari TNI dan Manggala Agni Daops Banyuasin berusaha memadamkan kebakaran lahan di Desa Pemulutan, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (23/8/2019). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nz)

Merangkum tulisan dari Walhi dan WWF Indonesia, ancaman kerusakan alam di Hutan Hujan Tropis Sumatra salah satunya bisa dilihat di Taman Nasional Gunung Leuser. Rencana pembangunan bendungan PLTA hingga perburuan liar masih menjadi isu meresahkan di sana.

Belum lagi kasus pembunuhan kejam terhadap Gajah Bunta pada tahun 2018. Dan ia bukan satu-satunya fauna yang mengalami nasib tragis.

Sementara itu, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mengalami fragmentasi habitat, selain akibat pembalakan liar juga akibat pembangunan ruas jalan. Saat ini terdapat tiga jalan nasional yang membelah taman nasional itu, dan mengganggu habitat hewan sensitif seperti badak sumatera.

Taman Nasional Kerinci Seblat pun tak bernasib lebih baik. Selain lahannya yang dijadikan perkebunan ilegal, harimau sumatera juga menjadi salah satu target perburuan liar di sana.

Warga beraktivitas di perairan Sungai Musi yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (11/10/2019). Sejumlah wilayah di Palembang masih diselimuti kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah kawasan di Sumatera Selatan. ANTARA FOTO/Mushaful Imam/Lmo/foc.Warga beraktivitas di perairan Sungai Musi yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (11/10/2019). Sejumlah wilayah di Palembang masih diselimuti kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah kawasan di Sumatera Selatan. (ANTARA FOTO/Mushaful Imam/Lmo/foc.)

Masuknya Hutan Hujan Tropis Sumatera ke dalam "daftar neraka" UNESCO seharusnya bisa dimaknai oleh pemerintah Indonesia sebagai pengingat agar usaha menjaga kelestarian warisan alam di sana menjadi prioritas, sama halnya seperti prioritas dalam pengembangan 'Bali Baru' atau Sirkuit Mandalika.

"Hutan Hujan Tropis Sumatera, kawasan seluas 2,5 juta hektare yang terdaftar dalam Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2004 untuk keanekaragaman hayatinya, telah ditempatkan dalam Daftar Bahaya untuk membantu mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh perburuan liar, pembalakan liar, perambahan pertanian, dan rencana untuk membangun jalan melalui situs tersebut," tulis UNESCO dalam situsnya pada Juni 2011.

"Keputusan ini diambil oleh Komite Warisan Dunia yang mengadakan sesi ke-35 di Paris, Prancis."

Hutan Hujan Tropis Sumatera masuk dalam Daftar Bahaya bersama 52 situs lain, seperti Pusat Sejarah Wina yang dilanda overtourism (serbuan turis).

Gugusan terumbu karang di Great Barrier Reef, Australia, juga sempat masuk daftar tersebut, meski tahun 2019 keluar setelah pemerintah Negara Kanguru mati-matian melakukan konservasi.

Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...

[Gambas:Video CNN]

Alasan Hutan Sumatera Masuk 'Daftar Neraka' UNESCO

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK