ANALISIS

Determinasi Merek China Renggangkan Cengkeram Mobil Jepang di RI

CNN Indonesia
Selasa, 29 Nov 2022 14:27 WIB
Merek mobil China melempar jangkar kuat di pasar otomotif Indonesia, merek Jepang yang sudah bersandar lama mulai berbenah. Merek mobil China melempar jangkar kuat di pasar otomotif Indonesia, merek Jepang yang sudah bersandar lama mulai berbenah. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lima tahun sudah merek mobil China mengibarkan bendera perang terhadap raksasa otomotif Jepang di Tanah Air. Sedikit demi sedikit persaingan mulai terasa keras sebab determinasi terus menusuk ke zona nyaman para senior.

Merek mobil China sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak lama, namun gebrakan yang pakai modal serius ditunjukkan SGMW Motor Indonesia pada 2017.

Perusahaan itu membawa merek Wuling ke Indonesia dan menyatakan komitmennya bukan cuma jualan mobil tetapi juga mendirikan dapur produksi di dalam negeri. Sikap ingin berumur panjang ini menjawab banyak pertanyaan pesimistis apakah merek China datang lagi cuma mau mampir lalu mangkir kemudian.

Tak cuma Wuling, kompatriotnya Sokonindo Automobile yang membawa DFSK juga turut tanam modal bangun pabrik mobil di Indonesia pada 2018. Lalu pada tahun ini muncul pula Chery Motor Indonesia yang serius menyicil usaha memproduksi mobil di Tanah Air dan punya komitmen baru.

Jika diamati saksama, strategi ketiga merek China ini sebetulnya mirip-mirip, investasi dirikan pabrik, menawarkan SUV sebagai pasar potensial dengan fitur kekinian lalu menjualnya lebih murah dari merek Jepang. Selain itu mereka juga masuk ke segmen mobil listrik harga murah yang tak terjangkau merek Jepang saat ini.

Cicilan eksistensi merek China ini berpotensi menggoyahkan dominasi merek Jepang, namun tetap masih ada keraguan karena sebagai pemain baru banyak hal yang belum teruji.

Banyak orang mengakui, mobil-mobil Jepang sudah sangat paten di Tanah Air. Indonesia sudah terbiasa pada kenyataan lebih dari 90 persen mobil baru yang terjual saban tahun adalah merek Jepang.

Hampir semua produk Jepang dinilai sesuai kebutuhan konsumen bawah dan menengah, kelompok yang paling banyak beli mobil baru, dengan tawaran mobil bertenaga, bandel, awet, dan irit.

Bau kencur

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Pasaribu menyampaikan merek Wuling dkk saat ini memang anak baru sedang mencoba peruntungan di pasar yang kadung dikuasai banyak raksasa.

Merek China memang bau kencur, tetapi silsilahnya tidak sembarangan. Yannes mengingatkan China merupakan pasar otomotif terbesar dunia yang pada tahun ini saja, hingga September, penjualan mobil baru domestik di sana tembus 19,47 juta unit.

Banyak produsen otomotif global, termasuk dari Jepang, tergiur dan berupaya masuk ke pasar China. Di sini China punya aturan khusus yakni asing harus menggandeng lokal sehingga muncul suntikan transfer teknologi yang pekat.

"Pemerintah (China) membuat mereka (produsen otomotif global) yang masuk harus menggandeng lokal partner. Nah teknologi itu yang diserap," kata Yannes saat dihubungi.

"Jadi semua dibuat di sana bisa, mulai dari pembuatan komponennya. Dan yang jelas mereka mendapat teknologinya," ucap Yannes.

Yannes bilang ekosistem itu melahirkan banyak produk China berteknologi anyar dan dapat diperhitungkan. Ini yang menjadi modal awal sejumlah merek China berkelana ke industri otomotif dunia setelah gemuk di negeri sendiri.

"Tapi yang masuk pasar internasional produk China biasanya mulai dengan spek rendah (bukan premium). Biar terjangkau. Jadi strateginya masuk dulu ke segmen bawah, tingkatkan kualitas, dan kemudian produk berikutnya keluar dengan desain bagus dan canggih. Tapi harga bersaing," kata dia.

Jepang introspeksi

Fitur mobil China tak hanya membuat pengemudi lebih aman dari sisi keselamatan, tapi juga terpukau saat menggunakannya.

Sebelum merek China hadir, siapa sangka Anda yang hanya memiliki bujet Rp200 juta hingga Rp300 jutaan dapat memiliki mobil baru bertabur teknologi. Sebut saja perintah suara berbahasa Indonesia di mobil Wuling yang bisa mengaktifkan fitur lain seperti membuka kaca jendela dan sunroof serta mengatur AC.

Kemudian banyak fitur lain seperti dari sisi entertaiment, keamanan serta keselamatan aktif dan pasif.

Hal ini kemudian diadaptasi merek Jepang untuk jajaran model entry level di Indonesia, seperti merek penguasa pasar Toyota, Daihatsu, hingga Honda, dalam beberapa waktu ke belakang.

Mereka kini aktif menghadirkan mobil canggih bertabur fitur untuk kelas kendaraan Rp200 jutaan.

Direktur Pemasaran Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmy bilang pada dasarnya penyematan fitur anyar pada setiap segmen kendaraan telah menyesuaikan kebutuhan konsumen.

"Faktor yang biasanya kami jadikan acuan adalah tren teknologinya dan kebutuhan penggunaan oleh si masing-masing segmen konsumen. Perpaduan itu harus bisa memberikan nilai atau nilai yang tepat buat konsumen, jadi tidak over value yang malah membuat konsumen jadi tidak bisa achieve," katanya.

Anton menambahkan fitur yang ada pada mobil juga harus disesuaikan tren yang tengah berkembang.

"Sebagai contoh sekarang rata-rata konsumen butuh konektifitas ke audio, maka sebisa mungkin fitur ini kami expand ke semua segmen. Lalu safety juga sama, Toyota Safety Sense (TSS) yang dulu hanya ada di kelas premium sekarang bahkan di level entry pun sudah ada ya," kata Anton.

Jepang belum goyah

Serangan datang tapi merek Jepang kelihatan belum goyah dan terasa masih jauh dari kewalahan. Ini didasari penjualan mobil merek China yang belum terlalu bersinar walau terus tumbuh.

Menurut data retail (penjualan dari dealer ke konsumen) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pada 2017 penjualan Wuling periode Agustus-Desember berjumlah 3.268 unit.

Lalu pada 2018, DFSK menjual 839 unit dan Wuling 15.162 unit.

Berikutnya pada 2019, capaian Wuling 21.112 unit dan DFSK 3.260 unit. Sementara saat 2020 surut akibat pandemi, Wuling melego 9.523 unit dan DFSK 2.424 unit.

Lalu pada 2021 penjualan Wuling tumbuh menjadi 23.920 unit dan DFSK 2.933 unit. Sedangkan tahun ini periode Januari- Oktober untuk Wuling 19.498 unit dan DFSK 1.974 unit.

Angka-angka itu jauh di bawah catatan merek Jepang, Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki sebagai penguasa pasar dengan penjualan per tahun di atas 100 ribu unit hingga 300 ribuan unit.

Yannes mengatakan merek China memang tak akan mudah menggeser keberadaan mobil Jepang dari peta pasar otomotif dalam negeri. Kata Yannes mobil Jepang ibarat budaya yang tak mudah luntur hanya karena sesuatu yang baru.

"Kalau Jepang itu sudah ada sejak tahun 70an. Sampai sekarang mereka sudah membangun industri, bahkan menjadi budaya," kata Yannes.

"Jadi kalau Indonesia pola pikirnya sampai sekarang, apalagi di generasi babyboomer, ya mobil, mobil Jepang. Ini sudah jadi budaya di mana syarat membentuk budaya kan 30 tahun, ya ibarat budaya Indonesia, ya mobil Jepang," ungkap dia.

Yannes menambahkan kendati begitu merek China punya peluang terus tumbuh dengan mengandalkan generasi milenial ke bawah.

"Kecuali generasi lebih muda. Kalau yang generasi awal ini tentu lebih yakin ke Jepang. Karena apa, seperti saya generasi babyboomer, pasti mau beli mobil banyak pertimbangan seperti nilai jual kembali. Nah generasi sekarang mereka beli mobil untuk dinikmati," ungkap Yannes.

(ryh/fea)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER