Catatan Khusus Toyota Soal Wacana Insentif Mobil Listrik 2026

CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 08:30 WIB
Toyota siap patuh pada regulasi insentif mobil listrik 2026, namun menekankan pentingnya kesiapan industri lokal dalam penyusunan aturan.
Toyota siap patuh pada regulasi insentif mobil listrik 2026, namun menekankan pentingnya kesiapan industri lokal dalam penyusunan aturan. (CNNIndonesia/Muhammad Ikhsan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Toyota menyatakan siap mengikuti regulasi baru terkait insentif mobil listrik yang diwacanakan berlaku mulai 2026. Namun, pabrikan asal Jepang itu menekankan pentingnya pemerintah memperhatikan kesiapan industri dalam negeri, baik dari sisi hulu dan hilir.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto mengatakan pihaknya sebagai pelaku industri akan patuh terhadap aturan yang ditetapkan pemerintah. Meski demikian, penyusunan regulasi dinilai perlu mempertimbangkan banyak aspek.

"Kalau itu regulasi, tentu kami harus mengikuti," kata Nandi di Jakarta, Senin (26/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nandi bilang kebijakan insentif mobil listrik yang mensyaratkan penggunaan bahan baku lokal, termasuk baterai, harus dibarengi kesiapan industri nasional. Semua tidak bisa dilakukan secara instan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau itu misalnya sampai ke tingkat purchase part atau material, ya kami akan jalankan bertahap, kesiapan industri lokal seperti apa. Itu yang menjadi penting," ujarnya.

Toyota juga meminta pemerintah mempertimbangkan kesiapan industri pendukung dalam penyusunan aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta kebijakan insentif kendaraan listrik. Salah satu contoh yang disorot industri baja otomotif.

"Untuk otomotif, volumenya (baja) tidak terlalu besar tetapi kualitas yang diperlukan sangat luar biasa" katanya.

Nandi menambahkan jika berbicara mengenai industri baterai, hal tersebut membutuhkan banyak persiapan dari berbagai aspek, bukan cuma soal kesiapan regulasi dan Sumber Daya Alam (SDA). Dibutuhkan juga investasi, sumber daya manusia, hingga teknologi memadai.

"Tapi kesiapan dari masing-masing industri itu benar-benar dilihat," ucap Nandi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menyatakan pihaknya telah mengajukan usulan insentif dan stimulus bagi sektor otomotif kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurutnya insentif untuk sektor otomotif merupakan salah satu upaya pemerintah dalam melindungi tenaga kerja pada industri padat modal itu.

"Kami sudah kirim dan tentu seperti yang selalu kami sampaikan bahwa program yang kami usulkan atas nama perlindungan tenaga kerja, dan juga kekuatan atau penguatan manufaktur bidang otomotif yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi kepada perekonomian," kata Agus awal bulan ini.

Agus bilang usulan tersebut dirancang lebih komprehensif dan terukur dibandingkan skema insentif pada masa pandemi Covid-19. Penjelasan dia insentif yang diusulkan kali ini telah disusun secara lebih detail dengan mempertimbangkan berbagai aspek, misalnya segmentasi kendaraan, teknologi, hingga Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Selain itu, pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan kendaraan ramah lingkungan.

Agus menambahkan penyusunan usulan insentif ini melalui proses yang panjang dan sudah melibatkan pelaku industri, dalam hal ini Gaikindo.

Skema insentif juga akan mempertimbangkan kendaraan listrik dengan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang berpeluang memperoleh insentif lebih kecil dari yang menggunakan baterai berbahan nikel.

Namun sejauh ini belum ada kelanjutan terkait usulan insentif fiskal 2026 dari para pemangku kepentingan.

(ryh/dmi)


[Gambas:Video CNN]