Mobil Listrik China Dominan di Indonesia, Bagaimana di Negara Lain?
Dominasi China dalam peta kendaraan elektrifikasi di Indonesia, khususnya mobil listrik (BEV), dinilai sangat kuat dan berperan sebagai aktor utama. Hal itu disampaikan Peneliti senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi yang menyoroti arah perkembangan elektrifikasi nasional.
"Indonesia kalau terkait elektrifikasi posisinya didominasi oleh barang berwarna kemerah-merahan," ujarnya sembari menunjuk diagram tanda merah sebagai indikator produk China saat memberi presentasinya di Jakarta, Selasa (14/4).
Ia menjelaskan indikator warna merah dalam pemetaan tersebut merujuk pada keterlibatan China dalam industri elektrifikasi. Hasilnya, porsi produk elektrifikasi yang berasal dari negara Tirai Bambu sangat dominan.
"Jadi sudah dilihat yang merah kaitannya dengan China. Jadi di atas 60 persen itu produk elektrifikasi kita mostly dari China. Mostly. 60 persen ke atas itu," kata dia.
Apa yang disampaikan Agus sejalan tren merek mobil China yang masuk Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Jumlahnya terus meningkat dan kini mencapai 16 merek. Hampir semua merek fokus pada penjualan mobil elektrifikasi, terutama BEV.
Kanibal
Fenomena ini, lanjutnya, tidak hanya terjadi di Indonesia. Negara tetangga seperti Thailand juga mengalami kondisi serupa, bahkan disebut telah mengalami dampak cukup serius di mana banyak merek 'terkanibal'.
Sekitar 80 persen mobil listrik di Thailand berasal dari China. Berdasarkan data per 2024, sejumlah pabrik asal Jepang di Thailand tutup seperti Subaru, Honda, dan terbaru Suzuki.
"Dan Thailand sudah menghadapi masalah di industri otomotifnya. Banyak pabrik-pabrik yang mulai tutup sehingga Thailand growth-nya juga decay. Kenapa? Karena dia dikanibal walaupun direduksi oleh yang harusnya produk baru. Menambah (merek) tapi ini adalah mengkanibal atau mereduksi," kata Agus.
Di sisi lain, ada negara yang dinilai berhasil memanfaatkan momentum elektrifikasi, yakni India dan Vietnam. Keduanya dianggap mampu membangun basis industri lokal yang kuat.
"Tapi lihat dua negara Asia Pasifik yang relatif berhasil di era ini adalah India dan Vietnam. Ijo-nya gede ya. Ijo-nya gede itu kalau dilihat di sini ada terkait dengan local production. Baik domestic, Chinese locally, ataupun other local production," ucapnya.
Menurut dia, kehadiran produksi lokal menjadi pembeda utama dibanding negara lain yang hanya menjadi pasar.
"Jadi basis lokalnya paling tidak ada. Kalau yang lain praktis basis market saja. Kalau yang ini ada basis lokal industri yang mulai ada. Baik dia domestic brand, Chinese locally produce, maupun other local production," kata dia.
Menurut Agus keberhasilan India dan Vietnam tidak lepas dari kebijakan pemerintah setempat yang terukur dan konsisten mendorong industri dalam negeri.
"Nah ini adalah menjadi istilahnya pembelajaran buat kita. Kenapa India dan Vietnam ini elektrifikasinya mulai berhasil membangun internal. Karena memang mereka punya policy dan juga implementasi yang terukur. Dan memang jadi walaupun itu tapi dia bisa mendorong produknya," ujarnya.
Ia mencontohkan India yang dinilai berhasil meski memiliki tingkat produk domestik bruto (PDB) relatif lebih rendah dibanding Indonesia. Sementara Vietnam juga menunjukkan kemajuan signifikan lewat pengembangan merek lokal yang didukung kolaborasi global.
Untuk kawasan Asia Tenggara, Malaysia dirasa Agus memiliki posisi yang sedikit lebih baik dibanding Indonesia, meski masih didominasi produk China.
"Nah Malaysia itu juga sedikit lebih baik dari Indonesia dalam sisi porsinya. Cuma memang tetap didominasi oleh China," katanya.
Lebih jauh, ia mengutip proyeksi global terbaru yang menunjukkan dominasi China dalam industri elektrifikasi masih akan bertahan dalam jangka panjang. Dalam proyeksi tersebut, kata dia, China tetap menjadi pemain utama, diikuti negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat.
Sementara negara berkembang, termasuk Indonesia, diperkirakan akan tetap tumbuh namun belum mampu menyaingi dominasi tersebut.
"Ini diprediksi sampai 2035 masih oleh China akan dominasi," kata Agus.
(ryh/fea)