Harga BBM Melejit, Pindah ke Mobil Listrik 'Hematnya Luar Biasa'
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang kian tinggi dinilai menjadi momentum bagi pertumbuhan pasar kendaraan listrik Indonesia. Indomobil melihat pergeseran minat masyarakat mulai mengarah ke mobil listrik seiring beban biaya operasional kendaraan konvensional yang semakin mahal.
Harga sejumlah Bahan Bakar Minyak (BBM) milik PT Pertamina (Persero) naik lagi per Senin (4/5). Salah satu yang jadi sorotan adalah BBM diesel Pertamina Dex yang kini nyaris Rp30 ribu per liter.
Kenaikan BBM nonsubsidi itu cukup signifikan, sebelumnya Pertamina Dex (CN 53) juga sudah mengalami kenaikan dari Rp23.900 per liter menjadi Rp27.900 per liter. Ini juga menjadi kenaikan harga kali kedua, sebab sebelumnya dibanderol Rp13 ribuan.
Selain itu, Dexlite (CN 51) naik dari Rp23.600 per liter menjadi Rp26.000 per liter. Kenaikan turut terjadi pada Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp19.400 per liter menjadi Rp19.900 per liter.
"Ya, saya lihat beberapa bulan ini, apalagi bulan April yang lalu, masyarakat itu cenderung membeli mobil listrik," ujar Chief Executive Officer PT Indomobil National Distributor Tan Kim Piauw di Jakarta, Rabu (6/5).
Ia menjelaskan perbedaan biaya operasional antara mobil BBM atau mobil internal combustion engine (ICE) dan kendaraan listrik sangat signifikan. Dalam hitungannya, penggunaan mobil listrik untuk kebutuhan harian mampu memangkas pengeluaran secara drastis.
"Jadi sebenarnya, kalau saya kalkulasi, kita yang biasa pakai mobil ICE, jika kita sekarang pakai mobil EV, untuk daily operation saja, kita itu bisa menghemat 80 sampai 90 persen. Tapi dengan minyak yang makin mahal, itu bisa lebih daripada 90 persen penghematan kita," katanya.
"Jadi, masyarakat itu kan juga merasakan biaya bahan bakar yang sangat tinggi ya. Sangat tinggi. Terus kalau mereka convert ke mobil listrik, ini penghematannya luar biasa. Penghematannya luar biasa," ucap Kim lagi.
Menurutnya, kondisi ini menjadi faktor positif mendorong adopsi kendaraan listrik di Tanah Air. Selain lebih hemat, mobil listrik juga menawarkan sejumlah keunggulan lain yang mulai dipahami masyarakat.
"Jadi, mobil listrik itu banyak manfaat ya. Selain bersih lingkungannya, perawatannya juga murah, biaya operasi daily-nya itu juga sangat murah sekali," ucapnya.
Meski demikian, ia mengakui masih ada kekhawatiran di masyarakat terkait infrastruktur pengisian daya sehingga berpotensi menghambat pasar kelak. Namun, menurutnya, perkembangan fasilitas pengisian saat ini sudah cukup masif dan memadai.
Geliat EV di Indonesia terlihat jelas dari penurunan kontribusi mobil ICE terhadap total pasar. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), porsi ICE melorot dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025.
Sebaliknya, porsi battery electric vehicle (BEV) melejit dari 0,1 persen menjadi 12,9 persen pada akhir 2025. Per Maret 2026, porsi BEV naik lagi menjadi 15,6 persen, sedangkan ICE melorot menjadi 75 persen.
Pada periode ini, penjualan BEV melonjak 96 persen menjadi 33.146 unit dari 16.926 unit, melampaui pertumbuhan industri yang hanya 1,7 persen. Sementara, penjualan mobil ICE ambles dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Hingga akhir 2026, porsi BEV diprediksi melambung menjadi berkisar 19-20 persen.
"Kuartal 1 tahun lalu market share dari mobil listrik itu hanya 8 persen. Tapi, kuartal 1 2026 market mobil listrik itu sudah hampir 15 per een, 14 persen lebih," katanya.
(ryh/fea)