Rupiah Menguat Bukan Obat, Produsen Mobil Diharap Tetap Tahan Harga

CNN Indonesia
Kamis, 18 Jun 2026 12:30 WIB
Ekonom Josua Pardede mengatakan penguatan rupiah bisa membantu produsen mobil menahan kenaikan harga kendaraan, namun belum cukup jadi sinyal pemulihan. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Josua Pardede menilai penguatan rupiah dapat membantu produsen mobil di dalam negeri menahan kenaikan harga, namun belum cukup dibaca sebagai sinyal pemulihan permintaan otomotif yang kuat.

"Penguatan rupiah memberi ruang optimisme bagi industri otomotif, tetapi optimisme itu perlu sangat terukur tidak serta-merta diterjemahkan sebagai pemulihan permintaan yang kuat," kata Josua, ekonom jebolan Universitas Indonesia dan University of Amsterdam, dikutip Antara, Rabu (17/6).

Pada Rabu (17/6) nilai tukar rupiah sempat menguat di level Rp17.758 per dolar AS. Sementara pada Kamis (18/6) pukul 11.45 WIB rupiah berada di kurs Rp17.793.

Menurut Josua, rupiah yang lebih kuat membantu mengurangi tekanan biaya impor berbagai kebutuhan industri otomotif. Mulai dari komponen, kendaraan utuh, baterai, suku cadang, bahan baku logam, elektronik kendaraan, hingga biaya logistik yang banyak terkait dolar Amerika Serikat (AS).

Bagi produsen dan agen pemegang merek (APM) yang masih memiliki kandungan impor tinggi, penguatan rupiah membantu menjaga margin usaha sekaligus menahan kenaikan harga jual kendaraan.

"Ini penting karena pasar otomotif sedang sensitif terhadap harga dan cicilan," ujar Josua.

Meski menjadi angin segar, Josua menilai penguatan rupiah belum otomatis membuat harga mobil bisa diturunkan atau permintaan pasar melonjak dalam waktu singkat.

Josua yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi Tetap II Kajian Ekonomi Global Strategis Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menilai dampak penguatan rupiah terhadap biaya produksi biasanya membutuhkan waktu.

Sebab, industri masih menggunakan stok lama, kontrak pembelian sebelumnya, biaya logistik yang sudah berjalan, serta strategi lindung nilai yang dibuat sebelum rupiah menguat.

Selain itu, harga kendaraan juga dipengaruhi berbagai faktor lain seperti biaya pembiayaan, pajak, insentif, upah tenaga kerja, bahan baku, promosi, dan tingkat persaingan pasar.

"Jadi, rupiah yang menguat lebih realistis dipakai untuk menahan kenaikan harga, bukan langsung menurunkan harga besar-besaran," jelasnya.

Tak cuma soal kurs

Dari sisi konsumen, Josua menilai penguatan rupiah merupakan sentimen positif, namun belum cukup kuat untuk mengubah keputusan pembelian kendaraan.

Menurut dia, keputusan membeli mobil lebih banyak ditentukan kemampuan membayar uang muka dan cicilan, kepastian pekerjaan, harga bahan bakar, serta keyakinan terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.

Karena itu, ia mengingatkan industri otomotif agar tidak terlalu cepat membaca penguatan rupiah sebagai sinyal pemulihan permintaan yang kuat.

Josua menyarankan langkah pertama yang perlu dilakukan industri adalah menahan kenaikan harga selama mungkin.

"Langkah pertama yang perlu dilakukan industri adalah menahan kenaikan harga selama mungkin. Jika rupiah menguat dan biaya impor mulai turun, ruang tersebut sebaiknya dipakai untuk menjaga harga tetap stabil, bukan langsung menaikkan margin. Dalam kondisi konsumen menunda pembelian, stabilitas harga lebih penting daripada kenaikan harga kecil yang bisa memperlemah permintaan," katanya, dikutip Antara, Rabu (17/6).

Cicilan

Selain strategi harga, Josua menyarankan industri memperkuat program pembiayaan agar pembelian kendaraan lebih terjangkau.

Ia menyarankan kerja sama lebih erat antara produsen, perusahaan pembiayaan, dan perbankan untuk menawarkan cicilan yang lebih ringan, uang muka yang fleksibel, serta program bunga promosi yang tetap memperhatikan kualitas kredit.

Produsen juga perlu memperkuat nilai tambah di luar harga jual, seperti paket servis gratis, garansi lebih panjang, potongan biaya perawatan, asuransi, program tukar tambah, hingga jaminan ketersediaan suku cadang dan nilai jual kembali kendaraan.

"Dalam situasi daya beli melemah, konsumen lebih memperhatikan biaya kepemilikan sepanjang masa pakai kendaraan, bukan hanya harga beli awal," ujarnya.

Di tengah persaingan yang makin ketat, terutama dengan masuknya merek-merek baru asal China, Josua menilai produsen lama perlu memperkuat layanan purna jual, jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang, serta membangun kepercayaan konsumen.

"Dalam jangka pendek, perang harga mungkin menggoda, tetapi dalam jangka panjang yang lebih menentukan adalah kepercayaan konsumen," tuturnya.

Stok dan kandungan lokal

Josua juga menekankan pentingnya pengelolaan stok secara disiplin. Produsen dan dealer, menurut dia, perlu lebih fokus memantau penjualan ke konsumen akhir dibanding sekadar pengiriman kendaraan dari pabrik ke dealer, agar tidak terjadi kelebihan persediaan yang berujung pada diskon besar.

Untuk jangka panjang, ia mendorong percepatan peningkatan kandungan lokal guna mengurangi ketergantungan industri terhadap fluktuasi nilai tukar. Terutama untuk komponen elektronik, baterai, motor listrik, baja, plastik otomotif, kaca, ban, dan suku cadang utama.

Josua menambahkan, pemerintah juga perlu menjaga stabilitas rupiah, memastikan konsistensi insentif kendaraan listrik dan komponen lokal, serta mempertahankan daya beli masyarakat agar peluang pemulihan industri otomotif dapat terus terjaga.

Josua menyebut strategi-strategi itu perlu diterapkan karena kondisi pasar otomotif belum sepenuhnya pulih.

Data penjualan yang meningkat secara tahunan namun menurun secara bulanan menunjukkan pasar memang membaik dibandingkan tahun lalu, tetapi pemulihannya masih berlangsung secara bertahap.

"Artinya, pasar masih perlu dijaga dengan strategi harga, pembiayaan, dan stok yang hati-hati," tutur Josua.

(fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK