Aismoli Anggap Harga BBM Naik Jadi Momen Akselerasi Adopsi EV

CNN Indonesia
Sabtu, 20 Jun 2026 07:32 WIB
Aismoli menilai kenaikan harga BBM dan dukungan publik kuat jadi momentum mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Aismoli menilai kenaikan harga BBM dan dukungan publik kuat jadi momentum mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan dukungan masyarakat yang kuat membuka peluang mempercepat adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) secara masif di Indonesia.

Kenaikan harga BBM yang diklaim Aismoli mencapai sekitar 37 persen sejak berlaku 10 Juni 2026 memperdalam tekanan biaya pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut disorot. Kondisi itu disebut membuat tiap liter BBM impor semakin mahal dalam rupiah, sehingga memperbesar beban subsidi yang ditanggung APBN.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kondisi ini menciptakan peluang sebagai momentum paling tepat untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik secara masif di Indonesia," kata Budi Setiyadi, Ketua Umum Aismoli, dalam keterangan resmi yang dikutip Antara, Jumat (19/6).

Menurut Budi, setiap unit kendaraan listrik yang beralih hari ini berarti satu unit lepas dari ketergantungan BBM secara permanen. Hal itu sekaligus memperlebar ruang fiskal dan mengurangi eksposur APBN terhadap volatilitas harga energi global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip riset INDEF (2025), Budi menyebut hampir 20 persen pengeluaran rumah tangga dialokasikan untuk kebutuhan kendaraan, mulai dari pembelian, perawatan, pajak, hingga bahan bakar. Komponen ini disebut paling sensitif terhadap perubahan harga energi.

Ia menilai berbagai bentuk dukungan kepada masyarakat di momen tekanan biaya yang tinggi ini akan menghasilkan dampak adopsi yang jauh lebih besar per rupiah yang dikeluarkan negara.

"Dalam situasi inilah kami siap mendukung komitmen pemerintah dalam mendorong transisi kendaraan listrik," kata Budi.

Survei

Budi menyebut dukungan masyarakat terhadap kendaraan listrik di Indonesia saat ini sangat kuat. Survei di lima kota, yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar, yang dikutip Aismoli mencatat 98 persen responden menyatakan mendukung.

Survei yang sama menunjukkan 94,8 persen responden setuju pemerintah perlu mendorong percepatan transisi itu secara aktif.

Di antara mereka yang sudah menjadi pengguna kendaraan listrik, 96,8 persen mengaku merasakan manfaat langsung berupa biaya operasional lebih rendah, perawatan lebih mudah, dan beban pajak lebih ringan.

Sementara di antara responden yang belum memiliki kendaraan listrik, 81,1 persen menyatakan bersedia beralih apabila terbukti memperbaiki kualitas hidup mereka dari sisi kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.

Survei itu juga mencatat 89,2 persen responden berharap pemerintah mewajibkan harga kendaraan listrik lebih terjangkau, dan 95,8 persen mendukung pemerintah mendorong produksi kendaraan rendah emisi yang lebih masif.

"Masyarakat Indonesia sudah siap, memahami manfaatnya, dan menantikan percepatan transisi energi di bidang transportasi," ujar Budi.

Konsistensi kebijakan

Sekretaris Jenderal Aismoli Hanggoro Ananta Khrisna mengatakan yang dibutuhkan industri kendaraan listrik saat ini adalah ekosistem kebijakan yang stabil dan dapat diprediksi.

Kepastian arah kebijakan fiskal dan regulasi dalam jangka menengah dan panjang, mulai dari skema dukungan pembelian, kebijakan perpajakan kendaraan, hingga standar produksi, akan menentukan sejauh mana investasi industri bisa tumbuh secara berkelanjutan.

"Tanpa konsistensi kebijakan, setiap gelombang adopsi yang terbentuk berisiko terhenti ketika program berakhir atau berganti," kata Hanggoro.

Ia menyebut industri sudah mempersiapkan diri sepenuhnya, mulai dari ketersediaan unit kendaraan yang terjaga, jaringan distribusi yang aktif, hingga usulan perbaikan teknis yang telah disampaikan ke pemerintah.

Menurut Hanggoro, yang masih diperlukan saat ini adalah regulasi teknis pelaksana jangka pendek yang memberi kepastian segera, seiring komitmen kebijakan jangka menengah yang menciptakan iklim investasi kondusif bagi seluruh rantai pasok industri kendaraan listrik nasional.

"Dengan konsistensi kebijakan, Indonesia memiliki peluang nyata untuk membangun industri kendaraan listrik yang kompetitif secara global," ujar Hanggoro.

(fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]