Aliansi Mitsubishi-Nissan Melemah Saat Merek China Menekan
Aliansi Mitsubishi Motors dan Nissan dinilai minim hasil menjelang ulang tahun kesepuluh, tepat saat Mitsubishi menghadapi tekanan pabrikan China di Asia Tenggara.
Berakhirnya masa penguncian atau lockup saham Nissan di Mitsubishi pada Oktober memunculkan spekulasi masuknya mitra modal baru.
Nissan di bawah Chairman kala itu, Carlos Ghosn, membeli 34 persen saham Mitsubishi pada Oktober 2016 senilai sekitar 240 miliar yen atau setara Rp26,64 triliun (kurs Rp111). Transaksi itu sebagian berfungsi sebagai penyelamatan setelah Mitsubishi kehilangan kepercayaan konsumen akibat skandal data efisiensi bahan bakar.
Rapor sinergi
Kerja sama keduanya sempat melahirkan berbagai produk. Kei car listrik Nissan Sakura dan Mitsubishi eK X EV disebut laris, sementara SUV Mitsubishi Outlander dan Nissan X-Trail dibangun di atas platform bersama.
Namun kerja sama yang ada antara kedua perusahaan "tidak cukup untuk menopang laba mereka," kata Koji Endo, chief executive analyst SBI Securities, dikutip Nikkei Asia, Kamis (27/8).
Nikkei menghitung laba operasional total Mitsubishi selama lima tahun hingga tahun fiskal 2025 dibagi belanja riset dan pengembangan lima tahun sebelumnya. Hasilnya rasio 1,3, turun tajam dari 3,3 satu dekade sebelumnya. Tahun fiskal 2025 di Jepang berakhir Maret 2026.
Sebagai pembanding, Suzuki dan Subaru yang bermitra dengan Toyota mencatat rasio 3,2 dan 2,3 untuk periode hingga tahun fiskal 2025.
Mitsubishi dan Nissan "tidak membuat kemajuan pada berbagi komponen dan pengadaan," ujar Seiji Sugiura, senior analyst Tokai Tokyo Intelligence Laboratory.
"Investasi itu tampaknya benar-benar didorong oleh Ghosn, dan saya ragu apakah ada diskusi mendalam sebelumnya soal kerja sama," lanjutnya.
Bagi Nissan, hubungan dengan Mitsubishi diperkirakan hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total laba sebelum pajak selama sepuluh tahun terakhir.
Keduanya kini sama-sama tertekan. Mitsubishi menghadapi persaingan pabrikan China di Asia Tenggara, kawasan yang digarapnya intensif sejak 2000-an, ditambah dampak tarif Amerika Serikat dan konflik di Timur Tengah.
Nissan mencatat rugi bersih tahunan kedua berturut-turut pada tahun fiskal 2025 di tengah lesunya penjualan Amerika Utara dan tengah menjalani restrukturisasi. Kapitalisasi pasar Mitsubishi merosot sekitar 40 persen sejak Oktober 2016.
"Bertahan di jalur saat ini tidak akan menghasilkan teknologi atau model bisnis baru," ucap Endo.
Honda dan Foxconn
Nissan bersama tiga perusahaan grup Mitsubishi, termasuk Mitsubishi Corp., menguasai total 51 persen saham Mitsubishi Motors. Hubungan permodalan itu disebut tidak akan berubah dalam waktu dekat, meski rumor di kalangan pengamat pasar menyebut Nissan bisa melepas sebagian sahamnya.
Salah satu opsi yang mengemuka adalah masuknya Honda untuk membentuk aliansi tiga arah, dengan kekuatan Mitsubishi di segmen pikap dinilai menarik bagi pabrikan tersebut. Honda kini sedang berbicara dengan Nissan soal software-defined vehicle.
Opsi lain adalah Foxconn. Pekan lalu Mitsubishi menyatakan akan membeli satu mobil listrik yang dikembangkan unit Foxconn, dengan penjualan dimulai di Australia dan Selandia Baru paling cepat tahun ini.
"Saya juga bisa membayangkan aliansi tiga perusahaan, bukan hanya Mitsubishi Motors dan Foxconn, tetapi juga Honda, yang telah berbelok dari prinsip jalan sendiri," tutur Sugiura.
(fea)