Trump Melunak, Buka Pintu Mobil China Dirakit di AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan tak keberatan bila pabrikan mobil China membangun pabrik perakitan kendaraan di negaranya. Sikap agak lain ini jadi lampu hijau buat China tetapi ditentang luas oleh anggota parlemen maupun perusahaan mobil AS sendiri.
Jika China ingin masuk dan membuka pabrik untuk membangun mobil mereka di AS, "saya oke saja dengan itu," kata Trump dalam wawancara di program Fox News "The Ingraham Angle" Jumat (11/9).
Kontras dengan aturan lama
Pernyataan itu kontras dengan regulasi era pemerintahan mantan Presiden Joe Biden yang diterapkan awal 2025. Era Biden melarang seluruh pabrikan China menjual atau membangun kendaraan penumpang di AS.
Washington juga masih menerapkan tarif lebih dari 100 persen untuk kendaraan listrik asal China.
Trump menyinggung Jepang sebagai perbandingan: "Jepang melakukannya, tapi mereka mempekerjakan orang-orang kita."
Ia menambahkan tak ingin pabrikan China membangun mobil di Meksiko lalu mengirimnya ke AS, sembari menegaskan dirinya "tidak menjelekkan mobil China."
Pabrikan mobil AS sendiri telah mendesak Trump, yang dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Washington dua pekan lagi, agar tidak memberi pabrikan China akses ke pasar AS.
Bantah rumor kesepakatan
Senator AS dari Michigan, Elissa Slotkin, pada Rabu (9/9), menyebut ada rumor Trump berencana mengizinkan mobil China dijual di AS sebagai bagian kesepakatan lebih besar yang sedang disusunnya. Langkah semacam itu, kata Slotkin dari Partai Demokrat itu, akan jadi "kesalahan strategis."
Trump membalas tudingan tersebut sebagai "rumor bohong belaka" dan mengaku telah menjaga kendaraan China tetap di luar AS selama ini.
Industri desak larangan permanen
Terpisah, pekan lalu kelompok yang mewakili hampir seluruh pabrikan mobil besar mendesak Kongres AS segera meloloskan undang-undang yang secara permanen melarang kendaraan China dari pasar AS.
Kelompok bernama Alliance for Automotive Innovation itu mewakili General Motors, Ford, Toyota, Volkswagen, Hyundai, Honda, Stellantis, dan sejumlah pabrikan lain, serta mendesak rancangan undang-undang itu disahkan sebelum akhir Desember.
John Bozzella, CEO kelompok tersebut, dalam surat ke pimpinan Kongres menyebut pabrikan China "tengah melakukan dumping kendaraan bersubsidi berperangkat lunak dan keras yang saling terhubung ke seluruh dunia."
(fea/fea)