Bus Listrik Fuel Cell Hidrogen Dikembangkan di Semarang

CNN Indonesia
Senin, 12 Okt 2026 19:01 WIB
Bus listrik dengan teknologi Proton Exchange Membrane) Fuel Cell Hydrogen guna memasok kelistrikan tambahan dibuat oleh Politeknik Negeri Semarang (Polines). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)
Jakarta, CNN Indonesia --

Inovasi ramah lingkungan kembali hadir di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Politeknik Negeri Semarang (Polines) mengembangkan bus shuttle listrik dengan sistem hidrogen auxiliary yang ditujukan bagi kebutuhan transportasi kampus, sektor pariwisata, serta kawasan industri.

Ketua Tim Inventor Teknologi, Prof. Ir. Yusuf Dewantoro Herlambang, di Semarang, Jumat (9/10), menjelaskan teknologi ini memadukan penggerak utama berbasis baterai dengan dukungan PEM (Proton Exchange Membrane) Fuel Cell Hydrogen guna memasok kelistrikan tambahan.

"Polines mendapat hibah dari Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yaitu dalam skema sinergi untuk membangun sebuah bus listrik fuel cell hidrogen," ujar Yusuf mengutip Antara Jateng, (12/10).

Dalam proses perancangannya, tim Polines bekerja sama dengan berbagai industri serta melibatkan program diaspora demi memperkuat skema sinergi tersebut.

Bus ini ditenagai motor Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM) berdaya 15 kW pada sistem traksi 96 V DC, serta didukung baterai LiFePO4 96 V 250 Ah berenergi nominal sekitar 24 kWh.

Sistem pendukung kendaraan ini juga dilengkapi PEM fuel cell 1 kW pada jalur 48 V, konverter DC-DC 48 V ke 12 V berkapasitas 50 A, dan baterai 12 V untuk kebutuhan instrumen seperti lampu, klakson, wiper, ECU, serta perangkat tambahan lainnya.

Yusuf menambahkan kehadiran bus tersebut menjadi representasi kendaraan masa depan yang melengkapi tren kendaraan listrik berbasis baterai melalui pemanfaatan energi gas hidrogen.

"Hidrogen dan oksigen bereaksi melalui reaksi kimia kemudian menghasilkan energi listrik tanpa melalui proses pembakaran sehingga efisiensinya kurang lebih 60 persen daripada kendaraan konvensional berbasis bahan bakar fosil," katanya.

Prototipe bus ramah lingkungan ini rampung dalam kurun waktu sekitar dua bulan dan diklaim memiliki daya tempuh hingga 400 kilometer dengan durasi pengisian daya selama 6 hingga 8 jam.

Menanggapi inovasi tersebut, mitra diaspora dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof. Ir. Dr. Edy Herianto Majlan menilai langkah Polines sudah sejalan dengan peta jalan teknologi otomotif global yang mulai melirik hidrogen, seperti langkah Toyota lewat model Mirai serta Hyundai.

"Penelitian yang dibuat di Polines ini sangat sesuai dengan perkembangan di dunia. Ini menunjukkan arah penelitian yang dilakukan Polines mengikuti tren teknologi global," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur mulai dari produksi, penyimpanan, distribusi, hingga pengisian bahan bakar hidrogen.

Ke depan, inovasi ini diharapkan mampu menjadi sarana riset strategis bagi Polines guna meningkatkan kompetensi di bidang kendaraan listrik, sistem kendali, serta manajemen energi, sembari menunggu serangkaian uji performa dan keselamatan selesai dilakukan sebelum tahap komersial.

(hjn/fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK