Tertekan China, Pabrikan Mobil Eropa Kompak Minta Dukungan

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 11:43 WIB
Volkswagen, Stellantis, dan Renault meminta dukungan pembuat kebijakan menghadapi persaingan mobil China dan transisi ke kendaraan listrik. (REUTERS/Benoit Tessier)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pabrikan mobil Eropa mendesak pembuat kebijakan berbuat lebih banyak untuk membantu mereka menghadapi persaingan dari China dan peralihan ke kendaraan listrik. Desakan itu muncul saat Volkswagen menyebut industri mobil pasar massal Eropa berada di bawah tekanan yang sangat besar.

CEO Volkswagen Oliver Blume menyampaikan hal itu di sela Paris Motor Show 2026. Ia kembali meminta regulasi yang lebih fleksibel serta insentif untuk mendukung produksi lokal.

"Model bisnis ini berada di bawah tekanan yang sangat besar di Eropa," kata Blume, dikutip Reuters, Selasa (13/10).

Blume menilai Volkswagen, Stellantis, dan Renault menghadapi tekanan yang makin besar untuk memproduksi mobil listrik terjangkau sambil menjaga biaya tetap terkendali. Menurut Reuters, ketiga pabrikan itu bersama-sama menyumbang lebih dari 60 persen produksi mobil Eropa.

Ketiganya sangat bergantung pada segmen pasar massal, yang volume penjualannya tinggi tetapi marginnya tipis.

Uni Eropa pada Jumat (9/10) mengumumkan kesepakatan yang berpotensi memangkas ekspor kendaraan hybrid China ke kawasan itu lebih dari separuh.

Kesepakatan tersebut menjawab kekhawatiran pabrikan Eropa bahwa produsen China, yang tengah menghadapi lesunya permintaan domestik dan sebagian besar tertutup dari pasar Amerika Serikat, bisa membanjiri Eropa dengan mobil murah.

Pabrikan Eropa umumnya menyambut kesepakatan itu. Namun, mereka menilai pembuat kebijakan perlu berbuat lebih, termasuk mengatasi tingginya biaya energi dan mendukung transisi ke mobil listrik.

CEO Stellantis Antonio Filosa mengatakan Eropa membutuhkan lebih banyak pabrik baterai mobil listrik.

Sementara CEO Renault Francois Provost memperingatkan perusahaannya mungkin harus memangkas produksi di Eropa sekitar 300 ribu kendaraan.

Hal itu bisa terjadi jika pembuat kebijakan tidak menunjukkan fleksibilitas terhadap target pengurangan emisi karbon 2030.

Pengiriman turun

Tekanan pada pabrikan Eropa juga tercermin dari kinerja kuartal III. BMW melaporkan pengiriman global turun 6,4 persen, sementara penjualannya di China merosot seperempat.

Stellantis mencatat pengiriman kuartal III turun 1 persen akibat penghentian produksi musim panas di Amerika Utara. Namun, pengiriman di Eropa naik 10 persen, sebagian terbantu kendaraan dari mitra China, Leapmotor.

Reuters menilai kondisi ini menunjukkan rumitnya hubungan pabrikan Eropa dan China, yang bersaing ketat sekaligus saling memanfaatkan keahlian.

Merek China hadir di Paris Motor Show dalam jumlah yang disebut sebagai rekor, seiring upaya mencari pertumbuhan di Eropa saat pasar domestik mereka melambat.

Sebagian pabrikan Eropa melawan dengan mengandalkan warisan sejarah. Stellantis memperkenalkan versi listrik Citroen 2CV klasik, sementara Polo listrik Volkswagen banyak mengambil inspirasi dari masa jaya Golf era 1980-an.

Di sisi lain, Blume tengah berupaya menuntaskan restrukturisasi yang disebut Reuters sebagai terbesar dalam sejarah Volkswagen, termasuk pemangkasan puluhan ribu pekerjaan dan potensi penutupan pabrik, di tengah penolakan serikat pekerja.

Ia menegaskan Eropa harus mengamankan basis industrinya.

"Kami tidak bisa membangun masa depan kami hanya dari laba ekspor. Bisnis kami di Eropa harus menguntungkan, tangguh, dan kompetitif," ucap Blume.

(fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK